
Malam yang dingin terasa mendera di kulit. Berbanding terbalik dengan cuaca saat siang hari yang sangat menyengat. Ada tiga tenda yang dibangun, masing-masing tidur tanpa ditemani selain bantal dan selimut.
Pintu masuk tenda terlihat terbuka karena dimasuki seseorang, ia memilih tenda yang berada di urutan kedua. "Sudah tidur, sepertinya berhasil." Gumamnya sambil menatap sosok yang tertidur pulas.
Matanya menatap sekeliling tenda, yang tentu ada tempat tidur serta santai dan juga meja rias. Tampak tangannya mengambil sesuatu. "Kalangan bangsawan memang kaya, bukan hanya harta benda tapi juga keindahan raga." Maniknya menyala menatap sosok yang tertidur pulas.
Meninggalkan kalung ditangannya, ia mendekati beberapa langkah hingga mendarat di ranjang bangsawan itu. "Cantik, halus dan sungguh menarik." Dengan beraninya tangan itu menyentuh dan berlalu lalang di kulit mulus nan bening itu.
Hingga akhirnya berhenti antara perbatasan dagu dan leher. "Aku bisa menawarkan kecantikan ini kepada mereka. Bukan hanya satu tapi dua, siapa yang menyangka mereka akan mendapat pengalaman tak terlupakan yang tidak didapatkan di istana."
Setelah cukup bermain tangan, ia kembali keluar. Niat serta rasa tidak puas menyelimuti dirinya, setelah bermain dengan satu keindahan dia juga ingin menjelajahi yang lainnya. "Bagaimana kalau aku menyapa junjungan berikutnya."
Matanya melirik antara tenda satu dan tiga, hingga wajahnya tersenyum menuju tenda tiga. Sayangnya baru pintu masuk ia berhenti karena ada suara di dalam seperti ada aktivitas. "Siaaal! Kenapa masih bangun?" Langkahnya mundur segera tanpa mengeluarkan suara hingga berhasil menjauh dari tenda tiga.
"Mungkin itu tenda raja, pantas saja masih bangun. Stamina pria berbeda dari wanita cantik." Segera ia menuju tenda satu yang ia yakini dengan sosok yang dicarinya.
Namun, pengawal yang berhasil dilumpuhkan itu tertidur di tengah jalan. "Dasar! Sudah tidur masih saja menganggu!" Dengan tendangan yang tidak akan membuat pria bertubuh besar itu bangun, ia berhasil masuk ke dalam tapi senyum serta mata binarnya langsung padam melihat siapa yang di sana.
"Jika ini raja.... Jadi....." Karena tak berjalan mulus, ia segera berlalu kembali ke kediamannya.
...🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟...
"Darimana saja?" Baru saja pintu terbuka, ia sudah dikagetkan dengan sosok istrinya yang bak hantu.
"Astaga, aku jadi kaget. Istriku, suamimu ini habis melihat keampuhan jurus jitu kita." Dengan mulut manis serta sentuhan lembut tentu saja Rola merasa lupa.
"Tentu saja, Rola! Seperti biasa, pihak kerajaan akan segera kembali meninggalkan harta dan bantuan yang banyak untuk desa. Lalu....." Senyum di wajah Rola begitu lengkung.
"Benar sekali istriku. Kau sangat pintar, raja Vanriel tidak sepintar yang kita pikirkan tapi tetap saja... "
"Apa? Apa ada masalah?" Bukan menjawab pertanyaan istrinya, kepala desa itu sibuk dengan pikirannya sendiri yang mengingat tenda ratu Tania yang tidak sesuai harapannya.
'Baru jurus pertama tapi tidak mempan. Atau... Ia tidak meminumnya? Tapi tidak mungkin!' Goyangan di lengannya membuat ia tersadar.
"Ada apa?" Sentak istrinya tak sabaran.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan rencana besok untuk mengecoh raja dan yang lainnya. Aku tadi mendengar mereka akan berkeliling."
"Tenang saja! Kita bisa atur besok, sekarang sebaiknya kita tidur!" Kepala desa itu menuruti istrinya dan terlelap bersama gelapnya malam.
...🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟...
