Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Kejadian Sebenarnya


Pendeta Ming akhirnya sampai di sana, terlihat dari matanya meksipun tertutupi oleh cahaya yang sangat terbatas tidak membuat dirinya terhalang mengenali sosok didepannya.


"Mei!" Teriaknya sambil mendekat membuat, sosok didepannya langsung berbalik.


"Baba?"


"Mei, putriku!" Baba langsung memeluk tubuh Mei yang akhirnya ia temukan dan dibalas dengan baik oleh Mei. Dia dapat merasakan kegelisahan dan kekhawatiran baba padanya.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Kau tidak terluka kan?" Baba memeriksa seluruh tubuh Mei membuat Mei segera menenangkan baba nya.


"Aku tidak apa, aku baik-baik saja. Maaf, membuat baba khawatir."


"Tidak, seharusnya baba tidak membiarkan mu pergi lebih dulu. Ini salah baba." Mei membiarkan baba memeluk dirinya untuk menghilangkan rasa khawatir itu.


Cahaya mulai terlihat datang dan menghiasi adegan Ayah dan anak itu. "Akhirnya, kau putrimu ditemukan." Mei mengenali suara dan terlihat raja dengan prajuritnya.


"Salam raja." Mei memberikan salam kepada raja yang membuat raja tersenyum melihatnya.


"Kau baik-baik saja?"


"Ya, hamba baik-baik saja. Terimakasih atas perhatian raja. Ini....."


"Pangeran belum ditemukan, apa kau bersamanya? Dari penjelasan kau bertemu dengan pangeran sebelum kalian menghilang." Sontak semuanya menunggu jawaban Mei.


"Ya, kami memang bertemu. Tapi tak lama kami berpisah. Dia ....."


"Ayah!" Dari arah berlawanan, terdengar suara sosok yang dicari itu.


Tak lama terlihat Lee dengan keadaan kacau dan kotor karena berguling di hutan dan tentunya hal lain. "Kau membuat ayah cemas. Kau tidak apa kan?" Raja memberikan pelukan untuk putranya yang membuat jantungnya serasa naik rollercoaster.


"Aku baik ayah."


"Kenapa kau bisa terseret sulur? Pedang mu jatuh, kau biasanya tidak pernah menjatuhkan nya."


"Itu, karena tanganku licin ayah. Dan aku cukup kaget dengan serangan sulur tanaman itu."


"Raja, hamba akan kembali lebih dulu karena Putri hamba bisa sakit jika lebih lama lagi."


"Ya, tapi naiklah kereta kuda. Tidak baik untuk berjalan saat ini." Pendeta Ming tidak menolak karena memang saat ini dibutuhkan.


"Ayo Mei, kita pulang. Siu...."


"Iya baba." Sedangkan Lee mencuri pandang ke arah Mei dan tersenyum, membuat Xiong menduga-duga saat ini.


Sedangkan Mei tentu tau bahwa ia ditatap, tapi ia tetap melangkahkan kakinya mengikuti baba nya, dan tak lama kereta kuda itu melaju membawa mereka.


"Sepertinya tanah hutan lebih nyaman dibandingkan ranjang istana. Bukan begitu pangeran?" Lee yang sibuk dengan dunianya langsung tersandar dan melangkahkan kakinya mengikuti ayahnya.


"Aku sudah cukup dengan tanah hutan ayah, aku merasa lapar dan rindu dengan kamarku dan juga Xiong ku ini!"


"Pangeran....." Xiong serba salah, karena dirinya tidak bisa menghindar atau marah meksipun tubuhnya ikut kotor dan membuat Lee merasa bahagia.


"Ayo kita pulang."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Mei langsung dibantu oleh Siu untuk membersihkan dirinya yang sudah kotor begitu juga dengan rambutnya yang kotor dan lepek. "Nona, apa sudah cukup?" Siu tengah menuangkan aromaterapi di air pemandian nona nya.


"Ya, terimakasih." Siu bersiap keluar, tapi pertanyaan Mei menghentikan langkahnya.


"Jadi, bagaimana dengan balas dendam mu?" Mei tampak tertawa kecil dan Siu justru jadi memerah malu.


"Aku sudah membalasnya Nona." Ujar Siu dengan berapi-api dan tubuhnya yang saling bertolak belakang dengan Mei yang tengah berendam.


"Baguslah, kemajuan mu semakin bertambah."


"Nona...."


"Ya?"


"Apa yang terjadi antara nona dan pangeran Lee? Aku tau kejadiannya tidak seperti itu." Mei belum menjawab, ia tampak tersenyum sumringah sambil mengingat kejadian sebelum mereka ditemukan.


Bersambung......


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya baru author, ceritanya tak kalah seru loh!!!!!


Skala Kecantikan Flora, mengisahkan transformasi gadis kaya yang diejek dengan penampilan minus dan juga dicap sebagai anak yang buruk. SehinggaKecantikan dengan skala besar yang disembunyikan selama ini, akhirnya ia lepas untuk membuktikan kemampuan dan kecantikan yang dimilikinya dan membungkam mulut para pengejek itu.