
Baru beberapa menit, wajah cantik itu sudah berpeluh bukan main. Bahkan matanya tidak sanggup menatap matahari di atasnya. "Astaga! Entah sampai kapan aku disini! Dan kenapa Vanriel belum kembali!" Yuri segera masuk ke tenda nya dan memilih istirahat dibandingkan mengais-ngais di luar.
Tentu saja itu menjadi pemandangan serta gosipan bagi warga desa tapi mereka bisa apa. "Aku dengar dia akan menjadi istri raja."
"Sungguh? Aku lebih suka Ratu Tania dibandingkan nya. Meskipun salju itu dingin tapi aku lebih memilih air jernih yang bisa melakukan banyak hal. Bukan hanya cantik di mata dan sesaat." Ditengah gosip itu, seorang wanita menyenggol lengan keduanya.
"Hati-hati bicara, kalian bisa jadi pajangan!" Ujarnya yang membuat keduanya terdiam dan melanjutkan pekerjaan mereka lagi.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Bayangan terlihat jelas memancar di tanah yang gersang itu. Tania dan yang lainnya kembali melintas mengelilingi daerah yang di bicarakan semalam. "Kalau pihak kerajaan terlambat datang memberikan bantuan. Apa yang akan kau lakukan??"
Tanpa menoleh Tania menunggu jawaban dari kepala desa itu yang masih diam menjawab pertanyaan ratunya. "Hamba membeli pasokan air dari sekitar desa ratu, karena mereka tidak bisa memberikan secara cuma-cuma. Atau memberikan sesuatu yang mereka butuhkan."
"Begitu ya? Apa makanan juga begitu?"
"Iya ratu, hamba melakukan itu setiap tahunnya."
"Raja, bukankah dari pihak istana sendiri memberikan bantuan yang banyak? Tidak mungkin tidak cukup untuk musim kemarau yang datang beberapa bulan saja atau memang hanya sedikit?" Tampak wajah kepala desa itu sedikit gentar mendengar pertanyaan Tania.
"Istana memberikan bantuan yang lebih ratu. Dan aku juga ingin bertanya mengenai itu? Kenapa bisa tidak cukup?" Vanriel memberikan tatapan matanya kepada kepala desa yang membuat dirinya tampak kelu.
"Begini Raja, hamba memberikan itu kepada beberapa warga desa lain dan juga orang atau pengembara yang membutuhkan, bukankah kita saling membantu? Tapi bukan berarti semua dibagikan tentu ada bagian desa yang lebih banyak."
"Pemikiran yang baik, kalau begitu sebaiknya setelah ini kita memeriksa gudang bukan raja?"
"Ide bagus, aku ingin melihat apa yang paling dibutuhkan oleh warga ku." Jantung yang tadinya masih aman tiba-tiba berubah menjadi detakan besar yang mengguncang dan membuat tangannya tak mampu menjalankan kuda lagi.
Untung baginya karena sepasang suami istri itu berada di depannya. "Kenapa diam saja?" Tanya Vanriel yang membuat ia tersentak.
"Tentu raja, hamba akan memperlihatkan nya."
Beberapa waktu kemudian......
Rombongan Vanriel kembali ke desa tepat di sore hari, kedatangan mereka disambut dengan wajah letih para warga bahkan ada yang tertidur karena lelah menggali. Tangan mereka bahkan masih terlihat sapuan tanah.
"Salam raja dan ratu. Kami sudah menggali dan tidak menemukan apapun." Lapor Rola kepada keduanya.
Tania turun dari kudanya dan berjalan melihat hasil kerja warga, terlihat tanah itu tidak mengeluarkan apapun. "Pengawal! Siapkan makanan untuk semuanya."
"Baik raja." Saat semuanya terlihat bicara, manik Rola justru menatap Tania yang sibuk dengan urusan nya sendiri.
'Apa yang ia lakukan?' Rola bertanya-tanya melihat tingkah Tania yang memegang sebuah palu sambil memutar-mutar palu itu seperti mainan.
"Istriku bantu siapkan untuk warga." Segera manik Rola menatap suaminya.
"Iya suamiku."
"Raja, hamba akan...." Bunyi besar serta getaran bak gempa membuat aktivitas apapun langsung terhenti dengan darah yang naik turun.
"Apa itu?" Semuanya bertanya-tanya, bahkan Yuri yang asyik berias justru membuat kalung nya jatuh.
"Bunyi apa itu?"
Mengikuti raja mereka, yang lain dibuat kaget dengan aktivitas hantaman wanita yang seharusnya duduk manis terlihat menghantam tanah dengan palu besar.
