Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 101 : Tersipu Malu


Nerin diam-diam melirik Noah yang sedang menatapnya dengan tatapan kosong. Tampak Noah sedang melamun, ini membuat Nerin penasaran dan kesal sedang dipermainkan.


"Kemana ya kalungnya, apa mungkin tidak ada di sini?" batin Nerin terus mencari dan tidak peduli dengan dua kakinya yang sudah lelah menjinjit.


Dia pun tersentak kaget setelah diteriaki oleh Noah yang kini sadar.


"Lamban! Cepat dong carinya! Apa kau sengaja agar kau bisa tinggal di sini lagi?"


Nerin mendesis tidak karuan. "Ihh, siapa juga yang mau tinggal sama kuda laut sepertinya!" batin Nerin menggerutu.


"Ah, dapat!"


Nerin tersenyum lebar menyentuh kalung berlian itu, dia pun menariknya namun siapa duga kedua kakinya mati rasa, sudah lelah menyeimbangkan tubuh Nerin, sehingga wanita hamil itu goyah ingin jatuh ke belakang.


"Ahhhhh"


Noah membola, dia bergegas bangkit dengan cepat menangkap punggung Nerin. Nerin terdiam bertatap muka dengan Noah, dia sedikit tersipu malu telah ditolong oleh ayah bayinya. Namun setelah berdiri normal dan ingin mengatakan terima kasih, Noah langsung membentak.


"Bodoh! Apa kau sengaja berpura-pura jatuh agar aku perhatian padamu? Apa segitu begonya kau manfaatkan bayi di dalam perutmu? Bagaimana kalau aku tidak menangkapmu, kau pasti sudah membunuh bayi itu!" ujar Noah marah-marah sembari menunjuk perut Nerin.


Plak!


Noah tersentak ditepis tangannya oleh Nerin, wanita itu sangat marah dipanggil BEGO. Padahal dia tidak bermaksud untuk jatuh di depannya.


"Cih, kau jahat sekali! Apa kau tidak bisa berpikir? Aku sudah lama menjinjit, kakiku sedikit mati rasa, kaulah yang bego sudah menyuruh wanita hamil sepertiku untuk mengambil kalung ini di tempat tinggi itu!" balas Nerin mendorong Noah kemudian dia berlari keluar. Hatinya sakit sekali dibilang bego, padahal dia adalah wanita yang lulus di universitas tinggi di luar negeri.


Noah terdiam, dia terkejut melihat sekilas mata Nerin basah, serta langkah kakinya yang sedikit pincang. Noah pun memasangkan kalungnya ke leher kemudian mengejar Nerin.


"Hiks, dia kasar sekali," isak Nerin berjalan keluar dari rumah. Dia agak menyesal hari ini. Namun saat ingin melewati pagar, tangannya ditahan dari belakang. Nerin menoleh dan terkejut melihat Noah menyusulnya.


"Lepaskan aku!" ronta Nerin sambil mengusap matanya.


"Tidak, aku akan mengantarmu pulang malam ini," tolak Noah dengan erat memegang tangan wanitanya.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," balas Nerin menolak juga.


"Kau ingin jalan kaki? Kedinginan di luar sana? Apa kau sungguh-"


"Bego?" potong Nerin tahu apa yang akan dilontarkan Noah.


"Ya aku bego, aku sudah bego mau nikah sama kamu!" tambah Nerin me-mekik sedikit terisak. Noah terdiam, sungguh Nerin dan Helena memanglah berbeda. Dari mata Nerin telah dia tahu bahwa wanita ini sangat menyesal, tidak seperti Helena saat dia lamar dulu, dia sangat senang sekali.


"Hiks, apa kau tidak bisa seperti Rafa?" tangis Nerin mengusap-usap matanya. Percuma dia pendam, dia tetap tidak bisa move on dari Rafa. Noah mengepal tinjunya, dia sangat kesal. "Apa bagusnya pria itu sampai ada dua wanita yang sangat-sangat menyukainya?" pikir Noah greget.


Sontak Nerin berhenti terisak, dia terkejut Noah melepaskan jasnya dan mengenakan kepadanya.


"Pakailah itu," lirih Noah sedikit bersalah.


"Tidak perlu," tolak Nerin ingin mengembalikannya, tapi Noah mendesaknya.


"Pakailah! Aku tidak mau kau kedinginan, jika sampai kau kedinginan, bayi di dalam perutmu pasti akan menggigil!"


Deg...


Jantung Nerin berdetak cukup keras, dia tercengang mendengarnya.


Apa dia sedang perhatian?


Apa dia sedang peduli pada bayinya?


Atau hanya ingin menenangkan aku?


Nerin bertanya-tanya dalam hatinya, dia sedikit tertawa dalam hati.


"A-apa kau sengaja bodoh di depanku?" tanya Nerin gelagapan.


"Ha, bodoh? Maksudnya?" heran Noah tidak paham.


"Hahaha, mana mungkin bayi bisa menggigil di dalam perut," tawa Nerin membelakangi Noah. "Anakku, apa kau tidak dengar? Ayahmu lagi bodoh malam ini, apa kau tertawa juga di dalam sana?" bisik-bisik Nerin sambil mengelus perutnya.


Noah melotot diledek, sangat menjengkelkan. Tapi melihat Nerin tertawa dan mengajak bicara perut datar itu, Noah jadi iri. Dia pun ikut menyentuh perut Nerin.


"Ahhh, kenapa kau menyentuh perutku?" kaget Nerin mundur.


