Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Tidak Diharapkan


Wajah merah padam telah melanda wajah yang tadinya tersenyum senang itu. Belum lagi dengan bentakan kaisar padanya dan lebih parahnya itu dihadapan semua orang.


Diantara orang-orang itu, Tania tersenyum puas melihat apa yang menimpa Yuri benalu yang membuat hidup Tania tidak bahagia.


"Apa begini sikap seorang Tuan putri?"


Tidak ada yang menjawab, Ibu suri justru ikut diam dengan hati yang mengerutuk karena kebodohan Yuri yang tidak bisa mengontrol ucapannya. Vanriel jangan ditanya lagi ia juga tidak mengatakan apapun atau bertindak karena ini bisa menjadi gosip hangat di istana mengenai hubungan mereka.


"Maafkan hamba kaisar, tapi.... Pelayan ini... Dia...."


"Masalah pakaian bisa diganti atau dibersihkan tuan putri, tapi... Kata-kata yang kau layangkan tidak pantas diucapkan oleh siapapun apalagi dengan kasta mu sebagai Tuan putri." Malu dan geram itulah yang Yuri rasakan saat ini.


Tidak ada siapapun yang membantunya selain pelayan nya, dibalik itu semua sungguh Yuri ingin melayangkan piring kaca kepada wajah datar yang memandang dirinya.


'Dia!' Yang ditatap pun seolah tau dan mengeluarkan senyum kecil mengandung meremehkan.


'Itulah posisi yang pantas untukmu.'


Bisik-bisik tak terelakan lagi, para hadirin disana langsung mengutarakan pendapat mereka mengenai yang mereka saksikan. Dan tentu akan menggorengnya bak tahu bulat yang sangat hangat.


"Ayah kaisar, terkadang ucapan itu dilontarkan secara tidak sadar sesuai kebiasaan orang itu. Tapi.... Mungkin tuan putri Yuri tidak begitu, seorang tuan putri yang berpendidikan dan terpandang pastinya tidak sengaja atau lidahnya terpeleset. Bukan begitu tuan putri?" Pembelaan yang dilontarkan Tania mengandung keburukan untuk dirinya.


"Maafkan hamba Kaisar dan semuanya." Yuri membungkuk kearah kaisar agar dirinya tetap terlihat baik ditengah keburukan ini.


"Pergilah dan segera ganti pakaian mu tuan putri. Acara akan tetap dilanjutkan tanpamu karena ini acara penyambutan ratu Tania kembali ke istana." Yuri pergi dengan rasa malu yang memuncak karena tanpa disadari kaisar tidak memerlukan kehadiran nya.


"Vanriel duduklah di sebelah istrimu." Tania tentu menatap segera pria yang berlabel suaminya itu melangkah menuju dirinya. Pikiran Vanriel tentu sudah terbaca jelas oleh nya.


Drama hubungan yang sangat baik dijalankannya dihadapan kaisar hingga Vanriel sendiri yang memutuskannya dihadapan Kaisar. "Baik Ayah." Pria itu menatap sejenak Tania yang berada disebelahnya bahkan aroma wanita itu begitu jelas tercium di indra penciuman nya


Bahkan, indra penglihatannya juga merasa dimanjakan dengan kecantikan itu membuat ia terpesona tanpa sadar. 'Apa aku baru menyadarinya?'


...🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟...


Dentingan pedang terdengar dengan jelas di lapangan yang ditumbuhi oleh rumput lembut nan hijau menyejukkan itu. Sepasang pria dengan postur tubuh masing-masing yang terlihat sangat gagah tengah saling beradu pedang.


Manik emas itu menatap tajam sosok dihadapannya dengan pedang ditangannya. "Skatmat!" Ucapan itu keluar bertepatan dengan pedang lawan yang terjatuh.


"Luar biasa keponakanku. Luar biasa!" Jika dulu pujian itu akan membuat dirinya senang maka sekarang tidak lagi karena ia sudah mengendus pengkhianatan itu.


Senyum menawan langsung ditampilkan oleh Longwei seolah menunjukan dia memang hebat. Tak lama terlihat sosok hewan bersayap dengan sebuah surat di kakinya yang langsung hinggap di lengan berkeringat yang semakin menambah nilai maskulin dirinya.


"Dari istana." Gumaman itu membuat telinga Ansel langsung berdiri tegak.


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🙏🙏🙏