
Sadar akan ada yang telah berbeda, Noah pun lebih memperhatikan wajah Nerin. Dia pun kembali bertanya dengan suara datar.
"Kamu siapa?"
Nerin menghembuskan nafas berat lalu duduk di kursi.
"Noah, jangan pura-pura kau seolah amnesia. Aku ini Nerin, istrimu," jelas Nerin jujur.
Bola mata Noah setengah melebar mendengarnya. Dia pun memalingkan wajahnya ke samping dan memijit kepalanya.
"Nerin? Apa dia Nerin mantannya, Rafa?" pikir Noah ingat delapan tahun lalu sebelum kecelakaan dia pernah dengar soal Nerin yang dulu pacaran sama Rafa.
"Benarkah itu?" tanya Noah tanpa melihatnya. Dia masih shock ditemani oleh Nerin.
"Itu benar Noah, dua minggu lalu kita sudah resmi jadi suami istri," jawab Nerin merasa Noah agak aneh. Seketika itupun Noah menoleh dan menunjuknya dengans sinis.
"Dasar pembohong! Kau pikir aku akan dengan mudah tertipu, Ha?" Noah tertawa tidak percaya.
"Hahaha, aku mana mungkin nikah sama wanita egois seperti kau! Keluar, kau bukan istriku! Sama sekali aku belum menikah denganmu!" ujar Noah mengursir sambil mendorong Nerin.
"Ahhhh... Noah! Kenapa kau kasar sekali padaku, kalau aku sampai jatuh, aku bisa keguguran!" balas Nerin mengujar marah.
"Apa, keguguran? Apa yang kau ucapkan itu!" Noah kembali shock, hingga kedua tangannya langsung mengepal tinju, dia sedang menahan emosi untuk tidak memukul, Noah mengira sedang berhadapan dengan wanita licik.
"Noah, aku ini lagi hamil anakmu, tapi kenapa kau seolah-olah lupa akan itu? Apa yang telah terjadi padamu?" Dua matanya mulai basah, Nerin berdiri di dekat Noah dan meraih tangan Noah kemudian meletakkannya di depan perutnya. Menggerakkan tangan Noah untuk mengelus-elus kandungannya.
"Coba kau rasakan, di dalam sini ada bayi kita." Nerin tersenyum. Namun sontak Noah menarik tangannya dan membentak dengan sinis.
"Keluarlah! Aku tidak bodoh, mana mungkin aku menikah, dan mempunyai anak denganmu! Keluarlah dari sini!" ujar Noah kembali mendorongnya hingga Nerin pun terhempas hampir terbentur ke tembok, untung saja ada Nyonya Liana datang dan dengan cepat menahan tubuh Nerin.
"Noah!" kata Nyonya Liana kaget melihat Noah sudah sadar tetapi ingin mencelakai Nerin. Jika saja tidak ada Nyonya Liana, mungkin Nerin bisa mengalami keguguran.
"Mami, suruh dia keluar! Dia sudah gila, mengaku kalau aku dan dia sudah jadi suami istri, tapi aku tidak pernah ingat sudah menikah maupun punya anak dengannya!" usir Noah dengan geram menunjuk Nerin.
Nyonya Liana terlonjak kaget mendengar pengakuan dari putranya. Dia pun mengelus lengan Nerin untuk jangan takut dan sabar menghadapi Noah sementara ini.
"Nak, kamu salah." Nyonya Liana menghampiri putranya.
"Salah? Salah apa, Mami?" tanya Noah tidak pahan.
"Nak, yang dikatakan Nerin itu benar. Kau dan dia sudah menikah, dan juga Nerin sedang mengandung cucu Mami, anak kalian."
Deg
Nerin yang terkejut mendengar mertuanya tahu soal kehamilannya pun mulai menunduk. "Ya Tuhan, bagaimana Mami tahu aku lagi hamil?" pikir Nerin merasa tidak pernah membocorkan kepada siapa pun kecuali Noah.
"Apa mungkin itu Noah sendiri? Jika begitu, harusnya dia tidak usah ngomong gini," gumam Nerin dalam hati merasa sedih dan gelisah dengan perubahan sifat dan sikap Noah.
"Stop, aku tidak punya ingatan pernikahan. Mami jangan coba-coba bohongi aku, ini tidak mempan untukku menikahi Sonia. Tapi gara-gara Mami dan Papi, aku kecelakaan! Ini semua gara-gara Mami!" ujar Noah ingat apa yang terjadi. Dia hanya mengingat ingatan terakhir sebelum Rangga masuk ke tubuhnya.
Nerin di sana mundur hingga mentok ke tembok. Dia agak tidak percaya jika Noah pernah sempat ingin menikah, namun Nyonya Liana menolak karena Sonia adalah wanita nakal.
