
Pagi ini meksipun tampak cerah tapi tidak tau dengan hati yang tinggal di istana besar itu, perlahan mereka semua berkumpul di aula pertemuan dan lebih lagi bukan hanya para istana tapi juga para rakyat yang turut hadir.
"Ratu..." Siu mengikuti langkah Tania menuju ruang pertemuan.
"Aku tau, kita lihat saja. Jangan berpikiran apapun, bersikap biasa saja." Siu mengangguk patuh meskipun dilarang tapi otaknya tetap bekerja memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.
Dan benar saja, suara penyambutan Tania memasuki ruangan telah dipenuhi oleh yang lainnya. Tidak tau pikiran penghuni disana, Tania memberikan salam kepada semuanya dan duduk di kursinya.
Suasana kembali tampak hening,kali ini dibagian tempat duduk raja ada yang berbeda karena disampingnya terdapat tempat duduk Kaisar yang tampak gagah berbeda dari sebelumnya.
"Rakyat sekalian, selamat datang di pertemuan ini. Kali ini aku Kaisar Vander akan memegang kendali di pertemuan ini." Suara kaisar terdengar lebih bass dibandingkan putranya Vanriel.
Rakyat mendengar sambil dalam keheningan dan hanya menunjukkan anggukan kepala saja. "Mungkin ada yang bertanya ada apa gerangan mengenai pertemuan kali ini dan semuanya akan terjawab, karena itu kita mulai saja." Suara dentuman terdengar setelah dipukuli oleh sang pria yang menjabat disana.
"Pertama sekali, aku akan menyampaikan berita bahagia atas kejayaan desa yang selama beberapa tahun ini akhirnya terselesaikan dengan baik. Tak luput dari raja, ratu Tania serta prajurit dan warga disana yang bekerja sama sehingga dalang sebenarnya dapat ditemukan. Pria asing itu akan dihukum dihadapan kalian semua sebagai bukti bahwa siapapun yang berniat ingin berbuat kejahatan maka akan mendapatkan konsekuensinya sendiri di kerajaan kita." Langsung saja terdengar tepukan tangan dan sorak gembira mengagungkan slogan kerajaan mereka.
"Prajurit!" Diantara apitan prajurit itu ada sosok pria dengan keadaan yang selayaknya dipertontonkan di hadapan mereka semua.
Tiang gantungan beserta algojonya siap melaksanakan tugasnya hanya menunggu perintah Kaisar saja. "Dan saksikanlah rakyat ku sekalian, penjahat yang datang serta berani menghisap kehidupan rakyat ku, akan berada dalam kematian! Gantung dia!" Adegan yang terkena sensor jika di tayangkan di film itu disaksikan oleh semuanya, napas yang tadinya dapat dihirup dengan bebas sekarang tidak sampai lagi hingga akhirnya golden tiada.
Para rakyat bersorak gembira atas detik-detik live kematian pria itu. Mereka kembali melaksanakan fokus kepada kaisar mereka. "Dan berikutnya, adalah...... Atas pemikiran serta keberanian ratu Tania yang membantu raja Vanriel putraku dan artinya melaksanakan tugasnya dengan baik, aku berikan surat hak istimewa kepadanya yang berstempel istana. Dengan ini apapun permintaannya akan dikabulkan oleh ku dan tidak bisa dihalangi oleh siapapun."
Ada sorak gembira serta kasak-kusuk mengenai permintaan ratu Tania yang mungkin bermacam-macam di pikiran mereka. Mata Kaisar yang sejak tadi tidak melihat kearahnya sekarang menatapnya dan membuat Tania seolah tau.
"Dan hak istimewa itu sudah diminta langsung oleh ratu Tania, dan dia harap tidak ada perdebatan akan keputusan nya ini."
Para rakyat tentu penasaran dengan permintaan ratu mereka itu, dan ada yang menduga mungkin meminta Tuan putri Yuri pergi dari istana ini, karena ada desas-desus mengenai hal itu.
"Terimakasih atas hak istimewa yang kaisar berikan untukku, dan kepada rakyat sekalian aku merasa senang mendapatkan kasih dan cinta kalian, aku harap tidak akan ada yang berubah setelah ada atau tidaknya diriku disini. Aku ratu Tania meminta kepada kaisar agar pergi untuk melakukan perjalanan ku dengan batas waktu yang belum diketahui. Dan seperti yang diketahui bahwa itu akan membuat posisi ratu kosong, pasti banyak yang bertanya apakah ini ada kaitannya dengan desas-desus orang ketiga?"
Semuanya berbisik-bisik dan Tania dapat melihat keluarga istana terkejut dengan cara penyampaian permintaannya yang berbeda. "Ini tidak ada dengan kaitan apapun, selain dengan keinginan ku sebelum datang kemari dan menjadi istri serta ratu istana ini. Janji yang ku buat ketika masih berada di tempat asalku, aku ingin memenuhinya setelah berhasil membawa kebahagiaan bagi istana dan rakyat kerajaan. Perjalanan untuk menuju tempat suci dan mengabdi disana beberapa waktu."
