
Polisi telah tiba duluan dan mengamankan jalanan, mereka telah mendapat informasi dari plat nomor mobil, jika pemilik mobil taksi itu adalah seorang pria paruh baya yang telah kehilangan mobil taksinya seminggu ini. Dia pun dibawa dan diselidiki di kantor polisi.
Polisi juga telah mengamankan seorang pengendara motor yang duluan malaporkan mobil itu berada di tengah jalan yang sepi tanpa siapa pun dia lihat. Dia awalnya takut untuk mendakati mobil taksi, namun setelah menengok ke dalam melalui salah satu pintu terbuka, pengendara itu melompat kaget ketika dua matanya mendapati bercak darah di kursi penumpang.
Dia yang ketakutan pun segera menelpon pihak polisi untuk mencari tahu apa yang terjadi dan sekarang pengendara itu yang masih katakutan, dia pun dibawa ke kantor polisi untuk dijadikan saksi telah menemukan peristiwa ini.
Salah satu mobil mendekati tempat kejadian, dua pasangan suami istri berjalan cepat menghampiri ketua polisi yang sedang memandu rekannya.
"Presdir Rafa, anda akhirnya tiba juga," ucap ketua polisi menyambutnya. Rafa balas berjabat tangannya, terutama Manda juga.
"Pak, apa anda menemukan sesuatu?" tanya Manda ingin melewati pembatas yang dipasang oleh polisi namun dicegat oleh rekannya.
"Benar, kami menemukan tiga hal, Nona Sheila."
"Sungguh?" kaget Rafa bukan main.
"Apa itu, Pak?" tanya Manda deg-degan.
"Kami menemukan ponsel atas nama Nona Valen," jawah polisi memperlihatkan kantung berisi ponsel IPHONE milik Valen.
"Lantas kemana pemiliknya, Pak?" tanya Manda sedikit cemas. Rafa pun juga ikutan khawatir sambil memandang sekitar berharap ada CCTV yang dapat merekam kejadian ini, namun cuma ada tiang lampu dengan cahaya redup yang menerangi jalan itu.
"Kami belum tahu, tapi jujur sepertinya telah terjadi tindakan kekerasan di dalam mobil, Nona." Polisi menjawab dan menyimpan ponsel Valen.
"Kekerasan?" gumam Manda menutup mulutnya.
"Apa maksudnya, Pak?" sahut Rafa bertanya. Keduanya cukup terkejut.
"Ada percikan darah yang berserakan di kursi penumpang dan serta beberapa helai rambut yang tampak rontok dengan sengaja, dan sekarang saya telah menyuruh rekan lain untuk membawa simple darah itu dan juga rambut untuk di cek malam ini juga,"
Manda terdiam membisu, dia benar-benar terguncang mendengarnya.
"Ya Tuhan, apa yang telah terjadi pada Valen?" pikir Manda sedikit takut. Rafa menggenggam tangan Manda untuk jangan khawatir.
"Sepertinya Presdir Rafa lebih baik membawa pulang istri anda, ini sangat berbahaya, sekarang kejadian ini belum pasti motif apa, tapi yang kini kami pikirkan, mungkin Nona Valen telah diculik." Polisi memberi saran dan jawaban kasus malam ini adalah sebuah penculikan.
Rafa pun membawa Manda masuk ke dalam mobil. Dia pun pulang meninggalkan tempat kejadian. Kini kemungkinan keraguan Rafa terhadap Valen telah teralih.
"Rafa, apa yang harus aku katakan pada anak-anak nanti, terutama Rain? Jika Rain tahu, aku khawatir dia akan ketakutan," sahut Manda bertanya pada suaminya yang fokus mengemudi.
"Kita lebih baik merahasiakan ini dulu. Jangan biarkan anak-anak mengetahuinya," ucap Rafa dengan lembut membelai rambut istrinya.
"Ya Tuhan," lirih Manda menunduk, dia tiba-tiba menangis.