Plaakkkk!
Nyonya Liana menampar wajah putranya dengan keras.
"Berhenti sebut nama wanita pelacur itu, dia tidak layak untuk memasuki atau menginjak kaki di keluarga Alkazen. Sekarang jangan kau alihkan masalahmu itu dengan sekarang!" kata Nyonya Liana dengan tegas lalu berbalik membawa Nerin keluar. Nerin menoleh sebentar, namun sorotan mata Noah seperti membencinya. Setelah pintu ditutup, Noah langsung melempar gelas ke lantai hingga pecah berhamburan.
"Ahhhh... kalian baji-ngan!" umpat Noah marah besar di ruang rawatnya.
"Mami, apa yang sudah terjadi?" tanya Nerin tidak mengerti mengapa Noah semakin membencinya. Dia sedang duduk bersama mertuanya untuk menunggu kabar dari Dokter.
Nyonya Liana menunduk, perlahan dia menangis.
"Nak, sepertinya Noah tidak lagi amnesia,"
"Maksud Mami, apa?" tanya Nerin lagi.
"Nerin, Noah pernah kecelakaan saat dia meninggalkan rumah dan itu gara-gara Sonia, wanita club malam yang suka bercinta. Namun setelah kecelakaan itu, Noah amnesia. Mami sangat senang, karena dia tidak ingat Sonia. Tapi sekarang, dia malah ingat setelah pernikahan kalian. Mami khawatir, Noah akan menceraikanmu, Nak," jelas Nyonya Liana memeluknya.
"Apa Noah dulu mencintai wanita itu?" tanya Nerin sedikit takut akan nasib bayinya.
"Ya, wanita itu sangat pintar memikat Noah. Tapi kau tidak usah takut, Mami dan Papi tidak akan biarkan itu terjadi. Kau harus menyakinkan Noah dengan cinta kalian."
Mendengar tutur kata mertuanya, Nerin cuma tersenyum kecil. "Cinta? Dari awal pernikahan ini tidak ada cinta, bagaimana aku dapat menyakinkannya?" pikir Nerin menunduk lalu mengelus perutnya. "Sayang, Mama pasti akan lakukan terbaik untukmu." Nerin berguman dalam hati pada bayinya.
Seketika itupun Noah keluar bersama Dokter. Dokter berkata jika Noah telah sepenuhnya baik-baik saja. Nyonya Liana dan Nerin merasa lega tak ada masalah lain. Walau begitu, Noah merasa jijik berdiri berdekatan dengan Nerin.
"Tidak, aku ingin ke tempat Sonia. Mami pergilah dengan pembantuku ini," tolak Noah dengan acuh dan tak lupa menghina Nerin.
"Dengar baik-baik, aku tahu apa tujuanmu sampai kau berani ngaku-ngaku sebagai istriku. Mulai sekarang, lebih baik jangan kau muncul lagi di depanku!" tambah Noah membentak hingga Dokter dan Nyonya Liana kaget. Nerin di sana cuma terdiam tak mau balas ucapan Noah, Nerin tidak mau membesarkan masalah di rumah sakit.
"Noah! Nerin ini istrimu bukan pembantu, sekarang pulang sama Mami!"
Plak!
Noah dengan kesal menepis tangan Ibunya lalu mendorong ke arah Nerin. Untung saja Nerin menangkap mertuanya sebelum jatuh ke lantai.
"Mami cukup! Aku sudah dewasa, aku tidak butuh sandiwara yang Mami buat ini, dia bukan istriku!" kata Noah lalu pergi. Lelaki itu belum sadar sepenuhnya jika dia telah melewati banyak waktu dan kejadian. Tidak ada kepingan yang terlintas di kepalanya soal Rangga.
Nyonya Liana menangis tersedu-sedu, sikap putranya benar-benar kembali kasar dan tidak ada cinta di mata Noah untuknya. Nerin mengepal tangan, dia marah dengan sikap Noah yang arogan dan kasar. Dokter pun menyarankan agar Noah dibawa ke psikiater.
Sementara Sheila, dia benar-benar takjub dengan semua ingatan yang dia dapat setelah melihat Noah. Rafa yang duduk di sebalahnya pun merasa lega karena Istrinya cuma kecapean saja. Tapi saat asyik membelai rambut Sheila, tiba-tiba ketiga anaknya datang lalu menghampirinya.
"Daddy, ada Om Jhosua!"
"Apa, Jhosua?" Rafa kaget dengan hadirnya mantan sekretarisnya. Rafa membuang muka, tapi kembali menoleh ketika suara wanita ikut masuk ke dalam ruangan.
