
Selesai sarapan pagi, Rafa tanpa pamit malah pergi dari mansion. Ini membuat Manda heran, ia cuma berpikir mungkin saja Rafa sedang mengurus pernikahannya nanti malam. Namun bagi Manda, suara ******* hot milik Rafa tadi benar-benar konyol hingga ia jadi ikutan mendesah kepedasan dan tak bisa melupakan kejadian barusan. Manda sekarang duduk di sofa bersama tiga anak kembarnya yang sibuk dengan kegiatan mereka. Rein yang sibuk main game, Rara yang sibuk menggambar, Rain yang sibuk membaca buku.
"Rein, Rara, Rain," Manda mulai bicara.
"Ya Mommy, ada apa? Mommy ingin bicara?" ketiganya kompak bertanya.
"Ahaha itu, Mommy-" Manda berdiri kemudian cengingiran. "Mommy mau keluar sebentar, kalian di sini tunggu Oma dan Opa kalian. Kata Daddy barusan, mereka akan ke sini mempersiapkan setelan kalian. Jadi Mommy harap kalian jangan nakal di dahadapan mereka."
"Wah, siap Mommy," ucap Rara mengangguk.
"Mommy mau kemana pagi-pagi ini?" sahut Rain bertanya.
"Mommy mau ke rumah kakek kalian yang lain, jadi Mommy pergi dulu ya sayang,"
Chup!
Chup!
Chup!
Manda mengecup kepala masing-masing tiga anaknya. Ia pun keluar meninggalkan mansion menggunakan taksi. Manda tidak mau Rafa tahu kepergiannya.
"Pak tolong ke jalan XXX, antarkan aku ke rumah Tuan Damian," perintah Manda pada pak supir.
"Baik Nona." Pak supir yang menyetir pun melaju ke kediaman keluarga William. Tak makan waktu lama, mobil taksi berhenti. Setelah turun dari taski, Manda dengan angkuhnya berjalan ke depan menuju ke pintu utama rumah besar yang tertutup.
"Hm, sudah enam tahun berlalu, tapi rumah ini masih sama. Aku masih ingat, awal diriku terdampar berada di gudang. Sekarang aku kembali untuk melihat mu, Delsi." Manda menggertakkan rahangnya. Manda ingat, enam tahun lalu, tanpa melakukan mantap-mantap dengan Rafa, ia sudah hamil tiga janin saat itu. Benar-benar hal yang konyol tak bisa dilupakan.
Dua penjaga yang duduk saling mengobrol di pos penjaga dan tidak sengaja melihat Manda, keduanya segera menghampirinya.
"Maaf Nona, anda siapa?" Manda ditanyai oleh mereka.
"Hm, kalian penjaga baru di sini?" Manda balas bertanya.
"Benar Nona, kami baru lima bulan dipekerjakan. Sekarang untuk apa Nona datang kemari? Dan siapa Nona?" tanya mereka dengan mimik curiga.
"Heh, apa kalian tidak tahu aku ini salah satu putri Tuan Damian," jawab Manda tersenyum pada penjaga. Sontak, mereka pun saling bertatapan kemudian bersamaan menebak.
"Anda, Nona Sheila?"
"Benar, sekarang menyikirlah. Aku ingin masuk menemui ayahku!" tegas Manda menyoroti mereka.
"Maaf Nona, kami telah diperintahkan untuk tidak mempercai siapa-pun, terutama Nona," tolak penjaga masih menghalangi Manda.
"Ada apa ini? Kenapa kalian perlakukan aku seperti ini? Aku ini putri kandung Tuan Damian. Aku bisa saja memecat kalian jika kalian tidak menghargai kedatanganku," jelas Manda sedikit kesal.
"Tapi Nona, kami mendengar Nona Sheila sudah meninggal. Sekarang Nona pergilah, atau kami akan mengusir Nona dengan paksa."
Manda menggertakkan rahangnya, makin kesal dengan penyambutan kedatangannya.
"Ck, ini pasti gara-gara Delsi," decak Manda dalam hati.
"Tunggu dulu, siapa yang mengatakan ini pada kalian?" lanjut Manda ingin tahu lebih jelas. Saat mau dijawab oleh penjaga, tiba-tiba seseorang datang menjawabnya.
"Aku," sahutnya keluar dari dalam rumah.
"Kalian pergilah ke tempat kalian!" lanjutnya mengusir dua penjaga.