Semuanya dapat melihat seorang ratu memukul tanah yang gersang dan berdebu, tapi sepertinya debu itu terlihat tetesan air baginya yang segar. Mereka masih terlihat membatu dengan manik yang masih menatap Tania.
"Ratu, ini....."
Wajah Vanriel yang terlihat berdebu segera basah karena pancaran air yang menghantam wajahnya. "Ini..."
"Air? Sumber air?" Warga terlihat tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Ya, sumber air. Ada batu dibawah, seperti ada yang menyusun dengan indah. Ukurannya besar-besar, lihat? Mari bantu, air akan datang membasahi desa kembali." Melihat air bak sebuah energi yang membuat warga desa kembali bersemangat dan segera mengambil alat pukul mereka, sedangkan wanita mengais-ngais tanah yang berada disekitarnya.
Tania yang berniat memukuli tanah, dikejutkan dengan tangan di sebelahnya. "Kita lakukan bersama-sama." Ajak Vanriel yang menggenggam tangan istrinya kemudian mereka kembali menghantam tanah untuk menyingkirkan batu dibawah sana.
Dan benar saja, tak lama sumur yang tadinya mengering langsung terisi karena jalan yang menghambat nya sudah disingkirkan. Dibalik tawa dan kebahagiaan warga desa, tentu ada sepasang mata yang tidak terima. "Bagaimana dia bisa tau?"
"Sudah ku bilang, ratu itu cerdik!" Dengan tangan mengepal serta gemuruh petir di dada nya, ekspresi nya berusaha tersenyum bahagia.
"Tetap berpura-pura, kita akan mengurus segera!" Keduanya ikut bergabung dengan kebahagiaan warga desa yang sudah mulai basah karena mata air.
"Setidaknya satu sudah cukup untuk beberapa waktu. Kita bisa lanjutkan besok." Ucapan Tania menjadi musik pengiring kebahagiaan mereka.
"Ratu, ini seperti keajaiban. Bagaimana ratu tau? Tanya seorang warga yang sudah sangat penasaran.
"Aku hanya berpikir, jalan yang biasanya dilewati tidak mungkin hilang begitu saja. Jika tidak ditemukan, maka ada sesuatu yang menghambat nya. Aku melihat galian yang dilakukan tidak sampai ke sumur, jadi aku berpikir melakukannya dan lihat, kita melihat masalahnya." Sorak-sorai kembali terdengar menyebut nama Tania serta anak-anak berhamburan ke pelukannya membuat Vanriel menatap didengar jelas wajah yang tersenyum itu.
'Ingat Vanriel! Akar yang kau anggap melilit dirimu bisa jadi adalah akar yang membuat mu kuat dan kokoh.' Entah mengapa ucapan ayahnya berputar di kepalanya.
Di goa sebelumnya.....
Mata Vanriel diarahkan ke sebuah stalaktit, yang terlihat aneh baginya. "Perhatikan! Jika ini disentuh, aku yakin ada pergerakan, seperti gerbang pembuka jalan masuk istana yang dibuka dan ditutup dengan sebuah tuas."
"Jadi ini...."
"Aku merasa begitu, bentuk dan tempat gantungannya melawan gravitasi, dan juga tidak berat, terlihat bukan? Aku yakin ada sesuatu disini. Kita akan mengurus desa terlebih dahulu, baru kembali kesini."
"Jika itu benar benar, aku seperti orang booodoh bukan?"
"Terkadang jika mata tidak bisa melihat dengan baik, maka itu bukan salah matanya tapi mungkin sebuah kabut yang menyelimuti nya. Sebuah kesalahan bukan berarti kita kalah tapi menjadikan pelajaran, dan sebaiknya bersiap kirim surat ke istana." Setelah mengatakan itu, Tania keluar lebih dulu meninggalkan dirinya yang termenung.
Kembali lagi ke kebahagiaan warga desa.....
Yuri yang terlambat di puncak kebahagiaan langsung menjadi geram melihat Vanriel yang menatap penuh damba kepada Tania. "Belum sehari, tapi Vanriel sudah memancarkan kekaguman, bagaimana berikutnya? Aku tidak bisa biarkan ini!"
"Suamiku... Aku rasa aku punya boneka yang akan membuat sang ratu berhenti sejenak." Rola tersenyum menyeringai menatap aura kebencian Yuri.
"Untuk menghancurkan seorang wanita, maka hanya wanita lain yang bisa melakukannya!"
Bersambung.....
Jngn lup like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.