
Kali ini sosok itu memilih rambutnya dilepas dan diikat beberapa kebelakang dengan bulu warna putih yang menghiasi satu sisinya.
"Tuanku, kita sudah hampir dua hari disini dan tuan sudah bertemu bukan. Bagaimana kalau kita melanjutkannya perjalanan sebelum paman tuan datang lebih dulu?" Pria yang merupakan pengawal istimewa Longwei memberikan saran karena baginya keinginan tuan nya sudah terpenuhi.
"Belum, aku hanya melihat nya belum bertemu. Bertemu itu seperti ini!"
"A..." Tangan kekar itu melemparkan sebuah kerikil ke arah Tania yang membuat wanita itu segera tau.
"Siapa kalian?" Ancang-ancang segera Tania lakukan. Mau tak mau pemuda itu mengikuti tuannya.
"Salam ratu, kami seorang pengembara yang melintasi jalanan ini, bukan maksudnya desa ini." Tania menatapnya lekat keduanya, tidak bisa dikenali karena wajah mereka dihiasi topeng.
"Lalu? Lanjutkan perjalanan kalian tidak ada yang menghalangi. Apa aku terlihat seperti petugas pajak atau perbatasan?" Tania yang merasa tidak ada hal buruk kembali menatap lamat sumur.
'Bukan petugas pajak tapi petugas menangkap fokus dan pikiran ku.' Pemuda gagah itu hanya bisa berdiam sambil menatap tuanya yang dipastikan tertarik dengan ratu itu.
"Ratu!" Acara tatap menatap sebelah mata itu terganggu dengan kedatangan Vanriel yang mengikuti ratunya.
"Siapa kalian?" Tanya Vanriel dengan nada tidak bersahabat.
"Mereka hanya pengembara." Jawab Tania, tapi Vanriel terus menatap keduanya.
'Pria ini yang menyia-nyiakan berlian, sepertinya matanya sudah buta. Dan sekarang menganggu penantian ku?' Karena tidak mau ada masalah, segera tangan itu disenggol bertujuan meminta segera berangkat.
"Sebaiknya pengembara seperti kalian segera pergi dari sini. Karena tidak ada air atau makanan yang bisa kalian bawa untuk perjalanan kedepan." Vanriel secara tidak langsung meminta keduanya pergi dari hadapan nya dan istrinya.
"Sampai jumpa lagi." Tania yang tadinya tak peduli tiba-tiba menoleh segera tapi sayang keduanya sudah menghilang dengan loncatan angin di pepohonan.
"Ada apa?" Tanya Vanriel.
Tania menggelengkan kepalanya karena tidak ingin mengatakan kecurigaannya lagipula itu bisa jadi masalah nanti karena yang terpenting bukan itu.
"Sangat aneh bukan, desa ini dikelilingi dua perbukitan. Tidak mungkin tidak ada sumber air meksipun musim kemarau. Sumur ini terlihat sangat kering sekali seperti tidak dialiri apapun." Vanriel turut mendekat bersebelahan bersama Tania dan keduanya menatap sumur yang berkedalaman 5 meter itu.
"Itu terjadi setiap tahun, setelah musim hujan semuanya kembali seperti semula."
"Itulah yang ku maksud. Setidaknya selama musim kemarau ada persediaan atau cadangan air yang ada disini, tapi ini tidak ada sama sekali. Kosong! Bukankah aliran air menuju kesini? Kemana semuanya? Sama seperti jalanan yang biasanya dilewati baik musim salju atau tidak, jalannya tetap ada kan? Tidak hilang, kecuali ada yang menjatuhkan bebatuan sehingga tidak bisa dilewati."
Saat keduanya asyik berbincang, satu prajurit datang melaporkan sesuatu. "Lapor raja dan ratu. Kepala desanya baru saja datang dan ingin bertemu dengan raja dan ratu." Vanriel menganggu menerima laporan nya sedangkan Tania ikut ke pemukiman, mungkin ada sesuatu yang bisa ia gali dari kepala desa ini.
Baru saja mereka kembali, terlihat Yuri sudah menunggu kedatangan mereka seolah dirinya ditinggalkan. "Salam raja dan ratu, kepala desa ini menyambut kedatangan anggota kerajaan." Tania tidak membalas salam itu, matanya sibuk menelisik penampilan kepala desa itu.
'Ada yang aneh'
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.