"Hei, kamu kenapa?" Rafa terkejut Manda terisak di sampingnya.
"Rafa, bagaimana jika darah itu milik Valen dan dia telah dibunuh lalu mayatnya di buang? Polisi bilang hanya ada darah dan rambut yang tertinggal di dalam mobil itu. Aku berpikir mungkin seseorang telah-"
Hiks...
Manda menangis, dia berpikir seseorang telah memperkosa Valen dan membunuhnya lalu pergi membawa mayat Valen, ini seperti di dalam berita yang umumnya sering ditayangan oleh televisi. Manda khawatir apa yang akan terjadi jika berita ini sampai ke telinga Ayahnya Valen. Mungkin salah satu Bos Mafia itu akan mengamuk luar biasa di kota ini.
"Tenanglah, aku kenal Valen, dia tidak semudah itu dapat dikalahkan. Dia lebih keras darimu, kita perlu berdoa wanita ini baik-baik saja." Manda mengangguk mendengar ucapan Rafa, dia menunduk kembali.
Sesampainya di rumah, anak-anak sama sekali belum tidur. Ketiganya tiba-tiba minta untuk tidur bersama. Manda yang belum tenang pun setuju anak-anaknya tidur menemaninya. Tapi bagi Rafa, dia cukup heran mengapa Triple R tiba-tiba meminta tidur bersama.
Kini terlihat Rafa dan Manda tidur di dekat anak-anaknya. Rafa pun bertanya pada mereka.
"Tumben kalian akur dan kompak ingin tidur bersama di sini, apa yang sudah terjadi, hm?" tanya Rafa melirik tiga anak kembarnya.
"Daddy, kami habis nonton film hantu!" sahut Rara di tengah-tengah mereka.
"Ha? Siapa yang menyuruh kalian menonton hal begitu?" tanya Manda sedikit kaget.
"Kak Rein, Mommy!" Rara dan Rain kompak menunjuk kakaknya. Rein menutupi dirinya dengan selimut sebelum kena marah.
"Soalnya kita sudah lama nunggu Daddy dan Mommy, eh tau-taunya malah pergi lagi. Kita jadi kesepian," jawab Rain jujur diikuti Rara mengangguk.
"Ya ampun, maaf ya Mommy dan Daddy ninggalin kalian terlalu lama."
"Hm.. tidak apa-apa kok, Mommy!" senyum Rara dan Rain, kecuali Rein langsung bertanya.
"Daddy, apa yang terjadi padanya?" tanya Rein ingin tahu soal Valen. Manda dan Rafa bertatap lalu menghela nafas.
"Kenapa Daddy dan Mommy diam?" tanya Rain ikutan tanya.
"Apa Bibi itu kabur dan meninggalkan jejak di sana?" sambung Rara ikutan juga.
"Hahaha, itu ponselnya jatuh di jalan, sayang," jawab Manda tersenyum.
"Benarkah itu, Daddy?" ketiganya malah tanya ke Rafa, mereka belum percaya.
"Oh iya dong, Rain kan tahu kalau dia itu orangnya ceroboh, jadi yang dikatakan Mommy kalian itu benar," jawab Rafa ikutan bohong.
"Uhh, dia memang wanita merepotkan!" decit Rein menyelimuti dirinya.
"Hehh, jangan bilang gitu dong!" sahut Rain tidak terima.
"Sudah! Jangan debat lagi, nanti Rara gigit kalian bedua! Mau?" ujar Rara siap mengigit. Rain mendengus, dia memeluk Rafa, sedangkan Rein memeluk Ibunya dan serta Rara juga memeluk Manda.
Rafa dan Manda cuma menahan tawa ada Rara yang menjadi penengah untuk mereka. Keluarga itu pun tidur bersama, kecuali jangkrik yang senantiasa berdenging memecahkan suasana malam di luar sana.
