
Diantara rindangnya pepohonan serta alunan musik dari aliran sungai terlihat sang pendeta membersihkan seekor makhluk berkaki empat nan berbulu emas. Tampak makhluk itu begitu senang dengan perlakuan pada tubuhnya. "Grrr." Kibasan bulunya menghasilkan air yang bersemayam di sana.
"Kau suka mong?" Terdengar suara tawa kecil dari pria itu.
Saat kembali mengguyur mong dengan air, terlihat mong langsung bereaksi dan justru melenggang pergi menuju belakang. "Mong!" Panggil pendeta tapi tidak diindahkan.
"Harimau....." Ujar sosok yang didekati dan diputari oleh Mong bahkan beberapa kali mendusel bagian kaki itu.
"Sepertinya dia menyukai mu, dia yang menemukan mu."
"Begitu? Kau manis sekali.... Namamu mu juga manis." Tampak Tania mengelus bulu nan basah itu serta kepala yang mengikuti elusan tangan nya.
"Kau sudah makan?" Tania mengangguk menjawab pertanyaan baba.
"Sudah, apa baba sudah makan?"
"Tentu, karena itu aku memandikan Mong sebelum sore."
Tania mengedarkan pandangannya ke segala sisi dan benar, sesuai untuk dikatakan oleh Siu. Sungai yang mengalir di hutan pedalaman serta bangunan besar yang dihuni oleh pendeta.
"Ini seperti yang dikatakannya."
"Kau mengatakan sesuatu? Apa masih sakit? Sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak." Baba tampak masih mengkhawatirkan keadaan Tania.
"Aku hanya bilang, kediaman baba sangat indah. Apa baba hanya tinggal sendiri? Maksudnya.... Selain bersama putri baba." Sambil menggosok gigi tajam Mong, baba menjawab pertanyaan Tania.
"Sendiri jika dilihat dari manusia, tapi begitu ramai jika dilihat dari makhluk lainnya. Benarkan Mong?" Mong tampak mengeram senang menjawab pertanyaan baba. Mendapatkan jawaban seperti itu, Tania sudah merasa jelas dengan apa yang terjadi.
"Kalau aku lihat, sepertinya baba seorang pendeta. Apa aku bisa...."
"Ya, tapi aku akan melakukan beberapa tes sebelum menerima mu." Seolah tau apa yang dimaksud oleh Tania, baba langsung sampai pada to the point nya.
"Tentu saja. Aku akan mengikutinya."
"Tidak secepat itu, aku akan pergi ke kota."
"Ah begitu. Tidak masalah, pasti sangat penting."
"Ya, penting. Ini undangan khusus."
"Kalau begitu, aku akan menjaga rumah baba dan bermain dengan Mong. Dia tidak akan ikut kan?"
"Tidak, dia disini. Baik ada orang atau tidak yang menjaganya, dia terbiasa sendiri. Ini alam nya."
"Benar, kita harus hidup berdampingan tanpa merusak atau menganggu tempat tinggal makhluk lainnya." Sejenak baba melihat Tania yang tidak diketahui oleh dirinya.
"Kau datang kemari, pasti ada hal yang penting. Aku yakin bukan sekedar mengembara, benar?" Tania terdiam sejenak dan hanya tersenyum simpul. Ia harus bicara dengan hati-hati karena yang dia hadapi bukan sembarang orang.
"Iya, aku mencari sesuatu. Yang sangat penting untukku. Karena itu aku juga ingin belajar untuk menghadapi hal yang mungkin membahayakan atau diperlukan. Bagaimana menurut baba?"
"Itu bagus, dan apapun tujuannya jika didasari dengan hal yang salah maka akan terlihat, begitu juga sebaliknya. Dan aku senang kau memanggilku dengan baba, kau mungkin tidak terbiasa memanggil orang lain dengan panggilan ayah selain ayahmu sendiri." Kali ini Tania tidak menjawab, ia hanya tersenyum manis karena baba terlihat melangkah masuk diiringi oleh Mong dibelakangnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Jika tahanan di penjara bawah tanah, ditemani oleh kegelapan dan kesulitan. Berbanding terbalik di dalam ruangan berisikan kemewahan dan tanpa ikatan yang menjerat tubuh kekar itu. "Pangeran, ini waktunya makan malam." Terlihat Xiong masuk mengunjungi pangeran nya.
