
Sesuai dengan rencana, malam ini Valen bekerja sama untuk diam-diam menangkap Delsi. Dia pun memberi nomor Delsi namun setelah dilacak oleh polisi dan Rafa malah hasilnya sama yaitu berada di lokasi yang telah di acak-acak, yaitu nomornya sulit untuk dipastikan benar. Walau usaha itu gagal, rekan polisi mencoba untuk ke tempat tinggal yang telah diberitahu oleh Valen. Namun lagi-lagi tempat itu kosong.
Dengan laporan yang diterima Rafa itu, membuat mereka sulit menangkap Delsi yang tampak sangat berhati-hati dan selalu waspada pada polisi.
"Rafa, bagaimana hasilnya?" tanya Manda yang berdiri di samping Rafa. Keduanya berada di perusahaan termasuk Valen dan juga sekretaris Daren.
Rafa menggertakkan rahangnya, dia dengan sinis menatap Valen.
"Cih, apa kau serius bekerjasama? Mana mungkin semua petunjuk darimu tidak ada hasil sama sekali, apa kau sedang berbohong pada kami, Valen?" Rafa bangkit dari kursi lalu maju meninggalkan laptopnya di atas meja.
"A-apa maksudmu?" tanya Valen deg-degan ditatap oleh Rafa dan juga Daren.
"Polisi telah melacak kontak Delsi yang kau berikan, namun lokasinya malah teracak. Apa jangan-jangan kau sedang bermain di belakang kami?" jawab Rafa benar-benar tidak percaya Valen tulus atau tidak.
"Itu tidak mungkin, aku mana berani berbohong padamu!" bantah Valen.
"Lantas mengapa belum ada hasilnya!" ujar Rafa memarahinya.
"Ke-kenapa malah menyalahkanku? Itu kontak Delsi yang dua hari ini tersambung padaku, mungkin kau agak kurang teliti melacaknya," ucap Valen membela lalu menatap Manda yang tampak juga meragukan dirinya.
Rafa mengepal tangan, dia berjalan ke mejanya lalu membalikkan laptopnya ke Valen. Sekretaris Daren dan Manda memperhatikan beberapa titik yang telah ditandai oleh Rafa.
"Lihat dengan jelas, kontak Delsi berakhir di titik jalan ini, dan polisi telah mengeceknya. Hasil yang mereka dapat malah sebuah tanang kosong dengan luas 50 hector. Mana mungkin Delsi tidur di atas rumput dan tanah yang berlumpur tanpa atap!"
Valen tercengang, dia memang belum pernah ke tempat tinggal Delsi. Valen menggigit bibir bawahnya, dia bingung bagaimana dia membantah.
"Rafa tenanglah, kita jangan terlalu membentak Valen. Dia tidak salah," ucap Manda menggenggam tangan Rafa yang dari tadi mengepal.
"Tidak salah? Kau kira dia tidak salah? Pikiran macam apa itu? Kau kenapa terus membelanya, ha!" ujar Rafa agak kecewa. Manda mendesis ke Rafa yang tiba-tiba menjengkelkan seperti Tuan Raka.
"Sayang! Dari pada kita mengandalkan ini, lebih baik kita membuat dia keluar sendiri dari habitatnya," usul Manda.
"Hm, caranya?"
"Valen culik aku malam ini, bawa aku ke hadapannya langsung."
Rafa melongo, dia amat terkejut begitupula Valen dan sekretaris Daren.
"Tidak! Mana mungkin kau lakukan ide bahaya itu, aku tidak mau mengambil resiko, Shei!" tolak Rafa membantah, dia tidak mau istrinya berbuat konyol.
"Kau tidak mau, tapi aku yang mau!" tegas Manda yakin seratus persen.
"Sudah cukup, kita lanjutkan besok! Kau harus ingat, kita harus datang ke pernikahan Noah dan Nerin. Sekarang malam ini kita hentikan dulu."