"Baik Nona." Dengan patuhnya mereka pergi meninggalkannya dan Manda. Sorotan Manda sekarang makin tajam, ia kenal dengannya. Musuh bebuyutan Manda enam tahun lalu sekaligus kakak Sheila yang beda ibu.
"Delsi, beraninya kamu menyebar berita palsu tentang aku!" Manda maju menghadapinya.
"Ahaha, berita palsu? Jelas-jelas kamu sendiri yang pergi dari rumah, jadi aku dengan sesuka hatiku bisa melakukan apa-pun, wahai adikku yang malang," cibir Delsi tertawa menghina.
"Grrr, malang? Ahaha...." Manda balas tertawa.
"Ada apa dengan mu?" heran Delsi melipat tangannya di depan dada.
"Jika aku malang, aku mungkin tidak akan berdiri di sini, kakak. Oh benar, aku menebak... harusnya kamu sudah berumur 28 tahun. Apa belum ada rencana untuk menikah?" balas Manda ingin memanas-manasi.
"Ck, hei Sheila! Meski aku tahu kamu sudah punya anak, tapi aku juga jijik dengan anak-anakmu yang lahir di luar-" Belum juga sampai, Manda langsung mendorongnya hingga jatuh ke tanah membuat Delsi menjerit kesakitan.
Tak! Manda menginjak kaki Delsi lalu tersenyum miring. Para penjaga dari jauh terkejut melihat anak majikannya diinjak oleh Manda. Begitu pun Delsi sedikit shock melihat keberanian Manda.
"Kakak, jangan terlalu membenciku. Mungkin aku lebih cepat mendapatkan anak tidak sepertimu yang belum menikah karena sifatmu ini. Mungkin harusnya aku berterima kasih atas jebakan enam tahun lalu yang kamu berikan untukku. Sekarang, aku tidak ingin berdebat denganmu." Manda menerobos masuk meninggalkan Delsi yang masih tersungkur di tanah hingga gaunnya penuh dengan kotoran. Delsi mengepal tangan segera berdiri dan meneriaki Manda.
"Shei! Kamu benar-benar adik sialan! Di mana sopan santun mu terhadap ku!"
Tapi Manda cuma masuk mengabaikan kemurkaan Delsi. Delsi segera mengejar sebelum Manda menemui ayahnya, Tuan Damian.
"Tuan... Tuan,"
Tuan Damian dan Nyonya Marina yang baru selesai sarapan pagi malah dikejutkan oleh pelayan.
"Tuan... Nona... Nona... Sheila ada di luar!"
"Apa, Sheila?" Ny. Marina sontak berdiri. Tuan Damian segera bertanya.
"Ck, di mana anak sialan itu?" decak Tn. Damian marah. Ingat 10 miliyar habis disita oleh Rafandra enam tahun yang lalu hingga Tn. Damian sangat sengsara harus mengembangkan perusahaannya selama ini.
"Di ruang tamu, Tuan." Reflek, Tn. Damian dan Ny. Marina keluar melihat Manda. Benar, Manda sekarang duduk santai di sofa sendirian sambil meneguk jus yang disiapkan dari pelayan.
"Kamu! Berani sekali kamu masih pulang ke sini, Shei!" Suara Tn. Damian bergemuruh di ruang tamu itu. Delsi dan Ny. Marina tersenyum miring, berpikir Manda pasti akan ketakutan setelah digampar oleh Tn. Damian.
Manda tersenyum manis, tidak memperlihatkan ketakutannya. [Yaiyalah, orang dia tokoh utamanya, wkwk] Manda maju selangkah kemudian berkata : "Papa, kenapa memarahiku? Harusnya Papa memelukku, aku baru-baru ini kembali dari LN. Apa Papa tidak merindukanku?" Manda berakting sambil menyeka pinggir matanya. Delsi dan Ny. Marina bersamaan memutar bola mata malas.
"Shei! Hentikan aktingmu itu, Papa tidak akan mudah luluh dengan tangis bohongan mu! Gara-gara kamu, usaha Papa semuanya anjlok!" Tunjuk Tn. Damian murka.
"Papa, ini bukan salahku. Waktu itu aku dijebak oleh seseorang hingga tidak sengaja, hiks," isak Manda tetap dalam aktingnya.
"Sengaja apa?" tanya Tn. Damian. Dengan cepat Manda meraih tangan Tn. Damian lalu berlanjut menangis.
