Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 54 : Mengatur Strategi


Tiga bocah lari masuk ke dalam rumah. Setelah mendengar niat jahat Delsi, tiga anak kembar ini panik. Mereka naik ke kamar Ibunya dengan nafas terengah-engah.


Tok tok tok


Mereka mengetuk pintu secepat mungkin. Rafa yang lagi duduk berpikir untuk membantu Manda menyingkirkan Ny. Marina dan Delsi di rumah ini dikejutkan oleh suara ketukan itu. Rafa pun menengok ke kamar mandi, ia juga menunggu Manda keluar dari sana. Tapi karena teriakan anak-anaknya, Rafa segera membuka pintu.


Cklek!


"Daddy!" Mereka menerobos masuk lalu dengan cepat mengunci pintu.


"Ada apa dengan kalian?" Rafa mengernyit heran. Rara meraih tangan Rafa kemudian menjawab sangat panik.


"Mommy dalam bahaya, Dad."


Seketika Rafa tersentak, ia pun duduk di kursi lalu menyuruh anak-anaknya ikut duduk bersamanya.


"Kemarilah kalian, jelaskan kenapa kalian bicara begitu pada Daddy?"


Rein, Rara dan Rain pun menarik nafas kemudian bersama-sama menjawab dengan suara kecil.


"Dad, Bibi tua di rumah ini ingin meracuni Mommy!"


"APA! MERACUNI?" Rafa sontak berdiri.


"Itu benar Daddy, Rain barusan menguping di kamar Bibi tua itu," ucap Rain ikut berdiri.


"Kami iseng-iseng ingin melihat Bibi tua itu, tapi Rain malah mendengar niat jahatnya, Dad," sambung Rara ikut berdiri.


"Daddy, kita harus hati-hati sama Bibi tua itu. Daddy jangan biarkan Mommy diracuni oleh mereka." Rein ikut bicara.


Rafa pun duduk kembali, ia menggertakkan rahang. "Rupanya, mereka bear-benar jahat pada istriku. Akan aku buat niat kalian ini berbalik ke kalian sendiri." Rafa bergumam dalam hati. Ia pun melihat anak-anaknya lalu dengan tenang bicara.


"Kalian pergilah ke kamar kalian, soal nanti malam biar Daddy yang akan mengurusnya. Tapi kalian harus bantu Daddy juga," ucap Rafa pada tiga anaknya.


Mereka sangat senang dan bersemangat. "Baik Daddy," ucap ketiganya kompak lalu keluar dari kamar untuk mengawasi Delsi dan Ny. Marina.


Cklek!


Manda baru keluar dari toilet. Ia heran melihat Rafa sedang berpikir keras. Ia pun duduk di dekat Rafa kemudian menyentuh bahu Rafa. Karena penasaran, Manda bertanya.


"Apa ada sesuatu yang sudah terjadi? Kenapa kamu sedikit gelisah?"


"Shei, kamu dengar arahanku nanti malam. Ingat, jangan kamu dekati Delsi, kamu harus jauhi dia," ucap Rafa dengan tatapan serius.


"Loh ada apa? Kenapa harus dijauhi?" Manda makin terheran-heran.


"Barusan anak-anak kemari, mereka bilang kalau Delsi akan berniat jahat padamu. Dia ingin meracunimu,"


Deg! Jantung Manda berdegub kencang. Manda pun mengepal tangan, menggertakkan rahang. Dia sangat marah mendengarnya, marah pada Delsi.


"Untung saja anak-anak kita sangat cepat datang kemari. Jadi ku harap kamu jangan jauh dariku," ucap Rafa melihat Manda yang diam di sampingnya. Manda tersenyum manis, kemudian kepalanya bersandar di dada Rafa.


"Tidak usah takut, aku tidak semudah itu akan disingkirkan. Sekarang kamu tidak ke kantor lagi?"


Rafa menggelengkan kepala mendengar ucapan Manda.


"Shei, aku kuatir padamu. Jadi aku akan di sini untukmu, sayang."


Chup!


Chup!


Manda balas mencium, tapi ini beda. Ciuman itu tepat di bibir Rafa. Rafa tentu kaget, namun ia menyukai Manda yang berinisiatif menciumnya. Rafa pun tak mau kehilangan kesempatan, ia membalas ciuman itu menjadi makin panas. Keduanya bercumbu kembali di dalam kamar.


Sedangkan anak-anak kembar Rafa sedang mengatur strategi untuk menghentikan niat jahat Delsi. Rein yang anak tertua memberi arahan pada dua adiknya. Sedangkan Rara dan Rain sangat patuh diperintah.


"Rain, kamu pergilah ke atas. Awasi Bibi tua itu," perintah Rein pada adik bungsunya.


"Baik kapten!" Rain segera lari untuk mengawasi Delsi.


"Rara, kamu pergilah ke dapur. Carilah tempat persembunyian, kamu harus lihat Delsi mau melakukan apa nanti di dapur," perintah Rein lagi pada adiknya, Rara.


"Siap Bos!" Rara pun dengan semangat masuk ke dapur.