"Aku makan disini saja. Jika disana, aku tidak akan bisa menelan apapun."
"Pangeran.... Hanya sehari besok, pangeran akan bebas lagi. Raja hanya meminta beberapa hari saja." Lee bangkit dari mager nya yang begitu nyaman.
"Beberapa hari kau bilang? Satu menit saja sangat berharga bagiku! Dan enteng sekali kau bicara begitu." Xiong menelan ludahnya melihat dan mendapatkan tatapan maut serta ucapan beracun pangeran nya.
"Bukan begitu maksud hamba pangeran." Lee mendengus dan berjalan menuju jendela yang terlihat sudah gelap berhiaskan bulan tanpa bintang.
"Kau lihat langit malam ini?" Xiong langsung menatap langit malam yang dibicarakan pangeran nya.
"Iya tuan, hamba melihatnya."
"Begitu aku, tidak lengkap tanpa bintang yang biasanya menemani ku! Kau dengar?" Xiong hanya bisa mengangguk karena virus wanitanya mulai kambuh lagi.
"Dengar pangeran. Pangeran, jangan khawatir. Kita akan menemukan nya, lagipula pangeran bilang mereka akan kesini kan? Dan pangeran juga bilang, dia seperti elang dan juga singa atau kupu-kupu. Pasti ia akan bisa terbang dari dalamnya sungai dan jeratan derasnya sungai."
"Benar, tapi seharusnya aku bisa bertemu dengannya kalau bukan karena acara ini."
Manik Xiong tampak mengikuti langkah kaki pangeran nya yang bolak-balik mengitari ruangan besar nya itu. "Lihat saja nanti! Jangankan anak pendeta atau anak siapapun. Aku tidak tertarik dengan mereka! Kau pegang kata-kataku!" Lee menggenggam tangan nya ke arah Xiong.
"Iya pangeran."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sebelum sang surya terbangun, sudah ada yang bangun terlebih dahulu. Dengan persiapan yang sudah disediakan, tampak dengan langkah kakinya ia segera melangkah keluar rumahnya. "Baba!" Sebuah panggilan membuat nya terhenti.
"Tidak, aku bangun sendiri. Aku mempersiapkan ini untuk baba, ini buatan ku dan Siu."
"Bukan, itu buatan Nona. Aku hanya membantu mengambil saja." Tampak baba tersenyum melihat adegan didepannya.
"Terimakasih, tercium sangat enak."
"Aku harap baba menyukai nya. Aku rasa perjalanan menuju kota cukup jauh. Baba membutuhkan energi yang baik. Selain itu... Aku juga menyiapkan minuman yang lainnya."
"Minuman yang lainnya?"
"Iya, sari dari beberapa buah dan sayuran. Jangan pikirkan rasanya, tapi khasiatnya."
"Baik, aku yakin itu bukan sebuah racun dari mu." Tania tampak terdiam sejenak karena sentuhan kecil di rambutnya.
"Aku pergi, jaga diri kalian. Mong, jaga mereka ya."
"Grrrgr." Tampak Mong ikut mengangguk dengan sedikit malas karena mengantuk membuat ketiganya tertarik melihat keimutan hewan berbulu itu.
"Jaga diri baba."
"Jangan khawatir, aku sudah terbiasa. Justru jaga diri kalian, karena sepertinya kalian belum terbiasa disini."
"Jangan khawatir baba." Baba kembali melangkahkan kakinya hingga menghilang dari pandangan kedua gadis itu.
"Nona, apa nona akan belajar dengan baba?"
"Iya, kau juga." Siu tentu kaget mendengar perintah yang tidak diduga olehnya.