_____
Tengah malah, perlahan-lahan Valen membuka matanya. Dia beranjak bangun dan samar-samar dia melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Valen agak terkejut ketika melihat tangan kanannya sudah diobati dan satu tangannya lagi terdapat infus.
"Ahhh, aku di mana?" ringis Valen ingin turun dari tempat tidur namun tubuhnya sangat lemas. Dia pun menoleh dan mendapati sebuah mangkuk berisi bubur. Valen enggan untuk memakannya, tapi perut tidak dapat berbohong, dia pun makan ketik mendengar bunyi keroncongan dari perutnya.
Valen pun mengambil bubur itu, dia terdiam mencium bubur itu tampak lezat. Valen pun memakannya tanpa rasa takut sedikitpun sambil memandangi kamar yang cukup besar. Tak ada sama sekali foto seseorang, kecuali gambar ilustrasi alam.
"Ah sepertinya seseorang menyelamatkan aku, tapi siapa ya?" pikir Valen tidak ingat wajah yang menolongnya.
"Dia baik sekali menyembuhkan lukaku, jika saja dia tidak ada, mungkin aku sudah mati kehabisan darah di dalam mobil itu. Delsi benar-benar sudah gila, dia bukan lagi manusia melainkan iblis. Dia sudah membunuh seseorang sejak kecil, itu sangat mengerikan. Aku yang terlahir di keluarga mafia tidak pernah sedekitpun melukai seseorang."
Valen meremas seprainya dan telah usai menghabiskan makanannya. Valen bangkit sambil berjalan sedikit pincang, dia keluar dan melihat jam dinding sudah pukul 01.34 tengah malam. Valen celingak-celinguk mencari keberadaaan orang yang menolongnya.
"Rumah ini cukup luas juga, sepertinya dia lumayan tidak miskin, tapi kenapa aku belum melihatnya, kemana dia sekarang?" gumam Valen terus berjalan menyusuri isi rumah. Namun tetap saja hanya dia yang berada di rumah itu.
"Ah masa sih rumah ini kosong, kemana pemiliknya?" batin Valen akhirnya berhenti di depan satu ruangan yang tertutup. Valen pun deg-degan, dia berniat ingin masuk ke dalam. Sontak dia pun dengan berani membuka pintu. Seketika raut wajahnya langsung datar.
"Sial, ruangan ini juga kosong, tapi... kayaknya ini ruang kerja deh, coba aku cari sesuatu." Valen pun masuk dan membiarkan pintu terbuka saja.
Dia pun memulainya dari meja ke meja lain. Mencari-cari petunjuk si pemilik rumah. Sontak matanya terpaku pada satu monitor komputer. Valen pun menyalakannya, dan secara langsung menampilkan file kerangka cerita. Valen pun mengira jika dia ditolong oleh orang yang bekerja sebagai karyawan editor. Namun lebih terkejutnya ketika dia menemukan hal lain.
"Eh, apa ini?" Valen tersentak menemukan nama Sheila di file itu.
"Nona Sheila? Ini punya dia kan? Tapi kenapa ada di sini? Lantas cerita apa ini?" Valen berdiri sambil garuk-garuk kepala belum paham. Tiba-tiba seseorang menyahut dari arah pintu.
"Reinkarnasi, apa kau paham itu Nona Valen?"
Deg
Valen mundur hingga bersandar ke tembok, dia menunjuknya dengan gelagapan ditambah kantong infusnya terjatuh ke lantai saking kaget melihat Jhosua tersenyum padanya.
"Jho-jhosua?"
Jhosua meletakkan kunci mobilnya, dia habis mengantar Dokter pulang setelah mengobati Valen. Dialah yang menolong Valen ketika dia pulang dari tokonya dan tidak sengaja menemukan taksi yang berhenti cukup lama di tengah jalan.
Huhuhu dekat sudah terbongkar semua dan akan tamat. Gimana ya endingnya😁pasti susah nih tebaknya. Iya kan?😳