
Sementara Triple R, sang sulung si Rein sedang beraksi. Dia sedang mengotak-atik laptop miliknya sendiri. Dia yang genius sedang memeriksa latar belakang Valen. Tapi Rain langsung menghentikannya.
"Jangan dicari lagi, Mama Valen tidak akan jahat sama Mommy. Dia sudah jadi baik, Kak Rein tidak usah mencurigainya,"
Rein berdiri, dia belum terima perkataan adiknya itu.
"Kau ini kenapa naif sekali, perempuan itu telah pisahkan kita selama lima tahun, tapi kau masih saja bisa dibodohi," ucap Rein menunjuk adiknya.
"Itu benar, harusnya tidak usah dibela. Kenapa kau terlalu bodoh sih," sambung Rara mendesis.
"Tch, aku tidak bodoh!" ujar Rain membentak.
"Kalau begitu jangan panggil dia, Mama lagi!" balas Rein membentak.
"Kenapa kalian marah? Dia itu kan dulu pernah jadi Mamaku, dia yang jaga Rain dari kecil," bela Rain.
"Itu dulu dan sekarang sudah tidak. Kamu jangan terlalu polos!" Rein menunjuk kepala adiknya.
Plak!
Rain menepis keras tangan Rein kemudian meneriaki dua kakaknya.
"Aku ini baik, tidak seperti kalian jahat!"
Rein dan Rara terdiam mendengarnya.
"Kalian ini dari kecil selalu sama Mommy, disayang sama Mommy, apa salahnya kalau Rain bela Mama Valen? Kalian egois!" Rain mendorong kakaknya lalu lari keluar dari kamar dengan dua matanya yang sembab. Rein dan Rara menunduk, mereka merasa bersalah telah melukai perasaan adiknya.
"Tch, dia memang bodoh!" Rein duduk kembali, dia ingin mematai Valen. Ini sudah tugasnya untuk mengawasi diam-diam seseorang yang mencurigakan. Dia berusaha menyadap keamanan rumah milik Valen. Sementara Rara keluar mencari adiknya.
Yang dicari-cari rupanya berada di belakang rumah. Rara segera menghampiri adiknya. Dia berhenti setelah mendengar isak tangis Rain. Dia yang sebagai anak bungsu sangatlah cengeng.
"Hiks, Rain tidak bodoh. Rain kan anak baik, kata Oma, Rain tidak boleh benci kalau Mama jahat. Apa Rain salah sudah baik sama orang?" isaknya sesugukan sambil mengukir ranting kayu ke tanah dan kemudian dia berdiri. Rain berbalik, sontak dia terkejut menatap Rara sudah berada di depannya.
Pluk!
Rara dengan cepat memeluk adiknya itu, dia sangat bersalah telah menyalahkan Rain.
"Maaf sudah galak sama, Rain," lirih Rara melepaskan pelukannya. Rain terdiam dan kemudian tersenyum kecut.
Mendengarnya Rain tertawa kecil, dan diikuti Rara cengengesan. Tidak masalah meledek kakaknya yang genius itu.
"Rara minta maaf," cengir Rara meminta maaf.
"Tidak mau," tolak Rain memalingkan wajah. Melihat Rain yang masih merajuk, Rara pun merogoh semua saku celananya. Dia mengeluarkan segenggam permen karet. Itulah Rara, bocah cilik yang banyak menyimpan makanan.
"Rain mau kan?" ucap Rara menyodorkannya ke Rain. Rain meliriknya, dia pun melihat Rara yang sungguh-sungguh. Mata Rain pun berseri-seri melihat banyak permen.
"Semuanya buat aku?" tanya Rain ragu-ragu. Rara mengangguk berkali-kali. Rain pun kembali ceria, dia tersenyum sumringah mendapat banyak permen.
"Tapi jangan bilang sama Mommy dan Daddy," ucap Rara berbisik.
"Kenapa?"
"Rain kan dilarang makan permen karet, jadi jangan makan semuanya," jawab Rara mengambil separuh permen karet di tangan Rain.
"Loh kok diambil?" cetus Rain sedikit kecewa.
"Karena gigi Rain kan sudah ompong satu," tunjuk Rara ke pipi Rain.
"Ompong? Mana ada! Rain giginya sehat!" ujar Rain marah.
"Hahaha, jangan marah, itu kan giginya ompong sebelah," tawa Rara.
"Iiih, Rara nyebelin! Sini kubikin Rara ompong juga!" pekik Rain lari mengejarnya. Rara tertawa terbahak-bahak dikejar oleh Rain di petang ini. Melihat dua adiknya main kejar-kejaran dari jendela kamar, Rein cuma menatapnya dingin, dia pun menutup jendela dengan horden.
"Tuan muda, Nona muda, waktu makan malam telah tiba!"
Rara dan Rain menengok ke pelayan yang datang memanggilnya, kedua bocah cilik kembar itu berlarian masuk ke arah dapur dengan semangat.
"Yeeyyy daging panggang punya Rain!" pekik Rain menyita sepiring daging panggang membuat Rara membola. Manda dan Rafa yang sudah selsai dari aksi gulatnya kini turun untuk makan malam bersama. Keduanya tertawa kecil melihat dua anaknya rukun, kecuali Rein yang cuma duduk diam saja menatap piringnya dengan datar, bocah itu sedang sibuk berpikir.
Mereka pun makan bersama. Sesekali Rafa curi-curi waktu menepuk pinggul Manda membuat Manda berkali-kali tersentak. Manda cuma melotot saja sambil mengoceh dalam hati.
"Ish, dasar nyamuk!"
______