Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 115 : Sedikit Takut


Kepingan ingatan terus bermunculan di dalam kepalanya, hingga moment-moment setiap waktu yang tidak pernah dia miliki sebelumnya mulai dia terima dengan baik. Jika dipikirkan, mungkin ini terdengar konyol baginya, tapi dengan adanya bukti di depan matanya, dia yakin jika Tuhan telah berpihak padanya dan memberinya pertolongan selama ini.


"Aku tidak tahu mau katakan apa, tapi yang jelas terima kasih kau telah membantuku,"


Dia menghela nafas sambil mengukir senyuman lega setelah turun dari mobil bersama suaminya. Hatinya pun mulai terbuka untuk menerima pria yang berdiri di sampingnya itu. Dia berjalan berdua ke dalam pemakaman, kemudian jongkok di dekat satu makam. Itu adalah makam Ibu kandungnya, Nyonya Charlotte.


"Mama, ini aku Sheila, aku datang bersama menantu dan cucu Mama. Maafkan Shei, baru ini mengunjungi Mama dan terima kasih Mama."


Dia menyeka air matanya, sambil satu tangan menyapu permukaan makam sang Ibu. Seikat bunga diletakkan di batu nisannya oleh Rafa. Dia pun bangkit dan menggenggam tangan suaminya itu. Dia sangat bahagia hari ini.


"Terima kasih, sayang."


Rafa mengangguk dan mengecup lembut puncak kepala istrinya. Dia yang seminggu lalu benar-benar ketakutan setelah istrinya dinyatakan meninggal, namun atas kuasa dari sang pencipta, dia kembali berkumpul dengannya, ini keajaiban dari kesabaran cintanya dan doa dari mereka.


"Mommy,"


Setelah berdoa, tiba-tiba anak-anaknya memanggil. Tiga bocah dengan rupa yang sama mendekatinya.


"Mommy, kami boleh ikut berdoa?"


Satu anggukan menjawab pertanyaan mereka. Keluarga kecil itu pun sama-sama mendoakan Nenek mereka. Setelah membersihkan makam, mereka pun pergi meninggalkan pemakaman.


"Daddy, kita mau kemana sekarang?"


"Ke rumah sakit dulu," ucap Rafa menjawab putra bungsunya.


"Untuk apa kita pergi ke sana?"


"Sayang, apa kamu sengaja melupakan soal Noah?" Rafa menoleh sebentar ke istrinya yang bertanya barusan.


"No-noah, siapa dia?"


Tiga bocah cilik yang duduk dibelakang terlonjak kaget mendengar Ibunya bertanya, begitu pula Rafa terkejut hingga dia segera menghentikan mobilnya.


"Sayang, apa kau sedang berpura-pura amnesia hari ini?" tanya Rafa menyipitkan mata.


"Untuk apa gunanya aku harus amnesia padamu?" katanya dengan santai.


"Bisa saja ini kau manfaatkan agar aku lupa dengan ucapanmu seminggu lalu di saat berlangsungnya pernikahan Noah," jelas Rafa melipat tangan di depan dada.


"Mommy sungguh tidak ingat, Om Noah?" sahut tiga anaknya merasa aneh.


"Bentar dulu, ucapan apa yang sudah aku ucapkan saat itu?" tanya Sheila merasa baru tahu jika seminggu lalu dia datang ke pernikahan Noah. "Hm... sepertinya ingatan ini belum aku dapatkan, apa jangan-jangan ini ingatan terakhir yang belum aku ingat?" pikirnya mangut-mangut.


"Sayang, kau ini benar-benar pintar ya berakting! Oke, walau begitu, aku tidak akan membiarkanmu untuk bertemu diam-diam dengan mantanmu itu, kau akan aku kawal dua puluh empat jam mulai sekarang!"


Degg


Tiga bocah tersentak mengetahui Ibunya dan Noah pernah berhubungan di masa lalu. Tapi Sheila lebih tersentak dari tiga anaknya.


"Hahaha, aku ini tidak pernah punya mantan, kamu jangan ngomong gitu deh," tawa Sheila merasa geli, seolah-olah dia sedang dituduh di depan kedua mata anak-anaknya.


"Ya sudah, setelah kita sampai ke rumah sakit, aku akan paksa Noah katakan yang sebenarnya. Kau perlu dicurigai."


Sheila kembali menahan tawa melihat ekspresi suaminya yang cemberut itu. Perkataan Manda yang dulu terlontar tampaknya belum dilupakan oleh Rafa.


"Hihihi, Daddy sepertinya lagi ngambek tuh," bisik Rara kepada dua saudaranya. Ketiganya ikutan menahan tawa. Terutama Rein yang kini merasa lega dapat melihat senyuman Ibunya lagi.


Sesampainya di rumah sakit, mereka pun mendatangi salah satu ruangan, setelah itu Rafa membuka pintu di depannya, tampak hanya ada Nerin yang berada di samping Noah, pria yang belum kunjung sadarkan diri.


"Nerin,"


Rafa mendekatinya disusul oleh Sheila dan si kembar yang asik makan es krim. Nerin bangkit dari kursi dan menyambut mereka tapi dua matanya fokus melihat Sheila.


"She-sheila, ternyata kau sudah sembuh total, apa perasaanmu sekarang baik-baik saja?" ucap Nerin bertanya dengan senyuman manis sambil memegang tangan Sheila.


"Itu..."


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rafa aneh melihat istrinya tampak kebingungan.


"Itu apa, Sheila?" tambah Nerin bertanya juga.


"Itu maaf, kamu siapa?"


Degg


Nerin menarik tangannya, dia amat terkejut mendengarnya, tak terkecuali Rafa yang tercangang dan si kembar, hingga es krim mereka berjatuhan ke lantai.


"Mommy, ini Bibi Nerin, istrinya Om Noah." Rara menjelaskan sambil nunjuk Noah. Sheila pun mengalihkan pandangannya ke Noah. Dia pun mengamati serius wajah pria itu dan seketika kedua kakinya melangkah mundur.


"Mommy, kenapa dengan mu?"


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Rafa bersama si kembar khawatir melihatnya tampak kesakitan di bagian kepala. Nerin yang di sana sedikit takut, takut dia telah melukai Sheila tanpa sengaja.


"Ahhhhh!" jerit Sheila tiba-tiba mengingat hal yang mengerikan. Sontak Rafa pun panik, dia kemudian melihat si kembar.


"Lebih baik aku bawa Mommy kalian periksa dulu, kalian mau ikut atau di sini?" tanya Rafa.


"Ikut dong, Daddy!"


Mereka membawanya keluar dan meninggalkan Nerin yang dilanda rasa cemas. "Semoga dia baik-baik saja," batin Nerin mengelus dadanya. Tiba-tiba, dia yang baru duduk langsung dikejutkan dengan suaminya yang mulai membuka mata.


"Noah!"


Nerin bangkit berdiri membantu Noah bersandar, kemudian menunggu Noah melihatnya. Dia senang sekali sampai-sampai tersenyum lebar. Akan tetapi senyuman itu hilang setelah Noah melihatnya dan berkata dengan pandangan sinis.


"Ck, kamu siapa?"


Nerin terlonjak kaget dianggap orang asing oleh suaminya.


Dua episode lagi. yeeey...


Gimana nasib Manda dan Rangga? Itu diepisode akhirnya, tunggu saja ya😆.