
Angin yang berhembus menerpa wajah tapi tidak membuat penghalang kecantikan itu terbuka ataupun terbang bersama angin yang pergi. "Sungai... Kau pria sungai."
"Akhirnya kau mengingat ku juga." Tampak wajah Lee begitu sumringah karena mendengar jawaban wanita incarannya.
"Hanyut." Sambung Mei kembali membuat wajah Lee berubah dan begitu juga dengan pandangan nya.
"Ya, dan kau yang membawaku dari dinginnya sungai menjadi hangat dalam dekapan." Siu yang mendengar tampak berpura-pura tidak dengar.
"Aku tidak mendekap mu. Kau berpikir terlalu jauh."
"Begitu? Tapi aku merasakan kau melakukan nya. Dari sungai, hutan.... Kediaman kecil mu... Dan .... Tempat kupu-kupu berterbangan. Kau juga melakukan lebih dari itu, ingat?"
"Apa yang ingin kau katakan? Aku ingin pergi cepat." Mei tentu tau arah pembicaraan pria dihadapannya. Ingatan nya sepenuhnya ingat terutama dengan rumah kupu-kupu itu. Keduanya nyaris tak berjarak dan ia juga menjalarkan tangannya tanpa izin menjelajahi tubuh kekar itu.
"Aku ingin ganti rugi."
"Kau ingin uang? Dari gelagat mu kupikir kau seorang kaya raya. Ternyata tidak, apa kau seorang pencuri?"
"Kalau begitu menurut mu aku ini apa?"
"Katakan jumlah nya! Ini membuang waktu ku!" Mei mengambil kantong tempat uang nya berada, tapi sayangnya ketika ingin mengeluarkan kepingan emas itu ia justru tertarik dan berada dalam dekapan pria hanyut itu.
"Kau! Lepas!"
"Ayo, kau begitu lihai bela diri dan juga penuh kejutan. Ayo lakukan sesuatu." Mei yang tidak biasa dengan seorang pria apalagi dengan adegan seperti ini. Bahkan dengan Vanriel saja ia tidak pernah seintim ini.
Bagaimana tidak, bahkan keduanya bisa merasakan deru nafas satu sama lain. Satu tangannya terjepit oleh kekarnya tangan Lee dan satunya terjepit oleh pepohonan dibelakang mereka. "Aku tidak bisa mengambil uang kalau begini..."
"Aku tidak butuh uang, aku tidak miskin."
"Aku ingin yang lain."
"Aku menyelamatkan nyawa mu, seharusnya kau ingat itu! Apa begini caranya kau berterima kasih? Dan menjauh dariku!"
"Rasa terimakasih ku sudah ku bayar lunas dengan token yang kau ambil dariku, ingat? Bukan hanya itu kau juga menyentuh ku."
"Kalau begitu kita impas kan? Lepaskan aku!" Mei tampak berusaha menggerakkan tangan satunya untuk melepaskan dirinya.
"Sepertinya kau memiliki ingatan yang buruk. Kau lupa dengan seenaknya mengambil pakaian bawahan ku."
" Memang, tapi dia adalah bawahan ku. Tentu apa yang ia punya adalah hasil dari pemberian ku, sama seperti pelayan mu." Mei baru sadar, Siu tidak terdengar lagi bicara. Seharusnya gadis itu akan berkicau'meneriakkan namanya bukan? Lalu kemana gadis itu? Mei mengedarkan pandangannya tempat Siu terakhir terlihat, tapi bak angin. Gadis itu hilang ditelan bumi.
"Apa yang kau lakukan padanya?"
"Tidak ada, aku berada dihadapan mu. Tanganku hanya dua, kau pikir aku memiliki seribu tangan seperti tapak Budha?"
"Siu!" Panggil Mei.
"Dia baik-baik saja, setelah urusan kita selesai. Kau akan bertemu dengannya lagi." Mei membesarkan matanya membuat dirinya semakin mempesona dimata Lee.
"Aku suka bola matamu. Bersinar, dan menawan, kau tampak lebih cantik dengannya."
"Kau!" Sepertinya kekesalan Mei sudah berada di puncaknya sehingga satu tangannya berhasil bebas dan berhasil mengambil hairpin yang tertancap di pohon.
"Mau bermain?" Lee terlihat tidak takut, karena ini merupakan kesempatan untuknya agar semakin lama bersama dengan wanita yang mencuri hatinya itu.
Bagi Lee, amarah, rasa kesal yang tertata di wajah cantik itu adalah anugrah untuknya. Rambut panjang yang berkilau serta terbang sesekali karena sapaan angin dan pakaian yang terkembang jika dia berputar. 'Cantik.'
Mei mulai melancarkan serangannya dengan hairpin miliknya dan juga kemampuan nya. Sekarang kedua orang dengan bela diri yang hebat saling menunjukkan aksinya.
Sedangkan dibalik pertempuran keduanya, dibalik rerumputan bunga yang bermekaran terlihat adu mulut dan tangan tanpa senjata.
" Beraninya kau mengejek ku! Lihat pembalasan ku!"
"Dasar pria c@bul!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Hutan yang dimasuki oleh kuda putih itu terhenti sejenak. "Prajurit bilang disini. Tidak mungkin salah kan? Aku tidak melihat ada siapapun. Dimana dia?" Matanya menatap sekeliling.
"Apa kesana?" Ketika ia berniat ke jalur kiri, suara dentingan pedang terdengar di telinganya meksipun sayup-sayup.
"Pasti sedang latihan pedang. Ayo putih, kita kesana." Sambil menunggangi kudanya ia melangkah ke arah depan dengan mengikuti suara dentingan pedang.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.