Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Terpojok


Mata jahat itu masih terus menatap wajah dihadapannya saat ini, gerai rambut hitam tebal tepat di matanya. "Wah, aku tidak menyangka akan kedatangan ratu yang menjadi perbincangan hangat yang tidak padam."


"Aku juga tidak menyangka bertemu dengan sosok kepala gembalanya, apa luka itu belum cukup untukmu?" Saling berhadapan tidak membuat Tania gentar sedikitpun membuat golden semakin tertarik.


"Kau tau Ratu... Saat ini kau berada di wilayah ku, tanpa istana, tanpa raja, tanpa rakyat mu dan tanpa seluruh pasukan mu."


"Apa kau juga tau, kau hanya seorang penumpang yang tidak tau diri datang dan mengambil harta benda disini. Kau bukan apa-apa, seorang penjajah tidak ada tempat disini!"


"Mata itu, aku suka. Mau bermain ratu? Atau kau masih tidak sadar bahwa raja mu tidak disini."


Manik Tania yang memindai serta terlihat sedikit pergerakan dari prajurit membuat golden semakin tersenyum lebar. "Mau lihat dulu? Mungkin akan membuat kalian lebih baik menjadi patung."


Tepuk tangan golden membuat beberapa orang muncul membawa Vanriel yang tidak sadarkan diri. "Bagaimana? Sayang sekali... Raja ini mudah tidur, atau ia sering begitu ketika habis bertempur di ranjang?"


Wajah santai golden berubah ketika layangan jarum kecil menyentuh kulit bertubuh besar itu. "Tidak sabar rupanya. Baiklah kalau begitu, serang mereka!" Anak buah dengan sifat bertolak belakang itu saling menyerang meninggalkan pimpinan mereka.


"Aku berikan pilihan, jadi milikku maka aku akan bebaskan mereka. Bagaimana?"


"Dalam mimpimu!" Tania memberikan serangan dan ditahan oleh golden. Pertempuran tidak terelakkan lagi dan bunyi dentingan pedang serta teriakan semangat maupun kesakitan bercampur aduk.


Dibalik adegan pertempuran itu, tepatnya di kandang berisikan tahanan telinga mereka menjadi tajam dan diikuti manik mereka. "Prajurit istana." Ujar salah seorang yang membuat yang lain berusaha menoleh.


"Iya, kau benar. Mereka menemukan kita?" Ada guratan kebahagiaan melihat kedatangan prajurit istana.


"Tapi.... Lihat, mereka kesulitan." Pergerakan rantai menimbulkan bunyi karena keinginan bebas.


"Apa yang kau lakukan En?"


"Apalagi, membebaskan diri. Kalian ingin seperti ini? Kita harus membantu prajurit istana. Tajamkan pendengaran kalian dan mereka menyelamatkan kita. Ayo berjuang!"


Tentu saja yang lain juga merasa bingung karena pergerakan mereka terbatas belum lagi tubuh mereka yang lemas sering diberikan pukulan tanpa sebab.


"Kita tidak bisa, lihat! Bagaimana cara lepas?"


"Bantu aku! Lihat itu!" Ujar En yang membuat tahanan lain melihat ke arah nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Mata kaki Tania tidak membuat dirinya tetap berdiri karena sepanjang langkahnya ada hiasan kecil yang merupakan hiasan ala golden yang membuat dirinya terjatuh.


"Eugggh."


"Masih sanggup Ratu? Lihatlah, peluh membasahi pipi dan wajah cantik mu ini. Sangat disayangkan sekali, seharusnya dibasahi kecupan ku."


"Aghhh!" Pekik keras langsung terdengar dari bibir golden karena rudal pencetak keturunannya sedang dihantam kesakitan melebihi sabetan pedang yang membuat dirinya terjatuh sambil meraung-raung.


"Bagaimana rasa tendangan ku? Seharusnya kau menjerit kenikmatan bukan?" Tania meletakkan pedangnya di leher golden dengan raut yang masih terlihat kesakitan.


"Berhenti atau kepala pimpinan kalian lepas dari tempatnya!" Sontak saja perlawan lawan berhenti karena melihat pemimpin mereka tertawan.


"Golden!"


"Sekarang aku yang mengendalikan! Jangan macam-macam, aku tidak bermain dengan kata-kata ku. Jika golden kalian bisa melakukan cambukan maka aku tebasannya." Tidak ada yang bergerak, Tania menyuruh salah satu prajurit mengikat pria itu dengan rantai.


"Habisi mereka!" Manik golden membulat ketika orang yang dilatih nya dihabisi dihadapannya sendiri.


"Iblis wanita..."


"Ya, kau bisa bilang begitu padaku. Aku suka, mata yang berani menatap rendah diriku tidak aku sukai!" Sebuah sayatan kecil menambah indah koleksi luka golden.


"Bebaskan mereka!" Suara pintu kurungan terbuka diiringi dengan langkah yang begitu lemah dihiasi wajah yang sungguh kasihan.


"Raja...." Vanriel mulai sadar dan dimatanya terlihat Tania lebih dulu.


"Tania...."


" Kau baik-baik saja raja?" Manik Vanriel mulai mengedar ke seluruh ruangan dan terlihat cairan darah dengan aroma khas dan wajah warganya dihadapannya.


"Kalian...."


"Terimakasih raja." Semuanya serempak mengucapkan terimakasih karena sudah bebas.


Manik mereka beberapa kali menatap Tania yang membuat wajah cantik itu tersenyum kecil. "Dia ratu Tania." Sekali lagi mereka menunduk mengucapkan terimakasih banyak.


"Berdirilah... Kalian butuh makanan dan minum sekarang. Prajurit!"


Kaki Vanriel melangkah menuju golden yang sudah meringkuk dengan rantai di tubuhnya. "Kau akan mendapatkan hukuman setimpal di istana, bukan disini! Prajurit kurung dia seperti hewan!"


"Baik raja!" Tatapan membunuh tahanan semakin terlihat jelas menatap golden yang dimasukkan kedalam kurungan.


"Dia akan mendapatkan hukuman di istana, kita akan bersiap ke desa, kalian masih sanggup?"


"Masih raja."


"Kau terluka...." Vanriel baru menyadari Tania yang terluka dibagian bibirnya.


"Aku tidak apa, ngomong-ngomong.... Ada emas disini, itu alasan mereka kemari." Vanriel tentu saja berhenti melangkah mendengar ucapan Tania.


"Aku sungguh dipermainkan." Kuda membawa keduanya kembali ke desa bersama warga yang menjadi tahanan.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Disisi lain, Yuri berteriak meminta pertolongan karena kepala desa berniat melakukan sentuhan haram untuknya. "Pergi! Dasar b@jingan!"


Kepala desa hanya tertawa karena sesaat sebelum pertempuran, ia mengatakan pada Yuri untuk mengambil minuman permintaan Vanriel dan dipastikan ia tidak tau rencana penyerangan dan pembebasan yang dilakukan Tania serta Vanriel.


"Teriak lah tuan putri. Daripada menjerit kesakitan lebih baik menjerit kenikmatan bersama tuan putri. Sangat disayangkan tubuh mulusmu tergores pedang, aku tidak bisa. Jadi lebih baik kita bersenang-senang!"


"Aghhh! Vanriel!"


Ketika tangan kotor itu mendekati tubuh Yuri, sebuah sabetan pedang membuat kepala desa langsung tumbang dan manik Yuri membulat disertai pelukan meminta perlindungan.


"Kakak!"


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.