"Apa? Aku juga? Tapi nona..." Siu langsung mengejar Nona nya dan mencobanya bernegosiasi.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Suasana di kota begitu meriah, apalagi dengan istana yang tengah melangsungkan acara pertemuan penting yang berbeda dari sebelumnya. Begitu banyak kereta kuda yang datang dan mendarat di depan istana yang dijaga dengan ketat.
"Ini sangat besar, melebihi bayangan ku."
"Kau suka putriku?" Gadis bergaun lavender itu mengangguk sambil menatap bangunan megah di depannya.
"Aku sangat senang ayah, apalagi bertemu dengan pangeran. Apakah dia akan melihatku?"
"Tentu, kau adalah putriku... Kau memiliki segalanya." Senyum gadis itu semakin terkembang mendengar ucapan ayahnya tapi perlahan memudar karena kedatangan undangan lain dengan sosok seusia nya.
"Tapi ayah.... Mereka pastinya akan menjadi saingan ku nantinya."
"Jangan khawatir, mereka diatas mu sayang."
'Kecuali putrinya... Tapi, aku tidak perlu khawatir.'
"Ayo putriku, kita masuk."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Terlihat kursi sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan juga dihias secantik mungkin. Ruangan pertemuan yang berukuran besar itu sudah sangat layak menampung orang-orang yang akan datang dan menempati disana.
Satu persatu undangan hadir dan duduk di tempat yang sudah disediakan, mereka semua menunggu kedatangan raja mereka serta yang paling ditunggu-tunggu putra sang raja yang menjadi perbincangan karena masih sendiri dan tengah mencari calon istri yang menjadi kesempatan emas bagi mereka.
"Yang mulia raja memasuki ruangan! Pangeran Lee, juga memasuki ruangan! Semuanya berdiri memberikan salam." Mengikuti arahan, semuanya bangkit dan memberikan salam kepada orang tertinggi itu.
Raja yang masih terlihat gagah dan juga begitu kekar itu pastinya banyak yang mengantri untuk menjadi istrinya, tapi kesetiaan pria itu tidak bisa disentuh. Karena itu kesempatan terbuka untuk pria gagah yang berada disisinya, wajah, tubuh serta aura dirinya menjadi hipnotis bagi gadis manapun.
"Aku menerima salam kalian semua. Dan terimakasih atas kehadiran nya, hari ini merupakan hari dimana pertemuan yang setiap tahun kita adakan. Tapi kali ini ada perbedaan sedikit, tapi aku senang dengan hal itu, dan merasa senang melihatnya."
Ketika raja melihat bangku khusus pendeta, matanya justru berhenti di sebelah kanan karena sebuah kursi terlihat kosong. "Pendeta Ming, kenapa kursi belakang mu kosong? Apa putrimu tidak datang?" Sontak semuanya melihat kesana dan langsung berbisik karena itu.
Tapi sosok yang ditanyai terlihat tenang dengan keadaan itu. "Mungkin putrinya berjalan seperti burung. Atau mengaum seperti harimau." Ucapan pelan yang terdengar biasa saja, tapi bagi orang yang berpengetahuan memiliki makna sendiri.
"Raja, sebelumnya hamba meminta maaf. Karena putriku tidak bisa hadir, dia tengah memulihkan kondisi nya. Serta menyelesaikan pelajaran yang aku berikan, surat undangan yang raja berikan, tidak kami duga secepat ini."
"Begitu rupanya, kau memang unik seperti biasanya. Baiklah, kita lanjutkan acara...."
"Maaf raja, tapi seperti yang kita ketahui... Bagi seorang pendeta, rambutnya memiliki makna tersendiri. Tapi kepala pendeta Ming terlihat kosong seperti tanah tanpa tumbuhan. Bukankah itu pertanda ada kemalangan?"
"Pendeta Ming, bisa kau jelaskan? Apa terjadi sesuatu di keluarga mu?"
"Atau putri pendeta Ming yang mengalaminya?" Tebak pria yang tak jauh darinya membuat semuanya menjadi penasaran. Hal seperti ini biasa terjadi sebelum inti acara setiap tahunnya.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.