Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Serentak Bergerak


Malam ini terlihat berbeda, apalagi bagian makan malam yang dilaksanakan di desa kali ini. Lampu yang menyala dari obor penerangan membuat sajian yang disajikan terlihat jelas. Jika biasanya yang memasak adalah Tania beserta warga, maka kali ini Rola terjun langsung ke pertungkuan.


Tentu ada kebingungan yang melanda, dan akhirnya dijelaskan oleh Rola berserta suami dibantu keponakan abal-abal nya.


"Sebelum kita memulai sajian utama, ini adalah bubur dari susu sapi serta buah kering didalam nya." Sekarang cawan kecil itu berada di hadapan masing-masing orang, aroma dari bubur itu sungguh enak apalagi taburan buah kering di dalamnya yang begitu indah di pandang mata menambah estetikanya.


"Ini raja, ratu dan tuan putri. Silahkan dinikmati." Ada perbedaan dari bentuk sajian bagi ketiganya yaitu masalah ukuran.


Tapi beberapa waktu setelah penyajian belum ada yang menyentuh bubur itu, ketiganya berpandangan sejenak dan setelah itu Rola kembali bicara. "Tenang saja, tidak ada apapun di dalamnya. Bersih, kalau tidak percaya.... Aku akan mencobanya." Tangan Rola mengambil sendok dan mengais bubur di dalam centongan cukup besar itu.


Dan tak lama bibirnya menyambut serta lidahnya langsung bekerja disaksikan semuanya. "Tidak ada kan?"


"Rola, kami menunggu bubur nya sedikit dingin bukan seperti bayangan mu." Ucapan Tania langsung menohok Rola bak orang bodoh seketika.


"Aaaa... Begitu rupanya, mungkin aku.." Rola terlihat nyengir kuda dan sekarang gantian Vanriel yang bicara.


"Kalau begitu, ayo kita nikmati bubur ini." Dimulai dari anggota kerajaan maka warga ikut mulai menyendok bubur itu. Semuanya makan, tentu saja terlihat raut wajah yang mengutarakan rasa yang enak dari sana.


"Rasanya enak, ternyata kau pandai membuat bubur." Pujian Tania membuat Rola merasa senang.


"Terimakasih ratu."


Setelah makanan pembuka selesai, dilanjutkan dengan makanan utama yang merupakan nasi serta ikan yang berasal dari sungai mereka. "Ini makanan, dan ini minumannya." Rola dibantu keduanya menyajikan makanan dan minuman kepada semuanya.


Ketika semuanya akan makan, dari atas langit terlihat gerombolan hewan bersayap yang berdatangan dan seketika menyerang jamuan yang tengah berlangsung itu. Keheningan seketika digantikan dengan teriakan dari anak-anak yang ketakutan dan membuat semuanya berantakan. "Burung hantu!"


"Kenapa ini?" Orang dewasa segera mencoba mengusir kawanan burung hantu yang berterbangan acak dan mengacaukan semuanya.


Ditengah ketegangan itu, cahaya terlihat berkumpul. "Satukan obor nya!" Titah Vanriel yang terlihat sudah memegangi obor ditangannya dan dikuti oleh yang lain. Dan benar saja satu persatu burung hantu itu pergi.


"Mereka takut cahaya, jadi tidak perlu menggunakan kayu atau benda apapun." Masalah burung hantu sudah selesai, tapi tidak dengan jamuan makan malam.


"Astaga! Semuanya jadi hancur." Teriak Rola yang melihat makanan yang akan dimakan justru berserakan dimana-mana.


"Tidak apa Rola, setidaknya kami sudah makan bubur mu, itu sudah cukup untuk perayaan ini. Lagipula juga sudah malam." Tania bersuara membuat wanita itu menoleh padanya dengan raut kesal.


"Ratu benar, anak-anak juga sudah mulai mengantuk." Ujar seorang warga yang diikuti anggukan yang lainnya.


"Ayo Vanriel, aku juga lelah." Sayang bagi Yuri, niatnya untuk menggapai tangan Vanriel tak sampai karena sang pemilik sudah pergi lebih dulu dari nya.


"Kalau sudah lelah, cepat jalan saja." Tania ikut menambah api di dada Yuri yang membuat dirinya melangkah dengan kesal.


Sekarang hanya ketiga orang itu yang tertinggal. "Suamiku, semuanya...."


"Tidak apa, lagipula bubur sudah cukup bukan?"


"Bersiap untuk langkah berikutnya dan minum ini Rola! Atau tidak kau akan ikut seperti mereka!" Dion melemparkan sesuatu ke arah Rola yang segera ditangkap dengan baik.


"Ayo cepat, atau tidak kita yang jadi makanan!" Suaminya ikut mendesak membuat Rola segera menghabiskannya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kegelapan malam membuat langkah kaki itu tidak berhenti. Penglihatan mereka dibantu penerangan tak menyurutkan keinginan mereka. "Sedikit lagi! Dan ingat formasi kita!" Titah salah seorang diantara mereka.


"Baik!" Yang lainnya mengikuti langkah pemimpin mereka, tapi ketika menjelang gerbang masuk langkah mereka terhenti seketika.


"Jenderal, ini..."


"Kenapa bisa ada? Cepat! Bereskan!" Dengan segera mereka membasmi bebatuan dihadapan mereka.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kilatan pedang begitu terlihat apalagi dibantu cahaya disekitarnya, belum lagi dengan wajah yang tersenyum sumringah. Keheningan begitu terasa di sana, bahkan suara pintu pun tidak terdengar karena begitu kehati-hatian yang dilaksanakan.


Tidak ada bibir yang bekerja, hanya ada jari yang bergerak yang membuat Ketiganya langsung bergerak ke tempat tujuan mereka. Penjaga yang seharusnya membuka mata sekarang terlihat begitu pulas, membuat tamu yang tidak diundang itu dengan leluasa masuk.


Meskipun cahaya yang tidak terlalu terang, tidak membuat sosok di ranjang itu tidak terlihat di matanya. "Katakan selamat tinggal Ratu!" Pedang itu dengan kecepatan tinggi melayang ke sasaran nya.


Bersambung........


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.