"Memangnya kenapa? Aku ini kan ayah dari kecebong di dalam perutmu ini, jadi wajar saja kalau aku mengelusnya juga!" balas Noah mendengus.


"Kecebong? Kau pikir aku lagi hamil anak kodok?" celetuk Nerin kesal.


"Sudah! Jangan berdebat lagi, sekarang masuk ke mobil!" pinta Noah tunjuk mobilnya.


" Bukannya kau yang nyetir? Kenapa malah duduk sini?" tanya Nerin mulai risih.


"Yaelah cerewet banget, apa wanita hamil selalu banyak bicara?" cetus Noah menyandarkan kepalanya ke jendela dan mulai memejamkan mata.


"Ta-tapi kan, siapa yang jalankan mobil kalau kau duduk di sini?" cetus Nerin greget.


"Tuh lihat, ada pak supir!" Noah menunjuk pria berjas hitam sedang berlari ke arahnya. Nerin tercengang dahsyat.


"Lah terus buat apa dong kamu ikut duduk sini kalau pak supir yang nyetir mobilnya?" tanya Nerin heran. Noah membuka matanya, dia makin gregetan ditanya terus.


"Cuma numpang tidur, puas?" Noah kembali memejamkan matanya.


"Apa?"


Nerin melongo mendengar jawabannya.


"Kalau begitu pergi sana tidur di kamarmu, jangan tidur sini," usir Nerin mendorong lengan Noah. Pak Supir yang kini duduk di kursi pengemudi hanya diam, belum mengaktifkan mesin mobil.


"Ini mobilku, jadi terserah aku dong mau tidur di mana, Neng tower!" Noah mengoceh bagaikan ibu-ibu.


"Ya sudah, tapi jangan ngorok!" timpal Nerin ketus. Pak Supir menelan ludah berkali-kali mendengar perdebatan mereka.


"Yaelah, aku tidak pernah ngorok, kau tuh yang ngoroknya kencang!" ujar Noah menunjuk mulut Nerin.


"Enak saja ya! Aku ini juga tidak pernah ngorok, kalau tidak pernah dengar jangan tuduh sembarangan!" pekik Nerin tidak terima.


"Dih, aku pernah dengar, malah sudah banyak dengar dengkuranmu," cerocos Noah menyeringai.


"Ilih, kapan?" desis Nerin kesal.


"Kau lupa ya, kita itu sering tidur bersama Nona Nerin." Noah nyengir kuda melihat Nerin mematung.


Deg...


Pak supir di dalam hatinya sangat terkejut telah mendengar mereka telah sering kali tidur bersama. Pak Supir pun mendehem segera mencairkan suasana agar keberadaannya diketahui.


"Ekhm, Nona... Tuan... apa sekarang kita-"


"Jalan, Pak!" perintah Noah.


"Ba-baik, Tuan."


Mobil pun akhirnya melaju juga. Pak supir sangat lega dapat mengalihkan perdebatan mereka. Sementara Nerin di samping Noah, dia jadi malu sendiri. Dia memalingkan wajahnya keluar jendela. Tidak seperti Noah yang asik memejamkan mata, dia seringkali melirik-lirik diam-diam Nerin. Dia puas telah membungkam mulut Nerin yang tadi banyak bicara.


_____


Esok harinya, di pagi hari. Terlihat Family Rafa sedang bergegas pagi-pagi ini. Manda tampak sibuk memperhatikan ketiga anaknya yang akan berangkat sekolah.


"Baiklah, semuanya sudah lengkap. Anak-anak Mommy harus rajin belajar, jangan nakal di sekolah, oke?" ucap Manda memberi semangat.


"Siap Mommy, kami akan jadi anak hebat buat Mommy!" Rara dan Rain balas memberi hormat kecuali Rein yang datar.


"Sayang, aku ke kantor dulu. Kamu istirahatlah di rumah, nanti siang aku yang akan jemput anak-anak dan kita ke rumah Mami dan Papi," ucap Rafa mengecup pipi Manda, dia sudah lengkap untuk bekerja.


"Hm, siap suamiku." Manda balas mengecup pipi Rafa membuat dua anaknya jadi senyum-senyum melihat kemesraan orang tuanya. Kecuali Rein yang memutar bola mata malas.


"Dadahhh... Mommy!"


"Dadahhh .... sayang!"


Manda balas melambai melihat orang-orang tercintanya berangkat pagi ini. Dia pun merasa lega, bisa kembali seperti dulu lagi. Saat Manda ingin menaiki tangga, dia pun berpikir untuk keluar.


"Hehe... mumpung tidak ada kerjaan, mendingan aku keluar jalan-jalan sebentar dan mengirim PDF ceritaku ini."


Manda pun berjalan ria membawa tas hijau miliknya. Dia ingin mencetak catatan ceritanya yang tersimpan di flashdisknya menjadi sebuah buku. Dia pun ke sebuah toko pencetak menggunakan taksi. Sesampainya di sana, Manda tidak sengaja bertemu dengannya.


"Kau...."


...Terima kasih buat pembaca IRCK yang sudah setia baca Novel ini, terima kasih kalian sudah like dan ikuti sampai bab ini, author sangat terharu😚karena masih ada yang betah baca hehehe......


...Semoga kita bisa berjumpa lagi di bab selanjutnya😍...


...Author sih tidak peduli berapa banyak yang baca, asalkan haluku ini tersalurkan dengan lancar🤣love you all💞...


...Btw Ikuti akun author ya, biar kita bisa berteman😍...