Rafa menutup laptopnya, dia pun menarik Manda dengan paksa meninggalkan perusahaan. Dia membawa istrinya yang keras kepala untuk pulang. Manda tentu memberontak, dia sangat ingin membawa Delsi masuk ke jeruji besi bersama Nyonya Marina dan ayahnya.
Valen dan Sekretaris Daren pun segera pulang. Valen tidak mau pulang kemalan karena pasti akan diberi cambuk jika itu terjadi. Sedangkan Daren, dia bergegas pulang merindukan istri dan anaknya.
Namun dalam perjalanan pulang, Valen yang menaiki taksi amat terkejut dengan sang supir yang dari diam tiba-tiba bersuara.
"Nona Valen, apa kau senang telah mengingkari perjanjian kita?"
Degg...
Valen tersentak, dia pun menatap pantulan cermin. Dia yang dari tadi menunduk, kini baru sadar jika dia berada di lingkaran jerat Delsi.
"De-delsi, kau... bagaimana kau bisa-"
"Hooh, terkejut ya," potong Delsi menghentikan taksi lalu menengok, dia membuka topinya dan menyeringai. Wajah yang jelas itu menggertakkan hati Valen, entah dia tiba-tiba ingin memukul Delsi.
"Cih, kau rupanya mengawasiku!" decak Valen mencoba tenang.
"Oh tentu dong, kamu pikir aku dengan mudah membiarkanmu lepas dari jangkauanku? Oh... tidak semudah itu," jawab Delsi mengeluarkan pisau cutter baru dan tajam. Ujung pisau itu berkilau seakan ketajamannya itu bisa membuat seseorang menjerit. Tapi bagi Valen itu tidaklah menakutkan, dia telah kebal dengan pisau seperti itu. Walau demekian, Valen tetap berhati-hati.
"Hahaha, minta maaf? Kau pikir aku akan nyerah? Oh jangan terlalu senang dulu, kau tidak tahu betapa sakitnya hatiku dari dulu. Sheila mendapat segalanya, dia lahir di dalam keluarga kaya, sedangkan aku malah sebaliknya. Dia merebut ayahku, dia merebut hakku! Dia mengambil segalanya, dan sekarang dia bahagia di bawah penderitaanku! Dan kau malah ingin aku nyerah dan lebih menderita lagi, ha!" ujar Delsi menodongkan pisau ke Valen. Dia seperti tahu isi kepala Valen.
Valen menelan ludah, dia melihat mata Delsi berkaca-kaca ingin menangis, tapi Valen tahu itu salah Delsi karena dia dengki pada Sheila. Sifat dengki itu merusak hidupnya.
"Kau terlalu serakah, dari dulu kau dengki pada semua orang dan aku yakin yang merebut kebahagianmu itu bukan Sheila tapi Ibumu sendiri," kata Valen menyingkirkan pisau itu, sontak Valen menjerit tiba-tiba Delsi menerjang mencekiknya.
"Valen, kau telah membuatku marah! Ibuku tidak ada sangkut pautnya, jangan kau bawa-bawa Ibuku dengan masalah ini," cekik Delsi. Valen tidak selemah itu, dia balas mencekik Delsi.
"Vangsat! Gue tahu kau ini sebenarnya sudah gila! Penjara tidaklah pantas untukmu, hanya rumah sakit jiwa yang dapat kau tempati di bumu ini!"
Ahhhhh....
Keduanya saling melukai satu sama lain di mobil taksi, namun Delsi dengan gesit meraih cutternya dan langsung menyayat urat nadi Valen. Valen menjerit begitu keras ketika tangannya berdarah. Delsi terkejut melihat darah mengalir dari pergelangan tangan itu, tapi dia tersenyum menyeringai membuat Valen yang menahan sakit dan nyeri membola melihat Delsi ingin menusuk kepalanya.
"Kau tahu Valen, aku pernah membunuh di umurku yang ke 10 tahun, dan mungkin di usiaku ini aku akan mengulanginya seperti aku membunuh Ibu kandung Sheila."
