Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Pertarungan dan Penyelamatan


Goa yang tadinya terang dan menunjukkan hiasan para tahanan sekarang berubah menjadi pertarungan dan penyelamatan. Pria bernama golden itu tentu tidak terima akan kedatangan musuh di rumah nya dan memporak-porandakan semuanya.


"Habisi mereka semua!" Anak buah golden tentu bukan jumlah yang kecil dan begitu juga dengan Vanriel yang membawa pasukan bukan jumlah sedikit.


"Aku datang mengambil apa yang kau ambil tanpa izin dariku!"


"Kau pikir semudah itu raja? Kau hanya raja yang buta dengan penderitaan rakyat mu dan tertutupi oleh kemewahan serta wanita di istana." Serangan yang dilakukan Vanriel terhenti mendengar penuturan pria itu.


"Kenapa? Aku benar kan?" Cambukan ia layangkan dan membuat Vanriel memghindar hingga melangkah ke belakang bersaman dengan golden.


"Seorang raja keturunannya Kaisar Vander, baik rupa atau fisiknya. Tapi sayangnya, kepintaran dan kehebatan sang ayah dan terdahulu tidak kau warisi raja Vanriel. Kau seperti ibumu yang hanya mementingkan paras dibandingkan apapun bahkan penderitaan orang lain tentu tidak menjadi bagian kepemimpinan mu. Sangat disayangkan sekali.... Kau tau, mudah bagi kami orang asing datang dan mengambil emas serta keindahan wilayah kalian dengan kepemimpinan buta seperti ini."


"Tutup mulutmu! Beraninya kau menghina ibu dan kekaisaran ku!"


"Menghina apa? Semuanya tau akan hal itu? Kau raja yang gagal, kau gagal! Coba ku hitung warga desa yang menjadi mainan dan tenaga kerjaku..." Golden menunjukkan jarinya bak menghitung didepan wajah Vanriel.


"Satu tahun, ada 100 orang bersamaku, mereka menjadi budak ku. Sekarang, berapa tahun kau datang dan pergi dengan hanya meninggalkan harta benda saja tanpa bertanya dan menilai... Hmm? Lima ratus! Fantastis bukan?" Senyum terukir di wajahnya membuat Vanriel terdiam memikirkan itu.


Keterdiaman bak patung itu membuat keuntungan bagi golden dan selangkah demi selangkah ia berada dibelakang berserta cambukan dan ....


"Aghhh!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di luar goa, Tania memimpin pasukan yang sudah dibagi-bagi. Mereka menunggu perintah dari ratu mereka, manik Tania menatap goa yang akan mereka masuki dari beberapa langkah.


"Sebelum kita masuk, berpencar dan telusuri bagian goa ini! Jangan ada yang ketinggalan! Baik depan, belakang bahkan lubang semut pun tidak boleh terlewatkan!"


"Baik ratu!"


Rencana Tania dan Vanriel Merkea membagi beberapa kubu setelah selesai dengan desa dan pasukan Dion berserta Rola, mereka menuju goa untuk menyelamatkan tahanan serta membebaskan pemimpin besar kejahatan itu.


Beberapa saat sebelumnya...


Dion sudah tak bergerak lagi karena kepala itu sudah terlepas dari tempatnya membuat Rola terpekik keras melihat apa yang ada dihadapannya. "Aku tidak suka basa-basi dengan penghisap." Pedang Tania yang sudah ditetesi darah berubah menjadi mandi darah bahkan Vanriel melihat kegarangan istrinya yang tersimpan.


"Jangan bunuh aku..... Tolong...."


"Habisi dia ratu! Habisi dia seperti yang lainnya! Dia membawa anak-anak kami tanpa perasaan dan mengambil semua hak kami! Habisi dia ratu!" Teriakkan warga yang kesal serta amarah yang terselubung selama ini akhirnya meledak juga membuat Rola semakin ketakutan akan maut dihadapannya.


"Kau dengar Rola? Pasang telinga mu dengan baik! Mereka tidak menerima benalu di tanah mereka." Tania duduk hingga berhadapan dengan Rola yang tengah bercucuran keringat dingin.


"Ampuni aku ratu, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan mengatakan apapun yang ratu dan raja ingin ketahui, aku akan mengatakan nya." Rola bersujud dihadapan Tania disaksikan oleh semuanya.


"Aku tidak pernah memaafkan pengkhianat Rola, itu bukan sikap ku. Apa kau berpikir... Karena kau seorang perempuan aku akan menutup mata dengan pelaku kejahatan?"


"Bagaimana raja?" Tania bertanya pada suaminya yang berdiri dengan pedang mengkilap yang telah dihiasi oleh cairan merah beraroma khas.


"Jangan, aku mohon... Ampuni aku." Botol perak itu sekarang berada di tangan Vanriel dan mendekati Rola.


"Kau ingat Rola? Akting mu yang menjadi wanita tak berdaya akan ku kabulkan dengan baik. Kau akan sakit hingga tubuhmu tidak akan lagi merasakan rasa sakit, apapun. Aku sangat baik bukan? Aku memandang dirimu sebagai wanita dengan hukuman yang pantas untukmu."


Gelengan kepala Rola tidak berlaku dan membuat warga kesal bukan main sehingga warga desa yang seangkatan dengan nya membuka mulut itu hingga cairan dalam botol perak itu mengalir di kerongkongan nya.


"Selamat menikmati minumnya."


Setelah menghadapi musuh di desa, Tania serta Vanriel menuju goa dan sebelum disana, prajurit istana sudah berada disana.


"Salam untuk raja dan ratu." Ujar mereka serempak.


"Kita tidak punya waktu lagi, pakai jubah ini dan sebagian akan masuk ke goa dengan tugas masing-masing dan yang lainnya ikut dengan ratu Tania."


"Baik raja."


Sebelum Vanriel masuk, Tania mengentikan dirinya sejenak. "Ada beberapa lagi yang belum sampai."


"Aku tau, mereka sebentar lagi akan sampai jangan risau. Jaga dirimu, aku masuk dulu."


"Ingat rencananya, jangan terkecoh apapun yang ada disana, aku akan menyisir sekitaran goa."


"Hmmmm."


Flashback off.....


"Bongkar ini!" Tania berada disebuah sisi goa yang terlihat ditutupi oleh sesuatu dan segera di kerjakan oleh prajurit.


"Sekarang aku mengerti, apa yang mereka cari disini. Urus ini dan kita segera masuk kedalam!"


"Baik ratu!"


Tania menekan tuas itu dan membuat goa terbuka memperlihatkan dalamnya, Tania masuk diikuti yang lainnya tentunya dengan jubah hitam bertudung yang dibaliknya terdapat pedang mereka.


'Kenapa sepi? Dimana yang lainnya?'


"Mencari sesuatu?" Suara dibelakangnya membuat Tania berbalik.


Tania berserta prajurit nya menunduk memberikan hormat tapi bukannya jawaban malah suara tawa. "Hanya karena memiliki sayap, bukan berarti mereka adalah burung elang. Bukan begitu ratu?" Sebuah anak panah melesat dan mengenai tudung Tania yang membuat kepala nya yang dihiasi rambut hitam tebal terekspos dan begitu juga wajah nya.


"Cantik...."


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.