
Dirasa perjalanan sudah cukup, Tania memutuskan untuk beristirahat dan membiarkan kudanya menikmati air sungai yang menjadi pemberhentian pertama mereka.
Dataran yang cukup landai meskipun dikelilingi oleh bebatuan setidaknya dapat membuat mereka beristirahat dengan baik. "Nona, aku lihat ada pohon jambu disana, aku akan petik beberapa untuk kita." Tania melihat arah tunjuk Siu dan mengangguk setuju membuat gadis itu segera melangkah ke sana.
Suara aliran sungai bak musik bagi Tania, tentu saja ini menjadi hal yang langka di zamannya. Dimana ia hidup di kota yang penuh dengan gedung serta pepohonan yang tidak banyak, dan udara dingin hanya didapatkan dari AC saja.
"Kau lelah ya? Kau boleh istirahat. Kita akan lanjutkan nanti, ini.... Aku bawa makanan dari istana untuk mu." Tania mengeluarkan sesuatu dari kantong nya dan memberikan kepada kuda bewarna hitam kecoklatan itu.
Mengerti dengan yang dilakukan tuannya, kuda itu seperti senang dan mengucapkan terima kasih lalu memakannya dengan lahap. Tania melihat sekelilingnya yang tidak ada tanda-tanda kehidupan selain mereka. "Ini bisa jadi tempat yang baik dan juga buruk. Siapa yang tau penyamun akan berkeliaran nantinya."
"Nona, lihat! Jambu ini rasanya sangat manis! Bijinya juga sedikit, Nona akan suka." Siu mendekatkan buah itu ke arah Tania dan tangan itu segera mengambilnya, keduanya menikmati buah yang disediakan oleh alam.
"Kau benar, rasanya sangat manis." Siu yang asyik menikmati jambu miliknya, melihat sekeliling, di matanya hanya ada pepohonan saja yang membuat matahari tidak masuk sepenuhnya.
"Nona, perjalanan kita masih jauh. Apa kita akan mencari penginapan?"
"Jika kita berjalan lagi, mungkin saja. Tapi jika dilihat dari kontur jalan nya, sepertinya masih jauh juga. Kalau kita menginap disini, kemungkinan ada penyamun yang datang."
"Apa kita jalan sedikit lagi? Waktu masih ada sebelum malam datang." Tania melihatnya ke atas dan tidak dimengerti oleh Siu.
"Kau bisa memanjat?" Siu langsung bingung mendengar pertanyaan Tania.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Rambut yang masih basah itu belum mengering, dan membuat beberapa pelayan menghadapinya dengan aroma terapi. Pria yang dilayani tampak memejamkan matanya membiarkan kepulan asap itu menyelesaikan tugasnya.
Tubuh tanpa atasan itu menjadi pemandangan bagi pelayan yang mencuri pandang beberapa kali, karena jika ketahuan mereka bisa dalam masalah. Putra raja mereka bukan seorang pria yang bermain wanita bahkan dengan seorang pelayan sekalipun meksipun hanya sekedar bermain saja.
"Baik pangeran." Mereka segera menyelesaikan tugas mereka dan segera berlalu meninggalkan ruangan besar yang menjadi impian wanita beruntung untuk menjadi pendamping hidup pria tampan itu.
"Salam pangeran." Meksipun matanya masih terpejam menikmati hembusan angin yang datang, ia bisa mendengar dengan baik.
"Kau datang dengan cepat, apa tidak ada hambatan kali ini?"
Xiong tentu tau maksud pangerannya yang tak lain adalah raja ayahnya. "Tidak pangeran, Raja hanya mengatakan bahwa kita perlu memantau tempat di bagian selatan pasar."
"Ada apa disana?"
"Sepertinya para kupu-kupu sudah mulai bertebaran lagi pangeran, dan dari kabar yang beredar ada musuh yang masuk lewat sana."
"Kita akan kesana, laporkan kembali kepada raja.
"Pangeran....."
"Aku tidak bisa menemui raja sekarang, dia selalu membicarakan menantunya. Aku perlu mencari nya kan? Kau tau itu."
"Tapi pangeran, wanita itu, maksudnya dia.... Terikat dengan tempat lain, dan..."
"Sejak bertemu dengannya, aku tau dia adalah elang yang suka terbang bebas hingga menemukan yang dia inginkan. Kau akan lihat nanti, kami akan bertemu lagi... Hanya pemilik mata itu yang menjadi milikku, hanya dia."
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.