Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Perjalanan Dimulai


Pintu itu terdengar ada yang membuka padahal sekarang bukan waktunya, merasakan kehadiran seseorang yang jelas akan mendatangi nya, senyum di wajah cantik itu terbit menyambutnya. "Apa Tuan putri Yuri begitu tidak sabar, sehingga tidak dapat menunggu?"


"Apa kau pikir, aku akan berterimakasih atas apa yang kau lakukan? Sejak awal memang begitu seharusnya. Jadi jangan berpikir aku akan berterimakasih padamu dan kau sepertinya orang yang suci melepaskan cinta nya demi kebahagiaan yang dicintainya."


"Kau tau tuan putri? Kadang sebuah gelang bukannya tidak sesuai di tangan manapun, ia sama saja bukan? Hanya saja terkadang itu membuat sang pemakai menjadi sakit dan alergi, jadi daripada membuat rasa sakit atau keburukan lebih baik dilepas saja."


Sebelum Yuri bicara kembali, Tania langsung bicara. " Lagipula, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Vanriel, dan jujur saja.... Aku tidak bisa tinggal bersama pria yang berniat memiliki dua istri dengan dalih cinta dan keadilan." Mata Yuri membulat karena mendengar hal itu, langkah kaki itu kembali mendekat dan sekarang bibir merah alami itu berada tepat di telinga bangsawan itu.


"Dan aku tau, kau seorang wanita yang baik. Hanya saja karena tertutupi persaingan dan rasa sakit hatimu, kau berubah menjadi begini. Sekarang, aku akan pergi, dan tentu kau bisa bertindak sebagaimana seharusnya bukan? Rakyat tidak butuh rupa seorang ratu saja, tapi juga tindakannya. Dan yang terpenting cintai rakyat sebagaimana cintamu pada raja." Tania yang sudah bersiap dengan barang bawaannya segera melenggang dari sana.


Langkah Tania menuju gerbang istana ditemani dengan semua prajurit yang menunduk serta pelayan. Dari jalan keluar kamarnya selalu ada sosok yang menunduk untuk nya. Hingga akhirnya di depan gerbang istana, semua rakyat sudah berkumpul mengiringi kepergian wanita yang merubah diri mereka dalam bertindak dan berpikir.


"Para rakyat mengiringi kepergian mu, mereka sangat mencintaimu."


"Aku juga begitu, dan setelah aku berada disini, aku mendapatkan cinta seorang Ayah meskipun yang lainnya belum menerima ku. Aku senang.... Ayah lebih baik dan terlihat sehat, tetaplah seperti ini. Atau kalau tidak, aku tidak akan berkunjung kemari." Kaisar hanya mengelus rambut hitam yang sebentar lagi tidak akan bisa ia sentuh lagi.


"Kau sudah yakin?"


"Iya, apa yang aku ambil maka harus diselesaikan."


Kaisar menatap ke arah putranya yang sejak tadi mengamati interaksi keduanya. "Kau bertanya padaku untuk siapa hatiku berdegup bukan? Aku tau kau sudah tau jawabannya." Pertama kalinya Meysa dalam balutan Tania tersenyum yang tidak pernah pria itu dapatkan lagi.


"Dan kau tidak perlu menjawabnya, aku menunggu yang lain." Perlahan tangan Vanriel mulai menapaki kepala Tania dan menuju barisan rambut yang lebat tergulung indah itu.


"Hari ini, ratu Tania bukan lagi istriku. Ia juga bukan pria yang ditinggalkan oleh suaminya atau tidak diharapkan, tapi tetap murni seperti sebelumnya." Tangan kekar itu, memperlihatkan lambang pernikahan yang dipakai oleh sang istri dalam bentuk tusuk konde emas yang berlambang dua naga dengan permata hijau disana. Sekarang itu sudah terlepas dari rambut yang ia sentuh dua kali yaitu di hari pernikahan paksaan dan hari ia melepaskan nya.