"Baiklah, sekarang giliranku untuk mengawasi Nenek tua itu!" Rein tanpa rasa takut sama sekali menuju ke kamar Ny. Marina. Ketiganya sudah membuat strategi masing-masing.


Jam makam malam pun tiba, Rain yang berjaga-jaga segera sembunyi. Ia terkejut melihat Delsi sangat mencurigakan keluar dari kamar. Rain pun mengikutinya dari belakang. Namun Delsi berhenti, tiba-tiba bulu kuduknya merinding merasa ada yang berjalan di belakangnya. Delsi pun sedikit takut lalu berbalik.


"Eh, tidak ada orang? Apa ini cuma perasaanku saja?" pikir Delsi segera jalan kembali. Rain yang sembunyi, ia mengikutinya lagi. Namun perasaan Delsi makin berkecamuk, ia merasa ada mahluk yang mengikutinya.


"Ish, kok jadi horor gini sih!" desis Delsi gemeteran dan segera mempercepat langkahnya menuju ke dapur sebelum Tn. Damian pulang dari perusahaan.


"Kenapa bibi tua itu ketakutan?" pikir Rain merasa ada yang aneh juga.


"Iiiih, apa jangan-jangan ada hantu?" Rain ikut ketakutan, ia pun mengikuti lagi Delsi. Membuang perasaannya itu.


Sedangkan Rara, ia sudah berada di sebuah dalam laci lemari. Rara tersentak setelah ponselnya menerima notif dari Rain kalau Delsi ada di dapur. Rara pun mendengar suara Delsi. Rara segera mengintip Delsi yang berdiri membelakanginya. Rara sangat terkejut. Begitu jelas Delsi menaburkan sebuah bubuk di dalam panci berisi sup yang di masak oleh pelayan.


"Ahahaha, kamu akan tersingkirkan malam ini Manda. Anak-anakmu juga akan tertimpa sepertimu."


Delsi tersenyum licik membuat Rara menutup mulutnya. Ia sedikit takut melihat ekspresi Delsi yang jahat. Delsi pun keluar, ia tinggal tunggu sup itu disajikan untuk Manda dan anak-anaknya. Tapi Rara yang marah segera keluar dan mengambil panci itu. Rara melihat mangkuk sup yang disimpan oleh Delsi. Sup yang tidak diberi bubuk karena sup itu untuk Ibunya. Rara pun mengambil kursi, ia naik dan mengambil mangkuk itu lalu mencampurkannya ke dalam sup di dalam panci. Setelah itu, Rara mengambil sup lalu menuangkan ke mangkuk Ny. Marina tadi.


"Bibi tua, anda sendiri yang mencari gara-gara. Rara tidak akan biarkan Bibi tua mencelakai Ibuku!" Rara pun meletakkan sup itu ke dalam lemari. Ia menyeringai tipis sudah mengubah rencana Delsi.


"Baiklah, sekarang aku harus kasih tahu Daddy dan Mommy untuk tidak memakan sup ini."


Rara keluar dari dapur dengan hati senang, ia pun tak sengaja berpapasan dengan Rain. Kedua bocah ini pun mengangguk sudah melakukan tugas mereka. Sekarang giliran Rein yang mengawasi Ny. Marina. Mengawasi rencana apa yang ingin diatur oleh Ny. Marina.


Kedua bocah pergi ke kamar Rafa. Mereka masuk menghampiri Rafa dan Manda yang sedang membuka laptop untuk mencari info tentang kematian Ny. Charlotte. Namun aktivitas mereka terhenti, setelah Rara dan Rain bicara pada mereka.


"Mommy dan Daddy nanti jangan makan sup ya," larang Rara duduk di dekat Rafa.


"Kenapa sayang?" tanya Manda melihatnya.


"Bibi tua itu kasih racun di panci sup itu. Kami tadi mengawasinya, sekarang lebih baik kita makan di luar saja Mommy," usul Rain ikut duduk.


Manda makin geram pada Delsi. "Ck, dia bergerak makin cepat. Segitunya dia membenciku?" gumam Manda ingin keluar untuk menangkap Delsi.


"Tenanglah, Shei. Jangan gegabah, kita ikuti permainannya dulu. Tapi jangan makan apa-pun, biarkan mereka makan duluan. Buktikan kalau sup itu sup yang enak untuk dimakan."


Manda pun duduk, ia tidak sabar apa yang akan terjadi nanti.


"Baiklah, berkat anak-anak kita tahu mana yang diracuni oleh Delsi. Terima kasih sayang, lain kali kalau mau melakukan apa-pun, tolong kasih tahu Mommy. Kalian jangan suka main sama wanita ini, Mommy takut kalian dilukainya," ucap Manda cemas.


"Tenang saja Mommy, kami ini tidak mudah dibodohi olehnya." Keduanya tersenyum bersama pada Manda dan Rafa. Tiba-tiba, pelayan datang memanggil mereka. Kini waktunya untuk makan malam bersama dan menghadapi dua rubah di rumah Tn. Damian.