
Surat yang ditulis oleh Lee tampaknya bukan sekedar surat menanyakan kabar atau membutuhkan keadaan. Tetapi melainkan sebuah informasi yang dibutuhkan segera. "Senjata?" Mei membaca pesan dengan seksama sambil berdiri menyapa jendela yang memberikan angin kepadanya.
Siu yang datang dan melihat Mei membaca pesan dengan seksama, hanya berdiri tak jauh dari Mei. "Siu." Panggil Mei yang membuat pendengaran Siu langsung aktif.
"Ya, putri."
"Tolong ambilkan kertas dan tintanya."
"Baik putri." Siu menuju salah satu meja yang menghiasi kamar besar Mei dan tak lama kembali dengan kertas dan tintanya.
"Ini putri." Mei langsung mengambil alat tulisnya dan menuliskan sesuatu di kertas kosong itu. Sesekali Siu mencuri pandang melihat apa yang ditulis oleh Mei disana.
Tampak Mei menggambarkan sesuatu disana yang kebanyakan tidak dimengerti oleh Siu. "Ini..." Mei meneliti beberapa kali hasil gambarnya.
Dan tak lama menggulung beberapa kertas yang telah ia isi dengan gambar lalu ia tambahkan dengan kertas yang berisikan pesan. Menggunakan tangan dengan beberapa jari nya membuat hewan bersayap itu muncul di jendela kamarnya.
"Sampaikan surat ku kepada suamiku." Setelah memastikan terikat dengan baik, burung bewarna coklat bercampur putih itu kembali mengudara.
"Siu."
"Ya putri?"
"Apa kau dapat pesan juga?" Tanya Mei yang berpikir Siu menerima pesan tersendiri dari Xiong.
"Tidak putri, tidak ada." Siu menjawab dengan seadanya, serta ekspresi yang terlihat sedikit kecewa.
Mei tampak mendekat dan tak lama sebuah tepukan tangan mendarat di pundaknya. "Jangan khawatir, dia baik. Mungkin dia tidak sempat menulisnya." Siu hanya mengangguk mendengar ucapan Mei yang menghiburnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Pangeran...." Xiong datang dengan beberapa gulungan kertas di tangannya.
Setelah cukup lama menunggu, ada balasan di sana yang membuat senyum di wajah Lee mekar.
"Terimakasih Xiong, dan seperti dugaan kita. Itu senjata rakitan yang berbahaya. Mereka merancang nya untuk hal yang buruk. Kita harus segera sampai, dan bergegas sekarang. Kalian siap?" Tanya Lee pada pasukannya.
"Aku tidak bisa ikut pangeran, tapi aku yakin dan percaya kau berhasil."
"Ya, aku akan membawa apa yang telah mereka curi darimu dan desa mu." Berpisah ala pendekar, Lee dan pasukannya menuju tempat sarang para pengkhianat.
"Pangeran, jika tidak ada halangan dengan cuaca, dua hari ini kita sampai disana." Jelas Xiong yang berada di sebelah Lee dengan kuda nya.
"Ya, dan ingat dengan rencana yang telah ku katakan sebelumnya. Saat kita istirahat nanti, kembali aku sampaikan. Dan ya, waktu istirahat kita tidaklah banyak seperti sebelumnya. Kita harus mengejar waktu."
"Baik pangeran."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Beberapa senjata tampaknya sudah dipersiapkan dengan matang. Ditambah dengan wajah yang berseri dan tersenyum manis memikirkan sesuatu.
"Bagaimana?" Tanyanya dengan salah satu senjatanya yang tengah ia poles.
"Siap tuanku, dan perkiraan mereka sampai dua hari ini."
"Lakukan rencana pertama kita. Mari kita sambut mereka dengan sambutan yang sangat baik dan tentunya tidak terduga, bukan begitu kawanku?" Menoleh pada seorang pria dengan luka yang cukup mencolok di lengannya.
"Tentu, aku ingin menyambut mereka dengan kejutan yang sangat luar biasa, bahkan membuat mereka segera ke alam baka."
"Kau bisa lakukan apapun pada mereka, tapi aku akan melakukan apapun pada wanita ku, kemenangan ku. Mei yang cantik dan sangat mengg@lrahkan. Aku akan datang sayang."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Ada apa putri?" Siu yang menemani Mei tidur di kamarnya tampak memeriksa keadaan Mei yang terlihat gelisah.
"Entahlah, tapi aku merasa sangat gelisah. Aku harap semuanya akan baik-baik saja." Merapatkan kedua tangannya, Mei memejamkan matanya sambil mengucapkan sesuatu dengan penuh harapan.
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.