Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Rahasia Dhow


Gigi itu hanya bisa menggerutuk melihat pintu itu terbuka dan menampilkan seseorang yang sungguh tidak diharapkan. "Nea, apa yang kau lakukan sayang?" Dhow yang baru saja kembali dari para pemberontak itu tampak melihat keadaan putrinya dan terutama Lee yang disana.


"Lee lapar ayah, aku akan menyuapi nya."


"Kalau begitu langsung saja suapi, kenapa belum juga?" Tanya dhow membuat Lee menatap dirinya dengan lain.


"Iya, tetapi aku melihat tangannya kemerahan karena ikatannya." Jelas Nea yang melihat tangan Lee memang merah.


"Begitu?" Tanya Dhow sambil mendekati Lee.


"Nea, ambil minum nya dulu. Biar ayah lihat tangannya."


"Baiklah, aku akan segera kembali Lee sayangku!" Nea menghilang dari pintu sejenak dan meninggalkan dia dengan guru pengkhianat nya.


"Kau pikir aku tidak tau..... Kau mencoba melepaskan diri?"


"Kenapa? Kau takut aku pergi?"


"Jangan memancing amarah ku Lee, tampaknya kau tidak suka dengan cara lembut."


"Lembut bagaimana maksudnya? Apakah bermain belakang bersama pengkhianat?" Dhow yang berniat melayangkan pukulannya, langsung terhenti ketika mendengar langkah kaki putrinya.


"Ayah, aku kembali. Ayo Lee, kau sudah sangat lapar kan?"


"Suapi saja dia Nea. Itu lebih bagus, terlihat mesra bukan?"


"Ayah benar! Setelah pernikahan aku akan selalu menyuapi nya."


"Ya, lakukan apapun yang kau inginkan."


"Tapi ayah, bagaimana dengan tangan Lee?" Pertanyaan putrinya membuat Dhow tersenyum lain sambil menatap Lee.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Mei kembali melanjutkan perjalanan bersama Siu. Dengan penampilan seperti pria yang tentunya lebih aman untuk melakukan perjalanan ini.


Mei bersama Siu tampak memasuki desa yang terlihat ramai dengan aktivitasnya. "Tetap waspada." Siu menganggukkan kepalanya dan mereka turun dari kuda mereka.


Tampak sebuah kedai yang tampak ramai pembeli. Mei dan Siu tampak duduk di salah satu meja yang kosong.


"Pesan apa Tuan?" Mengambil napas, Mei membaca menu yang tersedia dengan tulisan tangan itu.


"Dua dengan minuman." Pelayan itu bergegas membuatkan pesanan dari pembeli.


Tidak ada pembicaraan lain antara Mei dan Siu, keduanya menggunakan telinga mereka untuk mencari informasi sambil mengisi perut saat ini.


Hingga makanan yang dipesan datang, dan keduanya tampak bersiap menikmati. Justru manik Mei tampak tertarik akan sesuatu.


Terlihat tiga orangnya pria duduk di meja di belakang mereka dan tentunya berbincang-bincang. "Kau sudah tau?"


"Ada sesuatu yang mengerikan di tempat yang kita lewati waktu itu. Kalian ingat?"


"Ah ya, tetapi itu sudah cukup lama kita tidak kesana. Bagaimana kau tau tentang itu?"


"Beberapa hari lalu, aku kesana lagi. Karena jalan pintas disana mempersingkat waktu perjalanan ku dari rumah ku. Dan tak lama aku melihat pasukan yang datang, awalnya aku biasa saja. Tetapi karena rasa kantukku ditambah minuman ku membuat aku tertidur dan tak sadar malam datang. Telinga ku bekerja dengan baik meksipun kepala dan mata ku belum bisa diajak kerjasama. Kalian tau apa yang aku lihat?" Pertanyaan pria itu tentu mengundang tanda tanya besar kepada dua temannya.


"Apa! Katakan!"


"Kalian mungkin tidak percaya, tetapi sepertinya disana adalah sarang buaya yang sebaiknya kita jauhi!"


"Katakan dengan jelas!" Mata temannya melotot dengan tangan yang mengisyaratkan agar dia menurunkan nada suara nya.


"Pelan kan suara mu."


"Iya...." Telinga Mei semakin bekerja keras dengan sesuatu yang ia yakini menjadi petunjuk untuknya.


"Aku tidak tahu dengan jelas, tetapi sepertinya mereka dari istana atau pemerintahan."


"Kenapa kau sangat yakin?" Cukup lama pria yang sejak tadi bicara itu terdiam. Hingga Mei juga menjadi penasaran dengan menghentikan suapannya.


Siu yang melihat gelagat dari Mei tentu langsung peka dan menetralkan dirinya agar tidak ada yang mencurigai mereka.


Tidak ada suara dari bibir, tetapi dengan dalih menjatuhkan kantungnya dan dengan begitu Mei dapat melihat sesuatu di meja dari tangan pria itu.


"Ini, aku menemukan ini. Tidakkah kalian lihat ini sangat berharga dan hanya dimiliki oleh bangsawan saja dan aku semakin yakin dengan lambangnya.


Manik Mei tampak berkerut, tetapi lain dengan reaksi Siu ketika melihat benda yang menjadi perbincangan yang seperti meja bundar dan dengan suara yang sangat pelan.


"Itu...." Suara Siu membuat perhatian Mei teralihkan dan Mei yakin, Siu mengetahui benda itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Bukannya berhasil melancarkan pelarian nya, Lee gagal mempengaruhi Nea untuk melepaskan ikatannya.


"Ayah bilang tunggu sebentar. Setelah itu ikatan mu akan dilepaskan."


Lee sudah dipindahkan dari ruangan sebelum nya. Meksipun ruangan ini tampak besar dari sebelumnya, tetapi Lee dapat merasakan ada hawa lain dari ruangan ini.


"Kau ingat sesuatu dengan ruangan ini Lee?" Tanya Dhow dengan senyuman nya.


"Tampaknya lupa, biar aku ingatkan sedikit. Kau dulu sering bertanya padaku kenapa pintu di sebelah ruangan latihan terkunci. Dan kenapa hanya aku yang bisa masuk? Sedangkan kau tidak. Ingat?" Dhow dapat melihat Lee tampaknya ingat.


"Dan aku juga mengatakan ada sesuatu hal yang tidak bisa ku ajarkan padamu. Karena itu adalah rahasia keluarga ku. Kau selalu penasaran bukan? Kau ingin tau, apa yang aku sembunyikan?"


"Kau minta dilepaskan bukan? Aku akan melepaskan mu, tetapi kau tidak akan kembali ke istana atau istrimu itu. Tetapi tetap disini bersama putriku hingga mati. Diantara pengetahuan, ada pengetahuan lain yang lebih hebat Lee. Dan itu tidak menggunakan senjata tetapi...." Manik Lee membola melihat apa yang dibuka oleh Dhow dihadapannya.


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.