Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Menyampaikan Hal Baik


Tubuh tegap itu memilih duduk di samping sosok cantik yang tengah tertidur pulas di ranjang empuk itu. Tak henti-hentinya tangannya mengelus perut yang terdapat benih nya saat ini, dan juga mengecup tangan sang istri yang berada di alam mimpinya itu.


Lee terus menatap dan tidak membiarkan matanya melihat ke arah yang lain selain istrinya. Sejak kejadian itu, Lee menjadi sangat takut jika tidak melihat istrinya.


"Maafkan ayah sayang, kau pasti juga sakit di sana ya? Ayah janji, setelah ini.... Ayah tidak akan biarkan kau dan juga ibumu terluka lagi. Tidak akan! Ayah menyayangi kalian berdua. Tumbuhlah dengan baik, sungguh! Ayah tidak sabar merasakan serangan kaki kuat mu." Tidak perduli dengan langit yang semakin gelap, manik Lee tidak mengantuk. Ia mengajak bayinya bicara di tenggorokan malam seperti ini.


Setelah makan bersama, Mei merasa mengantuk karena ada daun yang sengaja dimasukkan agar Mei tertidur pulas.


"Aku sangat mencintaimu Mei." Merasakan pergerakan istrinya yang seolah mencari sesuatu, Lee memilih bangkit dan naik ke ranjang yang sangat besar itu dan benar, Mei terhenti setelah menekuk dirinya.


"Selamat malam sayang, dan cepat sembuh." Ditengah sinar bulan itu, manik Lee menangkap beberapa luka yang masih menghiasi wajah istrinya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Kalau seperti ini, kita bisa dihukum." Ucapan itu sudah beberapa kali terlontar, tapi tampaknya sang pelaku pemelukan tidak mendengar juga.


"Biar saja, kita dihukum bersama. Apa seperti dinikahkan langsung?" Dengan santainya Siu mengatakan apa yang ada di benaknya.


"Kalau memang benar itu bagus, kalau tidak? Bagaimana?" Tanya Xiong yang membuat Siu berpikir sejenak.


"Kita diarak keliling dan juga kau harus menikahi ku bukan?" Baik, Xiong kalah berdebat dengan sosok yang dicintainya itu.


Setelah acara jilatan es krim itu, Siu menjadi kuat dan menahan Xiong disisinya. Bahkan Xiong tidak dapat bergerak karena pelukan itu.


"Lagipula kau lupa sesuatu." Xiong tampak mengingat sesuatu setelah mendengar ucapan Siu.


"Sungguh? Apa ya? Agh!" Xiong berteriak keras setelah merasakan gigitan di telinganya.


"Kau kenapa? Kenapa mengigit ku? Apa kau lapar Siu?" Wajah kesal Siu tampaknya semakin besar ditambah dengan pertanyaan Xiong yang terlontar itu.


"Jangan mendekat! Aku akan tidur di kamar ku!" Siu perlahan pergi meninggalkan Xiong yang masih loading saat ini.


Hingga sepasang kaki Siu sudah siap mengatakan selamat tinggal kepada pintu itu, Xiong tersadar dan segera mengejarnya.


"Siu! Ayo kita menikah!" Xiong mendekap tubuh Siu dari belakang, sehingga hembusan nafas itu terasa sangat jelas menyapa leher Siu.


"Kau masih mau kan?" Siu berbalik dan menatap wajah Xiong setelah ajakan menikah itu.


"Tentu saja! Apa kau ingin aku menikah dengan prajurit itu?" Jawab Siu dengan bibir manyun nya yang membuat Xiong gemas dan.....


Ciuman pertama mereka tampaknya dimulai lebih dulu oleh Xiong, ada keterkejutan besar bagi Siu. Tapi dirinya perlahan ikut membalas ciuman manis itu yang membuat keduanya menjadi tontonan sinar rembulan di malam yang indah ini.


"Kau sudah katakan pada pangeran Lee?" Xiong menelan ludah nya karena pertanyaan raja yang lebih dahulu ia temui.


"Belum raja, hamba berencana mengatakan nya setelah melihat kesehatan pangeran dan putri Mei membaik. Lagipula, kami belum menikah dalam waktu dekat ini, raja." Tampak Siu yang berada di belakangnya juga ikut diam.


"Kau juga Siu?" Raja beralih pada gadis itu yang langsung mendapatkan anggukan kepala.


"Saran ku, beritahu mereka lebih dulu. Mungkin Lee ataupun Mei memiliki pemikiran sendiri. Hal yang baik tidak baik ditunda. Kau sudah cukup untuk menikah Xiong, Lee pasti senang."


"Iya raja. Jika pangeran dan putri Mei keluar dari tempat pemulihan, kami akan menemuinya."


"Baiklah, aku tunggu." Xiong dan Siu memberikan hormat lalu pergi dari ruangan raja.


Sekarang keduanya berjalan ditemani rumput yang dirawat dengan sangat baik sehingga tanaman disana cantik ditambah dengan kolam ikan untuk memanjakan mata.


"Bukankah seharusnya ini waktu untuk bertemu putri?" Tanya Xiong pada kekasihnya.


"Tidak, pangeran Lee mengatakan ia akan mengurus putri tanpa bantuan ku. Lagipula ada baba juga disana."


"Kau sudah katakan pada pendeta Ming?"


"Belum, kan aku mengikuti mu." Jawab Siu.


"Astaga Siu, aku pikir kau sudah katakan. Sebaiknya kita temui pendeta Ming, sebelum beliau mengetahui dari orang lain." Baik Xiong dan Siu berjalan cepat menuju pendeta Ming yang menemani putrinya yang tengah dalam pemulihan.


"Baba aku datang......" Bukan pendeta Ming yang dilihat oleh keduanya, tetapi Mei dan Lee yang duduk seolah tau keberadaan mereka.


Bersambung.......


Sambil menunggu episode berikutnya, yuk mampir ke karya baru author!


Rosalina Untold Story


Ditinggalkan oleh calon suami sehari sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.


"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.


Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya?


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.