"Hei, Sheila!" sapanya yang tidak lain adalah Valen. Sheila yang di sana pun mengerutkan kening melihat ada dua orang asing.
"Umh..., kalian siapa?"
Semua orang terkejut mendengarnya. Jhosua pun maju lalu bicara ke Rafa dulu.
"Presdir Rafa, kedatangan saya ke sini tidak ada maksud jahat, saya memang dulu telah salah pada Presdir. Tapi sekarang saya harap Presdir tidak mengusir kami,"
"Lantas buat apa kalian ke sini? Dan kenapa Valen bisa bersamamu?" tanya Rafa melirik benci ke Valen.
"Eh, malam itu aku hampir dibunuh oleh Delsi, tapi untung ada Jhosua yang selamatkan aku, jadi aku selama ini tinggal dengannya," jawab Valen duduk di kursi lain. Triple R mendekati Ibunya dan menyimak baik-baik.
"Oh gitu, aku pikir kau sudah mati dikubur sama Delsi," ucap Rafa duduk santai di sofa di depan Jhosua dan Valen. Valen cuma menggertak dikira sudah wafat.
"Oh ya Presdir, aku kemari ingin memberikan ini," ucap Jhosua meletakkan sebuah buku dia tas meja.
"Wah, ini buku apa?" sahut Rara mengambil buku itu lalu kembali duduk di dekat Ibunya sambil melihat-lihat sampulnya bersama Rain dan Rein.
"Apa yang kau berikan pada anakku itu?" tanya Rafa selidik merasa curiga.
"Itu buku Ibu kalian, sebulan yang lalu, Nona Sheila datang kepadaku lalu memberikan kerangka cerita untuk aku bukukan. Jika Presdir ragu, anda bisa tanyakan ke Nona Sheila."
Rafa pun menoleh ke istrinya lalu bertanya.
"Apa itu benar, kau pernah ke tempat Jhosua?"
Sheila belum menjawab, dia pun mengambil bukunya di tangan Rara lalu terkejut dengan judul buku itu. "Reinkarnasi? Sejak kapan aku..."
"Eh tunggu, kenapa isinya sama dengan yang ada di ponselku saat itu?"
Sheila beranjak kemudian duduk di dekat Rafa.
"Aku rasa memang pernah, ini sama seperti yang aku baca. Terima kasih kalian berdua sudah mau membukukannya," ucap Sheila yakin. Dia tersenyum merasa dalam hati harus membaca isi bukunya yang ditinggal Manda.
Jhosua awalnya heran dengan cara bicara Sheila yang terasa berbeda. Walau begitu, dia lega karena dapat menyelesaikannya. Jhosua pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Valen masih tinggal. Tentu saja Valen masih ragu untuk pulang ke rumahnya, takut sama ayahnya. Tapi Triple R memberi saran untuk membantunya.
Dan benar, Bos Mafia yang bersedih selama ini langsung memeluk Valen setelah diantar pulang oleh ketiga anak kembar Sheila. Valen menangis terisak-isak, diberi pelukan hangat oleh pria yang telah membesarkannya itu. Kebahagiaan satu demi satu dapat dirasakan sekarang oleh Valen. Cinta tidak perlu dicari diluar sana, karena cinta yang kuat itu sudah ada di depan matanya.
Sheila di dalam mobil yang duduk bersama Rafa hanya tersenyum saja melihat triple R diacak-acak rambutnya oleh ayah Valen. Keduanya ikut senang dapat merasakannya.
Triple R pun pamit lalu berlarian dengan riang ke mobil. Ketiganya pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Valen. Sheila yang duduk di depan merasa bersyukur sambil mengelus perutnya. Hari ini dia dinyatakan sedang hamil anak keempat. Awalnya Sheila sangat aneh karena ini baru pertama kali dia rasakan dengan jelas.
"Daddy, kita pergi liburan yuk bulan ini," pinta Rara dan Rain merengek di kursi belakang.
"Baiklah, Daddy akan bawa kalian liburan ke luar negeri."
"Yeeyss asssikk liburan!!!" Rara dan Rain bersorak girang hingga suara mereka memenuhi isi dalam mobil, sampai-sampai Rein yang duduk di antara dua adiknya jadi risih.
"Ihhh, berisik tau!" cetus Rein kesal.
"Wleek, biarin!" balas Rara dan Rain meledek. Sheila dan Rafa tertawa kecil melihat anak-anaknya. Dua mata Sheila pun menatap sampul buku di tangannya. Dia tidak tahu apa ini perlu dipercaya atau tidak, tapi Sheila cukup mensyukurinya. Dia pun dengan senyum manisnya membaca judul buku itu.
"The cruel ceo wife reincarnation."
Besok Tamatšhihihi