Pagi harinya, udara yang seharusnya terasa dingin justru langsung berubah memanas membuat Tania yang sudah bangun diawal langsung bangkit mengikat rambutnya. Ketika hendak membersihkan dirinya dengan ramuan herbal nan wanginya, manik Tania mendarat melihat barang yang berjatuhan.
"Seperti dugaan ku, ada yang masuk kesini. Berarti ada sesuatu di minuman itu."
Semuanya sudah siap, kuda juga terlihat berdiri menunggu tuannya. "Baiklah, kita mulai menyelusuri bagian timur." Vanriel mulai menaiki kudanya dan diikuti Tania serta kepala desa.
Para warga mulai mencari sumber air di titik tertentu yang diarahkan, berharap ada yang timbul mengingat daerah desa mereka. Dibantu pengawal serta timbunan makanan yang akan bertambah nantinya untuk mereka. "Aku akan membantu disini." Mana mau Yuri untuk ikut, disini saja ia sudah merasa terbakar apalagi berkeliling tanpa kerindangan.
"Hamba akan menjaga tuan putri." Tania sempat bertatap mata dengan Rola, tapi wanita itu segera mengalihkan pandangannya.
"Ayo, kita jalan!" Kepala desa yang berada di depan mereka membuat sepasang suami istri itu dapat bicara sambil mengamati.
"Bagaimana tidur mu?" Entah angin apa yang membuat Tania bertanya dan terdengar keajaiban bagi Vanriel.
"Nyenyak, aku bahkan terlelap hingga pagi." Tania mengangguk memberikan respon.
"Baguslah."
'Itu artinya, memang bukan Vanriel. Kecurigaan ku berdasar. Kepala desa ini memiliki tujuan.' Bukan tanpa alasan Tania menanyakan nya, meskipun Vanriel terlihat bahagia tapi dirinya memiliki alasan tersendiri.
Malam itu setelah diskusi selesai, Tania memasang sebuah perangkap sederhana yang merupakan gabungan dari pedang serta benang. Tania meletakkannya di depan pintu masuk agar seseorang yang menginjak nya akan membuat jalur benang itu menjatuhkan benda yang terikat dengan nya dan terbukti pagi harinya semuanya terjatuh.
"Ini bagian timur desa ratu. Seperti yang ratu lihat, hanya ada gua yang mengelilingi nya."
"Tidak ada mata air disini Tania, aku sudah pernah melihat sebelumnya." Vanriel memberikan pendapat nya kepada istrinya mengenai wilayah ini.
"Ya, tapi dibelakang gua ini... Apa tidak tembus arah lain?" Jika ada pintu masuk mungkin ada juga pintu keluar. Aku ingin melihat lebih dalam lagi!" Tania tidak peduli dengan reaksi yang lain, ia mengarahkan kudanya menuju pintu gua yang terganga dengan besar.
"Tentu ratu." Kepala desa itu cukup kaget sejenak, tapi ia akan mengikuti keinginan wanita itu.
"Stalagtit dan stalakmit gua nya begitu besar." Vanriel berujar disebelah istrinya yang masih mengamati.
"Ya, sangat indah dan besar." Imbuh Tania.
"Jika terlalu lama disini, mungkin kita melewatkan yang lain raja, ratu." Bagi telinga Tania, ajakan kepala desa itu seperti sebuah perisai menutupi sesuatu.
"Ya, kita sebaiknya pergi." Mendengar itu, kepala desa tersenyum samar dan memberikan jalan pada keduanya.
"Anting ku!" Teriak Tania yang membuat Vanriel yang sudah berada di depan kembali masuk meninggalkan kepala desa.
"Dasar! Ada-ada saja!" Gerutu kepala desa dengan nada kecil.
"Sebaiknya aku tetap disini saja, disana sangat pengap!" Memilih menunggu bersama pengawal, dia duduk menatap dari jauh sesuatu.
Vanriel yang sudah masuk mengerutkan keningnya melihat Tania yang berdiri santai seperti menunggu dirinya. "Kau berbohong?" Tebak Vanriel.
"Diam! Kita tidak punya waktu, lihat itu! Ada lumut di gua ini, itu artinya ada kelembaban dan perhatikan lebih seksama lagi!" Ketika api dinyalakan, Vanriel membulatkan matanya.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.