Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 21 : Maafkan Daddy


Suasana makin menegangkan ditambah ia berkeringat dingin. Manda tak sangka bisa-bisanya malam ini Rara ada di mansion Rafa, tepatnya di tempat ayah kandungnya.


"Mengapa Mommy ada di sini?" Rara berjalan mendekatinya. Manda reflek memeluknya, ia amat bahagia melihat satu anak kembarnya malam ini.


"Syukurlah kamu ada di sini sayang, Mommy sudah dua hari mencarimu," kata Manda melihat putri cantiknya kemudian memeluknya lagi. Ingin rasanya dia menangis sekarang. Tapi harus tertahan karena harus berhadapan dengan Rafa.


"Ya Mommy, Rara minta maaf. Untung saja Uncle ini baik pada Rara. Rara bahkan makan enak di sini, terus orang-orang di sini semuanya baik semua, Mommy." Rara balas memeluk Manda dengan senyumnya.


"Huft, syukurlah kalau begitu." Manda menghela nafas sembari mengelus lembut kepala Rara. Terlihat kedua anak dan ibu ini saling melempar senyuman manis hingga Rafandra yang berdiri dari tadi jadi tertegun.


"Ekhm," Rafa mendehem pada mereka. Manda sontak berdiri kemudian melihatnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa gadis ini?" lanjut Rafa serius bertanya. Manda deg-degan, jantungnya seakan ingin berpacu tidak menentu, antara takut dan senang.


"Dia dan aku-" ucap Manda menghela nafas sejenak, kemudian lanjut bicara. "Dia Rara, dia putri-" kata Manda terputus langsung oleh Rara.


"Aku Rara, Uncle. Dia Mommy, Ibuku." Rara tersenyum manis lalu mendekati Rafa. Manda terkejut melihat putrinya memegang tangan Rafa, begitupun Rafa ikut kaget melihat keberanian Rara.


"Uncle, terima kasih sudah membawa Mommy. Karena Mommy sudah ada, Rara akan pulang bersama Mommy. Maaf kalau Rara merepotkan Uncle." Lagi-lagi Rara tersenyum manis hingga Rafa terdiam. Ini bagaikan ia bicara dengan putrinya.


"Apa dia anak kandungmu?" tanya Rafa melihat Rara yang kini berdiri di dekat Manda.


"Itu benar, dia putri kandungku."


Pak!


Rafa meraih tangan Manda dengan kasar membuat Rara terkejut melihat Rafa nampak marah.


"Sekarang ikut denganku, jelaskan apa maksud semua ini!" decak Rafa menarik paksa Manda menjauhi Rara.


"Auw, kamu bisa lepaskan tanganku? Tanganku sakit tahu!" desis Manda tidak tega melihat Rara ditinggal begitu saja. Tapi Rafa tidak peduli, dia tetap menarik paksa Manda menaiki tangga.


"Auw, bisakah kamu berjalan lambat. Tanganku sakit kamu tarik terus!" ringis Manda kesakitan.


BRAK!


Rafa masuk ke dalam kamar bersama Manda dan kemudian menghempaskan Manda ke ranjang. Manda makin terkejut dengan tindakannya yang kasar, apalagi Rafa sungguh berada di atasnya.


"Sekarang aku ingin bicara empat mata denganmu!" ucap Rafa sambil menunjuk mata Manda.


"Lalu kita mau bicara apa?" tanya Manda mencoba santai.


Melihat tampang Manda yang tenang, membuat Rafa makin kesal. Rafa pun menaikkan dagu Manda lalu melihat dalam-dalam kedua mata wanita di depannya.


"Jujurlah, siapa anak yang telah kamu lahirkan itu!" ucap Rafa membentak. Manda cuma menutup matanya.


"Kalau aku jujur, apa kamu akan marah?" tanya Manda ingin pastikan.


"Cih," decak Rafa berdiri kemudian melipat tangannya. Berdiri membelakangi Manda yang kini duduk di tepi ranjang.


"Tanpa dijawab pun kamu sudah tahu!" ujar Rafa berbalik menatapnya tajam. Manda mundur perlahan, kemudian mengatakan yang sebenarnya.


"Itu... dia adalah putri-"


"Putri kita?" tebak Rafa membuat Manda langsung menatapnya.


"Be-benar, dia putri kita." Manda mengulangi ucapan Rafa. Dalam hati Manda sangat senang mengucapkan dua kata itu di depan calon suaminya.


Rafa tersenyum miring membuat Manda mengerutkan dahi setelah melihat Rafa yang tiba-tiba aneh. Rafa naik ke ranjang mendekati Manda yang duduk tak jauh darinya.