"Apa ratu akan diceraikan oleh raja? Lalu bagaimana posisi ratu?" Seorang rakyat bertanya dan mengundang pendapat yang lain. Tapi satu tangan Tania membuat semuanya kembali terdiam mendengarkan.
"Jika ada yang berpikir orang ketiga itu adalah Tuan putri Yuri, maka kalian semua salah. Akulah yang datang diantara mereka, dan kalian tentu juga tau akan hal itu, lalu apakah aku tidak mencintai raja? Raja berhak dicintai tapi ia tidak bisa membagi rasa cintanya kepada siapapun selain rakyatnya yaitu kalian semua. Tidak ada wanita yang ingin membagi cintanya dengan wanita lain, apakah aku benar? Jika ada yang ingin dan bisa, maka angkatlah tangan kalian!" Hening, tidak ada siapapun yang mengangkat tangan mereka.
"Aku tidak ingin ada masalah di kerajaan suatu saat nanti karena perihal cinta yang dibagi dengan dalih keadilan. Itu tidak akan bisa, mungkin sangat mudah dikatakan di awal, tapi sangat sulit dilakukan. Aku pergi bukan karena dorongan siapapun, ayahku adalah seorang penjaga kuil, kalian tentu tau. Tapi ia tiada sebelum melaksanakan tugasnya, aku sebagai anak satu-satunya akan melanjutkan tugasnya, karena itu setelah melihat kerajaan serta kalian aku merasa siap dengan keputusan ku. Apakah seorang anak tidak boleh melakukannya, meskipun ayahnya tiada dan hidup di keluarga barunya?"
"Kalau begitu apakah ratu akan kembali lagi kesini?"
"Ratu Tania sejak datang kesini sudah menjadi putriku, meskipun ia tidak bisa menjadi istri lagi dan menantu tapi ia adalah putriku." Begitu lantang kaisar mengatakannya sehingga membuat Tania tersenyum kecil.
"Ini adalah rumahnya dan tidak ada yang melarang nya untuk pulang, aku menerima permintaannya akankah rakyat ku juga?" Cukup lama keheningan terjadi dan dianggap pemberontakan secara halus, tapi nyatanya tidak.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Dari dalam mimpinya, Tania didatangi oleh seorang wanita yang jelas ia kenali. "Kau?"
"Maaf, karena aku kau terjebak di sini."
"Katakan, bagaimana caraku untuk kembali? Aku ingin pulang? Apa alasan mu membawa ku kemari?" Wanita itu adalah Tania yang asli, ia tampak kikuk menjelaskan pada Meysa.
"Untuk itu.... Awalnya aku ingin mendapatkan cinta Vanriel, tapi setelah melihat mu mengambil tubuhku dan hidup dengan peran itu, aku tersadar sesuatu...." Meksipun cukup bosan dan penuh air mata, Meysa mendengarkan Tania bercerita hingga akhirnya selesai.
"Aku senang mendengarnya, tapi katakan padaku.... Bagaimana aku pulang?"
"Kau ingat tempat aku membawamu?"
Meysa tampak berpikir mengingat. "Ya, kamar dengan hiasan bunga mawar. Meksipun sudah layu dan kering aku tau dengan jelas."
"Maka carilah lagi ruangan itu."
"Kau tau kan? Katakan padaku!"
"Disini tidak ada, kau harus mencarinya sendiri."
"Yang benar saja! Ada berapa kerajaan di sini? Kau ingin aku mati!"
"Aku hanya bisa berikan sedikit bantuan saja. Antara tiga kerajaan, yaitu kerajaan angin, sungai dan laut. Aku tidak bisa membantu lebih lagi." Sungguh Meysa rasanya ingin menjambak dan memukul wanita ini.
"Kau membuatku gila!"
"Maaf, tapi aku yakin dengan kemampuan mu. Aku bahkan tertawa melihat Ibu suri dan orang yang menyakitiku mendapatkan balasan darimu, aku yakin kau bisa. Dan siapa yang tau, kau mungkin tidak akan..."
"Pokoknya aku mau pulang! Kau pasti punya sesuatu kan? Ayo bantu aku!" Karena didesak akhirnya Tania mengeluarkan sesuatu dari kantong baju nya.
"Baiklah, tapi ini hanya bantuan terakhir. Aku punya dua pilihan, kanan atau kiri."
"Apa-apaan ini?"
"Pilih saja dulu, maka akan keluar jawabannya." Meysa menatap pilihan diantara tangan kanan dan kiri Tania yang akan membantunya untuk pulang.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.