
Malam yang seharusnya menjadi waktu tidur untuk semuanya. Justru harus terjaga seperti prajurit yang bertugas. Mei mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk keberangkatan suaminya. Dipastikan saat ini, bukan sekedar wacana lagi, tapi Lee memang akan pergi malam ini juga.
Dibantu oleh Siu yang senantiasa dibelakangnya. Mei memasangkan beberapa perlengkapan yang tentunya melindungi suaminya.
Manik Lee tampak menatap lekat setiap apa yang dilakukan oleh istrinya, langkah demi langkah manik nya tangkap, tanpa menganggu proses yang dilakukan istrinya.
"Pelindung ini akan tetap melekat disini untuk melindungi mu. Tidak ada anak panah dan goresan pedang yang sampai kesini. Dan pedang yang kuberikan ini akan menjadi saksi yang memberantas keburukan di kerajaan kita." Lee menerima pedang yang tengah berada di tangan istrinya yang berada di depan matanya.
"Aku akan kembali dengan membawa keberhasilan. Kerajaan kita tidak akan lagi menjadi pijakan bagi para pengkhianat bahkan mereka akan berpikir berulang kali. Aku akan tidak berjanji untuk pulang cepat, tapi aku berjanji pulang dengan selamat!" Mei tersenyum mendengar penuturan suaminya yang juga terdengar beberapa pasang telinga lain.
"Aku tidak meminta mu kembali segera. Tapi kembali seperti saat kau pergi." Lee memasukkan pedang nya ke dalam sarung nya dan menangkup wajah yang menemani dirinya itu.
"Tentu saja, aku akan kembali seperti ini. Saat aku pergi, jaga dirimu dan anak kita. Aku tidak ingin kau mengalami rasa sakit, karena aku juga begitu." Sebelum menemui ayahnya dan juga rakyat. Lee mengelus perut istrinya yang tengah tumbuh kembang anaknya saat ini.
"Kau dengar anakku, jaga ibumu saat ayah pergi, hmmm. Meskipun ayah tau ibumu kuat, tapi tetap jaga ibumu ya."
"Dan kau juga jaga dirimu, ayah." Mei membalas ucapan suaminya dengan menirukan suara bayi versi nya.
"Aku mencintaimu Mei." Manik Mei terpejam menikmati sentuhan lembut pada wajahnya.
"Aku juga, sangat. Majulah dan kembali seperti ksatria hebat." Sejenak keduanya berpelukan, mereka tidak tau hari esok dan esoknya lagi atau kapan bertemu lagi.
Tapi satu hal yang pasti, perpisahan mereka akan membuat merasa kembali bersama. Mei tidak ingin menjadi kelemahan suaminya, itu bukan dirinya. Tapi untuk pertama kalinya, dia ditinggalkan oleh suaminya pergi memberantas kejahatan.
Berjalan beriringan, Mei mengantarkan kepergian suaminya. Raja tampak memeluk putranya sebelum melepaskan putranya ke pertempuran skala sedang ini. "Tunjukkan pada mereka, kalau mereka telah salah bermain dengan kerajaan kita. Aku sangat percaya padamu Lee."
"Aku akan membuat mereka bahkan bibit pengkhianat baru tidak berani menginjakkan kaki mereka disini ayah. Berikan aku doa dan restu mu untuk memberikan pelajaran kepada mereka semua."
"Tentu puteraku, restu dan doa ku bersamamu selalu."
"Jaga diri disana. Ingatlah jika kau merasa baik, maka Mei juga begitu. Jantungku mengkhawatirkan apapun, meksipun aku tau, ini sedikit sulit bagimu meninggalkan istrimu di tengah kehamilan ini, tapi aku yakin.... Kau percaya pada Mei dan darah mu yang tengah tumbuh saat ini."
"Ya ayah mertua. Aku percaya.... Istriku dan anakku akan baik-baik saja dan mereka adalah kekuatanku."
"Xiong... Aku percayakan suamiku pada mu, dan..."
"Jangan khawatir Putri. Hamba akan menjaga pangeran dengan nyawa hamba. Xiong menunduk pada Mei sambil berucap, Mei melihat kesungguhan dan kesetiaan Xiong.
"Kau jangan lupa pada dirimu juga, karena... Ada, maksudnya kau berarti." Mei tersenyum karena beberapa kalimat nya tersendat karena maniknya Tengah melakukan pencarian saat ini.
"Setiap kehidupan sangat berarti, maksudnya putri begitu?" Mei hanya tersenyum mendengar perbaikan kalimat Xiong.
"Tepat sekali." Xiong tampak melangkah pergi tak lupa dengan salam pada Mei.
Manik Mei menatap Xiong yang perlahan menjauh dan tak lama ikut melangkah kesana karena pelepasan suaminya baru dilaksanakan.
Tidak ada suara, hanya ada raut wajah yang mengiringi langkah Lee dan pasukannya. Mei tersenyum dengan manik yang berkaca yang dibalas oleh Lee hingga perlahan-lahan menghilang.
"Suamimu akan kembali dengan kemenangan."
"Aku tau, dia suamiku... Dia yang terbaik!" Mei masih menatap pasukan yang masih terlihat oleh maniknya sedangkan suaminya sudah hilang dari pandangan matanya.
Langkah yang serentak terdengar seperti nada. Mereka berjalan menuju tempat pemberantasan pengkhianat itu. "Pangeran, kita akan sampai dalam tiga hari." Ujar Lee yang juga berkuda mendampingi Lee.
"Tentu, tapi jika tiga hari sepertinya dapat membuat penantian seseorang terasa lama, jadi kenapa tidak ditemui terlebih dahulu?" Ucapan Lee membuat Xiong mengerutkan tapi ketika melihat sosok di tengah gelapnya yang ditemani oleh sinar rembulan membuat wajah yang berdiri dengan penantian itu terlihat.
"Temuilah!" Titah Lee yang membuat semuanya berhenti dan Xiong turun dari kudanya melangkah dengan sepasang kakinya beberapa langkah.
"Siu....."
"Untukmu!" Siu berkata sedikit dengan tangan yang memegang sesuatu untuk diberikan pada Xiong.
Bersambung.......
Maaf ya, baru bisa up. Karena author kurang sehat. Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.