"Ka-kamu mau apa? Kamu jangan mendekatiku!" pekik Manda menunduk setelah tangan Rafa diangkat. Berpikir Rafa akan menamparnya sudah melahirkan Rara. Tapi dugaannya salah, Manda terhenyak dengan sikap Rafa padanya. Tangan Rafa tiba-tiba mengelus rambutnya.


"Apa segitu takutnya kamu padaku?" tanya Rafa masih membelai rambut Manda.


"Aku-aku takut kamu akan marah karena sudah melahirkan anak hasil-"


"Shht," desis Rafa menutup mulut Manda dengan jari telunjuknya.


"Tidak perlu pikirkan itu, dia anak kita, dia yang sangat berharga." Manda diam mematung setelah mendengarnya, apalagi Rafa dengan lembut mencium keningnya.


Manda membatin senyum-senyum sendiri diperlakukan baik oleh Rafa. Kini Manda punya ide untuk mengikat Rafa makin dalam.


"Hiks," isak Manda mulai pura-pura menangis dan berakting lagi.


"Ada apa? Mengapa kamu menangis?" kaget Rafa melihat Manda menunduk dan sedang mengusap mata.


"Hiks, aku pikir kamu akan membunuhku. Ternyata kamu mau menerima Rara jadi anakmu, aku-" ucap Manda menyentuh wajah Rafa dan menatap dengan ekspresi buatannya.


"Aku sangat senang ada orang baik sepertimu di dunia ini, mereka sangat jahat padaku, mereka mengusirku. Selama ini, aku bertahan demi anak-anak kita, aku sendirian mengandung dan melahirkan anak kita diluar sana tanpa bantuan siapa-pun,"


"Hiks, aku memang menyedihkan," lanjut Manda terlihat serius menangis. Padahal dalam hati, Manda ingin muntah sudah berakting di depan Rafa. Mendengar keseriusan Manda, akhirnya Rafa memeluknya. Hatinya luluh dan kasihan dengan wanitanya.


"Jangan menangis, biarkan aku yang akan mencukir balikkan orang-orang itu. Mereka akan menderita lebih dari apa yang telah kamu lalui. Sekarang hapus air matamu, sayang." Rafa menenangkannya, sikap kasarnya tiba-tiba hilang.


"Yes, aku berhasil juga menjinakkan psikopat ini!" batin Manda kegirangan.


Manda pun tersenyum kemudian menarik tangan Rafa ingin keluar menemui Rara.


"Kalau begitu, kamu maukan akui Rara sebagai anakmu?" tanya Manda berdiri diikuti Rafa.


"Tentu saja, dia cantik seperti Ibunya."


Manda terkejut dipuji, wajahnya merona namun seketika hilang.


"Tidak-tidak Manda! Kamu tidak boleh jatuh cinta dengan dia! Kamu harus fokus dengan tujuanmu ke sini!"


Manda melirik Rafa yang berjalan di sampingnya, kemudian melihat tangannya digenggam oleh Rafa. Hatinya kini bimbang terhadap Rafa.


"Mommy," panggil Rara menghampirinya bersama Pak Toby. Tapi Rara merasa aneh karena Rafa masih memegang tangan Ibunya.


"Rara, sebenarnya-" ucap Manda terhenti ketika Rafa tiba-tiba berlutut di depan Rara.


"Uncle, ada apa denganmu?" tanya Rara polos. Rafa tersenyum kemudian memeluk Rara dengan kasih sayang.


"Panggil Daddy, aku adalah Ayahmu."


Deg!


Rara terkejut segera melepaskan pelukan Rafa.


"Mommy... apakah dia, Daddy Rara?"


"I-iya sayang, dia ayah kandungmu."


Rara tersenyum lebar kemudian memeluk Rafa. Gadis kecil ini menangis setelah mendengarnya.


"Hiks, Daddy kenapa tidak menemui Rara?" tangis Rara mengusap matanya.


"Maafkan Daddy, ini salah Daddy yang terlambat menemukanmu."


Sekali lagi Rara memeluk ayahnya. Manda merasa lega melihat keduanya dipersatukan.


"Kalau begitu, besok kita jemput Rain, Daddy."


Rafa terkejut kemudian berdiri melihat Manda.


"Rain? Siapa dia?" tanya Rafa serius, mengira Rain adalah pria milik Manda.


"Dia adalah kakak kembarnya Rara."


Deg! Kali ini Rafa yang makin terkejut. Rafa pun tersenyum lebar kemudian menggendong Rara. Dia nampak senang tahu dirinya punya anak kembar dari Sheila.


"Baiklah, besok kita akan menjemput kakakmu,"


"Kemarilah, malam ini kalian harus makan malam bersamaku." Kata Rafa melihat Manda lalu pergi bersama Rara ke ruang dapur diikuti Manda dari belakang bersama Pak Toby yang menatapnya curiga.


"Siapa wanita ini?"