Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Sampai di tujuan


Ketiganya sudah tidak bisa ditanyai ataupun menjawab pertanyaan karena cairan yang menjadi komponen hidup sudah tidak ada lagi. "Mereka bunuh diri." Ujar Tania yang melihat ketiganya sudah menjadi patung yang akan dihinggapi lalat dan kawan-kawannya.


"Bagaimana bisa?" Tanya Yuri yang masih kaget dengan apa yang ada dihadapannya, dia tidak menyangka akan kejadian seperti ini.


Tania terlalu mengamati dengan seksama dan badannya terlihat menunduk tertuju pada kantong di pinggang salah satu pria.


"Ada semacam racun disini, berbentuk bubuk yang sepertinya jika mengenai kulit atau tubuh maka akan membuat nyawa melayang."


"Itu artinya..."


"Ya, mahkotanya sudah terkontaminasi racun." Yuri mau tidak mau merelakan mahkotanya.


"Tapi itu pemberian ayahku..." Yuri tampak mengadu kepada Vanriel.


"Lepaskan atau kau bisa terkena racun."


Vanriel memberikan kode pada prajurit nya yang langsung menyingkirkan ketiga mayat itu. Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan. "Ayo Ratu Tania." Ujar Vanriel melihat istrinya baru saja bangkit setelah mengambil sesuatu.


"Hmmm." Mereka kembali melanjutkan perjalanan, setelah melewati beberapa sungai dan hutan rindang mereka akhirnya sampai di gerbang yang terbuat dari kayu yang terbuka lebar membuka jalan yang terlihat tandus.


Suara langkah kaki kuda mereka terdengar sangat jelas dengan suasana yang sangat sepi. Baik Vanriel dan yang lainnya menatap semuanya dengan seksama sambil berharap ada warga tapi sayangnya tidak.


"Kemana semuanya?" Tanya Tania.


"Terus jalan!" Titah Vanriel yang membuat mereka semakin masuk dan tak lama terlihat beberapa atap rumah yang terbuat dari kayu dan dipastikan itu adalah kediaman warga desa.


Pemandangan yang menyayat hati langsung terpapar dengan jelas, bagaimana rata-rata warga tertunduk tak berdaya dipastikan tanpa tenaga. "Raja..." Satu orang mengangkat wajahnya dan diikuti yang lainnya dengan sekuat tenaga.


Tampak wajah mereka disinari harapan kecil dengan kedatangan junjungan mereka pemimpin negeri mereka. Perlahan mereka mencoba bangkit tapi tidak bisa. "Berikan air nya!" Tania memberikan perintah dan langsung saja air yang dibawa sejak tadi dan tentunya dalam jumlah besar itu seperti kehidupan bagi mereka.


Wajah yang tadinya sangat layu dan lemas itu berubah sedikit menjadi sedikit berseri dan dapat tersenyum. Tenggorokan mereka yang terasa gersang sudah mulai dialiri.


"Tidak, kau masih hidup. Ini minumlah lagi." Tubuh kecil itu bangkit dan kembali minum yang diberikan Tania.


Sedangkan Yuri yang melihat Tania sudah bertindak tentu tidak mau kalah, saat mengambil sebotol air ia dikejutkan dengan tarikan di baju nya yang terlihat tangan kotor dan kering kerontang. "Aghhh!" Pekik nya membuat yang lain menatap dirinya.


"Ini minumlah nenek." Vanriel langsung mendekati nenek tua itu yang hampir kehilangan nyawanya.


"Maaf, aku terkejut." Yuri tentu sebaik mungkin harus menunjukkan sikap yang baik dan peduli padahal dalam hatinya, ia sangat jijik melihat wajah dan keadaan warga yang seperti mayat hidup itu.


'Mereka pasti tidak mandi berhari-hari dan sangat bau!' Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya berani mengatakan dalam hatinya.


Setelah memastikan semuanya mendapatkan air, Tania mulai mengelilingi desa yang terjangkau dalam matanya, sedangkan prajurit membangun tenda untuk junjungan mereka.


Yuri duduk sambil setengah hati memberikan air. Saat asyik mengamati dan berkeliling Tania dikejutkan dengan langkah kaki seseorang dibelakang nya. "Apa yang kau lihat, ratu?"


"Apa disini ada sumur?" Bukan menjawab, Tania justru bertanya.


"Ada, tapi berada di belakang dekat perkebunan warga." Tania segera melangkah membuat Vanriel cukup lama terpaku dan segera menyusul setelah melihat istrinya pergi.


Tania kembali mengamati semuanya, hanya ada padang yang sangat tandus dan kering, bahkan terasa sangat panas. Dan disana terlihat ada lubang yang dikatakan Vanriel sebagai sumur. Tanpa Tania ketahui ada dua pasang mata yang mengamati dirinya.


"Apa itu sungguh dia?" Tanya pria satunya.


"Ya, luar biasa bukan?" Ujarnya sambil terus menatap sosok Tania.


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.