"Ck, dasar setan betina!" ujar Valen ingin kabur sebelum dia terbunuh, namun seketika pintu mobil diketuk oleh seseorang, Delsi mundur ketika Valen berteriak minta tolong dengan cukup keras. Delsi pun keluar dari mobil, sontak dia dikenali oleh orang itu.
"No-na Delsi?"
"Sialan!" decak Delsi bergegas kabur sebelum dirinya ditangkap. Benar sekali, orang itu ingin mengejarnya namun dia berhenti dikala mendengar suara lirih dari dalam mobil. Dia pun menengok ke dalam mobil, dan kembali membola mendapati Valen terbaring dengan darah yang mengalir dari sayatan itu .
"Nona Valen!?"
Dia pun mengeluarkan Valen yang akhirnya pingsan. Berkali-kali dia membangunkan Valen namun Valen terlanjur tak sadarkan diri. Dia pun membawa Valen meninggalkan mobil taksinya dan tanpa sengaja ponsel Valen jatuh dan bergelinding masuk ke bawah mobil taksi.
Delsi dari jauh berdecak geram melihat Valen diselamatkan. "Brensek, gobl*k, bego, tol*l, bodoh, ngapain orang itu bisa ada di jalan ini sih?" decit Delsi memaki-maki sendirian. Dia pun membuang ponselnya dan segera pergi dari tempatnya.
Sedangkan Manda dan Rafa kembali ke rumah di mana anak-anaknya telah menunggu, keduanya tampak mendiami satu sama lain. Akan tetapi, ketika keduanya menaiki anak tangga. Triple R berteriak jika terjadi sesuatu pada Valen. Ketiganya baru saja mendapat lokasi terakhir kontak Valen yang berhenti di jalan SDG1.
"Daddy! Mommy! Gawat!"
Ketiganya tidak lupa membawa laptop untuk menunjukkan ke orang tua mereka.
"Ada apa dengan kalian?"
"Daddy dan Mommy coba lihat ini, pelacak yang Daddy pasang ke ponsel Bibi jahat itu tiba-tiba berhenti dan tidak bergerak di jalan ini, sepertinya sudah terjadi sesuatu padanya sekarang.
Dua mata Manda dan Rafa membulat lebar, dia pun mengamati titik yang ditunjuk ketiga anaknya. Rafa bergegas keluar dan menelpon polisi untuk datang mengeceknya. Dia memang sudah sepakat pada Valen untuk menaruk pelacak ke ponselnya. Dan ternyata sekarang pelacak itu tiba-tiba tidak bergerak dari titik itu lagi. Rafa berpikir, mungkin saja Valen dengan sengaja menjatuhkannya.
"Pak Toby, tolong jaga anak-anak lagi, aku harus ikut dengan ayah anak-anak dulu," kata Manda ingin ikut mengeceknya.
"Mommy ingin pergi lagi?" tanya Triple R.
"Ya sayang, kalian tetap di sini demi keselamatan kalian. Mommy sangat bangga kalian masih mau mengamati wanita ini, sekarang kalian naiklah tidur duluan," jawab Manda mengecup bergantian kepala anak kembarnya.
"Baik, Mommy. Hati-hati di jalan," ucap mereka serempak.
"Dadah sayang!" teriak Manda kemudian bergegas menyusul Rafa. Pak Toby pun membawa ketiganya naik dan menyuruh pelayan sekaligus penjaga lain untuk menutup jendela, pintu serta disuruh berjaga-jaga.
"Loh sayang, kenapa ikut masuk ke mobil?" kaget Rafa baru mau berangkat tapi Manda buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Ikutlah, mana mungkin aku diam saja di rumah," ucap Manda memakai sabuk pengaman.
"Sayang, kamu keluarlah, tidak usah ikut." Rafa menunjuk ke luar.
"Hais, tidak mau!" tolak Manda sudah duduk manis.
"Astaga ngeyel juga nih istriku, benar-benar keras kepala!" Rafa berdecak lalu dia pun terpaksa membawa Manda bersamanya. Mobil pun melaju meninggalkan mansion.