Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Lim!


Suara perjuangan masih terdengar, Mei yang didampingi oleh suaminya berjuang melahirkan bayinya. Tabib memandu dirinya agar proses kelahiran ini lancar.


Telinga Lee menyimak dengan lekat suara istrinya dalam melahirkan anak mereka. Cengkeraman tangan Mei membuat luka di tangannya yang tidak dipedulikan oleh Lee. Matanya justru melihat pengorbanan dan perjuangan istrinya saat ini.


"Aku yakin kau bisa, istriku."


"Aghh!" Mei mengejan dengan keras dan terasa tubuhnya seolah terbelah menjadi dua, kamar itu akhirnya ditemani oleh suara yang ditunggu-tunggu kedatangannya.


"Selamat pangeran! Seorang putra!" Lee dapat melihat dengan jelas putranya yang baru saja dilahirkan segera dibersihkan.


Sembari tabib membersihkan putranya, Lee menyingkirkan keringat yang menetap di wajah Mei, perlahan Lee mengatakan ucapan terimakasih atas perjuangan Mei.


"Terimakasih sayang, terimakasih."


"Bayiku...." Dengan lemas, Mei mencoba mencari keberadaan putranya.


"Ini pangeran." Lee menerima putranya dan perlahan diberikan kepada Mei yang sudah tidak sabar dan wajah yang lelah itu perlahan tersenyum ketika merasakan dan melihat wajah bayinya.


"Putraku...."


"Dia seperti mu." Ujar Mei yang melihat rupa putranya.


"Tapi bibirnya seperti mu." Ujar Lee yang melihat putranya mendapatkan kehangatan dari ibunya.


"Putri sudah bisa menyusui." Tidak ada hambatan dari sumber kehidupan yang siap diberikan oleh Mei.


Pelayan disana sudah selesai membersihkan Mei dan sekarang hanya tinggal kedua orang tua baru itu. "Terimakasih, terimakasih sudah berjuang melahirkan putra kita."


"Aku juga, terimakasih. Karena berada di samping ku." Mei memejamkan matanya menikmati kecupan kecil di kening nya.


"Raja dan pendeta Ming memasuki ruangan!" Mei dan Lee melihat ke arah pintu masuk dimana baba dan mertuanya menuju mereka.


"Mei, putriku. Baba merasa khawatir."


"Kau baik-baik saja Mei?" Mei mengangguk membuat kedua pria itu merasa tenang.


"Kau sudah jadi seorang ayah sekarang."


"Sangat tampan, siapa namanya?"


"Lim! Itulah namanya." Jawaban Mei membuat mata mereka kembali bertemu dan tersenyum sambil menatap.


"Cucu ku Lim! Dia lahir di saat musim dingin, hatinya akan seputih salju dan tubuhnya seperti es. Matanya akan memancarkan hawa dingin yang membuat musuhnya takluk dan takut. Dan dia juga bisa memberikan kehangatan bagi siapapun yang baik. Dia perpaduan sempurna kalian berdua."


Istana langsung suka cita menyambut kelahiran pangeran kecil mereka yang tentunya akan menghiasi istana dengan tangisan serta kelucuan nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Xiong mengatakan aku memiliki saingan sekarang, entah apa maksud ucapannya. Dia membuat ku kesal saja." Adu Lee pada istrinya yang berada di ranjang setelah menidurkan putra mereka.


"Kenapa dipikirkan? Dia memang begitu kan? Sejak kapan suamiku ini jadi memikirkan itu?" Ujar Mei sambil menatap wajah tampan suaminya.


"Sejak menikah dia sering mengajak ku berdebat hal yang tidak penting." Mei hanya terkekeh sambil beberapa kali menelusupkan wajahnya ke dalam pelukan Lee.


"Dia dan Siu juga akan memiliki anak. Mungkin dia ingin bertanya tapi tidak terlihat bertanya, sehingga dia mengajak mu berdebat sayang."


"Sudahlah, lupakan itu. Lihatlah putra kita, kalau dia tersenyum pasti seperti mu Mei."


"Ya, dan kalau dia menatap nanti dia akan seperti mu. Dia hanya mengambil bagian kecil dariku." Ucapan istrinya membuat Lee tertawa kecil.


"Karena dia putraku, putra kita. Sudah malam, tidak mau tidur?" Mei menggeleng karena belum mengantuk meksipun dirinya merasa lelah.


"Aku belum mengantuk. Kau sendiri?"


"Aku tidak mengantuk, aku akan menjagamu dan anak kita. Tidurlah, kau sudah berjuang hari ini sayang." Mei tidak menjawabnya, dia memeluk dan merasakan kehangatan suaminya yang membuat dirinya akhirnya tertidur pulas dalam dekapan Lee.


Sedangkan Lee yang mengetahui istrinya sudah tertidur memperbaiki posisi tidur istrinya. "Selamat istirahat sayang, dan putraku.... Ayah akan menjaga mu dan ibumu, ayah sangat menyayangi kalian berdua. Kalian adalah cahaya baru bagi ku." Lee mengayunkan ayunan bambu putranya yang membuat Lim tertidur pulas ditengah sang ayah yang terjaga.


Perasaan Lee tidak terlukiskan sekarang, dia merasa sangat bahagia dengan kelahiran bayinya dan keselamatan istrinya yang telah berjuang keras.


Bersambung.......