Ibu suri hanya menatap tanpa mengatakan apapun, karena ia tidak ingin dengan itu. Bukankah menonton lebih baik. Tapi sepertinya ia berubah haluan dan mendekati Tania. "Semoga perjalanan mu baik dan sampai dengan selamat."


'Dan semoga kau tidak pernah lagi datang!'


"Dengan ini, putriku Tania akan melakukan...." Kaisar berhenti bicara ketika tangannya digapai Tania dan dipasangkan sesuatu.


"Ini adalah gelang buatan ku, didalamnya ada seranting kecil daun pohon yang Ayah tanam di istana. Ini melambangkan kepemimpinan Ayah."


"Lalu ini?" Tunjuk nya pada kelopak bunga teratai didalamnya.


"Ini seperti ku, aku akan berada dan berteduh di bawah ranting ayah. Seperti ayah yang melindungi ku. Dan lihat, aku juga punya! Ini seperti penghubung kita dan pengingat ku, Ayah suka?"


"Suka, apa jika ayah mengguncangkan nya kau akan datang?" Tania hanya tersenyum dan kaisar melanjutkan ucapannya.


"Aku juga akan ikut dengan nona Tania!" Siu yang sejak tadi tidak menampakkan batang hidungnya sekarang berada di hadapan semuanya.


"Kaisar, hamba memohon untuk ikut dengan nona Tania, tolong izinkan hamba!" Siu memohon izin dihadapan Kaisar.


"Tania....." Kaisar langsung menyapa orang yang akan memutuskan untuk gadis itu.


"Baiklah..."


"Aku sayang nona!" Siu memeluk tubuh Tania membuat suasana yang haru langsung berubah humoris dan kaget dengan adegan dihadapan mereka.


Mata Tania langsung bermain dan membuat Siu langsung melepaskan pelukannya. "Mari Nona, kita berangkat."


Kepergian Tania dilepas tanpa banyak kata karena sebelumnya ia sudah banyak bicara di aula pertemuan. Hingga gerbang istana itu tidak lagi terlihat dan begitu juga dengan semuanya yang tidak lagi melihat Tania.


'Dan jawaban itu tidak akan berubah.'


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Suara langkah kuda begitu terdengar jelas dengan jalur yang dilintasi oleh Tania, dibelakangnya ada Siu yang bak anaknya yang akan diantarkan ke sekolah. "Nona!" Pekik Siu yang kaget dengan tindakan Tania.


"Kalau kau ikut denganku, maka kau harus siap dengan makanan mentah dan juga berjalan jauh tanpa perawatan seperti di istana! Tidak perlu berpura-pura lagi, katakan yang sebenarnya."


"Tentu saja aku ikut dengan nona, aku ini dayang setia nona. Meksipun nona bukan ratu lagi aku akan tetap bersama nona, dan nona sudah mengizinkan ku kan? Aku tidak akan membiarkan nona pergi sendirian. Nona seperti kakak perempuan ku, membuat ku kuat dan tidak lagi ditindas.... Meksipun nona ingin membunuhku aku tidak akan pergi." Bukannya Tania tidak suka, tapi mengingat perjalanan yang akan ditempuh tentu tidak akan terbiasa bagi Siu.


"Kau yakin? Ini tidak mudah Siu... Kita tidak tau apa yang akan dihadapi nantinya."


"Yakin, aku ini sudah berlatih dan nona ada bersamaku juga. Bukankah sesama saudara saling melindungi? Apa Nona tidak suka dengan panggilan ku?" Tidak ingin ada air mata nantinya melihat mata yang berbinar-binar itu, Tania melengos ke arah lain.


"Ayo cepat naik! Kita harus keluar dari wilayah ini segera!" Siu kembali naik ke tunggangan setelah terjatuh karena ulah Tania.


"Nona, kita akan kemana?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibir Siu.


"Kerajaan sungai!" Mendengar nya membuat mata Siu membola dan sedikit gagu bicara.


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.