"Shei dulu tidak menyangka akan tidur dengan CEO Rafa. Semua ini ada yang menjebak ku, Pah. Untung saja aku bisa bertahan di luar sana, menghidupi hidupku dan anak-anakku, Pah."
"Apa, anak-anak?" kaget Tn. Damian baru tau. Delsi dan Ny. Marina saling bertatapan. "Mah, gawat nih!" gumam Delsi ke Ibunya.
"Jadi kamu punya anak?" lanjut Tn. Damian belum yakin.
"Benar, Pah. Papa itu sudah punya cucu, anak-anakku adalah anak CEO Rafa," jelas Manda meraih tangan Tn. Damian lagi. Jika saja Manda tak butuh wali nikah, Manda juga ogah datang ke rumah ini.
"Bohong!" timpal Ny. Marina menghampirinya.
"Pah, jangan percaya. Mungkin saja anak dia itu anak dari pria lain," lanjut Ny. Marina menuduh kelakuan Manda.
"Benar, Pah. Shei sudah lama meninggalkan rumah ini! Dia pasti di luar sana sudah pernah melac*r!"
PLAK!
Tn. Damian shock pada Delsi yang menuduh Manda sebagai wanita pelac*r. Ny. Marina juga ikutan shock melihat putrinya yang digampar bukan Manda. Sementara Manda dalam hati merasa puas melihat tontonan ini. Manda tahu, Tn. Damian yang mata duitan pasti tidak semudah itu dihasut. Apalagi mendengar nama Rafa pasti ia sangat kalang kabut.
"Delsi! Hentikan semua tuduhanmu! Adikmu baru saja kembali, harusnya kamu menyambutnya dengan baik dan kamu Marina! Sebagai seorang Ibu dari dua anakku harusnya memberikan penegasan yang adil bagi anak-anakku!" debat Tn. Damian memarahi Delsi dan istrinya.
"Pah, dia itu sudah bukan lagi anggota keluarga ini. Nama Shei sudah dihilangkan dari kartu keluarga!" balas Ny. Marina berdebat.
"Tidak! Sheila masih anakku, namanya masih setia tercatat di kartu keluarga. Sekarang kalian berdua minta maaflah padanya sudah menyebarkan berita palsu kematiannya di luar sana!" geram Tn. Damian.
"Tidak akan pernah!" anak dan Ibu saling menolak kemudian naik ke lantai atas meninggalkan Manda dan Tn. Damian, tak mau bertengkar di depan Manda.
"Huft, mereka ini hampir meledaki telingaku. Untung saja aku kuat mendengar pertengakaran mereka," batin Manda merasa resah.
"Shei, maafkan Ibu dan kakakmu. Papa juga minta maaf, sekarang kemarilah, kita sarapan pagi bersama."
Manda memutar bola mata malas disambut perhatian, Manda tahu kalau Tn. Damian begini karena hatinya senang mendapatkan menantu kaya dan cucu.
"Pa, aku sudah makan. Kedatanganku di sini ingin memberikan ini pada Papa," tolak Manda sambil memberikan undangan yang sudah disiapkan oleh Rafa kemarin.
"Ini undangan pernikahanmu?" tanya Tuan Damian.
"Ya, Pa. Aku mau Papa hadir menjadi waliku, pasti cucu-cucu Papa akan senang melihat kakeknya datang."
Tn. Damian tanpa membantah langsung memeluk Manda. Ia tentu akan merestui Manda menikahi Rafa. Karena ini bagus untuk bisnis yang dia kembangkan sekarang.
"Baiklah, sekarang Papa akan ikut dengan mu." Tn. Damian menghubungi seseorang untuk menyediakan setelan untuknya ke tempat pernikahan Manda dan Rafa. Ny. Marina dan Delsi yang ada di lantai atas mengigit kuku merasa greget pada Manda yang pergi bersama Tn. Damian.
"Mah, kalau begini, posisi Mama bisa digeser oleh Sheila. Kita harus menyingkirkannya secepat mungkin!" usul Delsi.
"Tunggu saja, cepat atau lambat Mama akan menyikirkan anak sial ini. Dia itu dari kecil sudah menikmati kekayaan kita. Sekarang waktunya menyiksanya, seperti Ibunya dulu yang mati itu."
Anak dan Ibu saling tertawa dengan otak licik mereka.
_____
Selesai baca, mohon tinggalkan :
+Like
+Komen
+Hadiah
+Vote
Terima kasih Mommy ^^