
Manda yang sadar kembali pun disuruh istirahat oleh Rafa. Dia ditemani ketiga anaknya sembari makan siang bersama mereka. Sedangkan Rafa pergi untuk mengurus Nyonya Marina yang dilaporkan atas rencana pembunuhan berkat rekaman yang didapat oleh Manda di kamar milik Nyonya Charlotte.
Rafa mendapat kabar jika bukti rekaman itu masih belum kuat. Karena Tuan Damian membantah alias membantu Nyonya Marina lepas dari tuduhan Manda. Walau masih bebas dalam penyelidikan, keduanya tetap dalam bahaya. Karena Rafa meminta untuk tetap membongkar kematian Nyonya Charlotte.
Polisi yang masih penasaran dengan kasus ini, mereka pun menerima perintah Rafa untuk tetap lanjut selidiki, apalagi imbalan dari Rafa cukup menggiurkan.
Entah gimana pertolongan Tuan Damian demi bebaskan Nyonya Marina yang sudah pulih setelah keracunan, yang jelas sekarang Tuan Damian agak kecewa dan takut kepada putri keduanya itu yang sungguh-sungguh ingin membongkar kematian ibu kandungnya.
Sementara Noah, lelaki ini masuk sembari murung. Perasaannya tiba-tiba aneh setelah dipanggil Rangga oleh Manda. Ada rasa tidak asing yang diarasakan sekarang.
"Rangga, Rangga, kenapa aku merasa familiar?" gumam Noah menaiki anak tangga di depannya. Dia yang asik berjalan untuk ke kamarnya tidak sengaja berpapasan dengan kedua orang tuanya.
"Noah, kau sudah pulang ya," sahut Oma Liana sambil mendorong kursi roda suaminya dan menghampiri anak mereka.
"Eh Mami… Papi," ucap Noah berhenti jalan.
"Bagaimana keadaan Ibunya Rain? Apa sudah ada kabar baik?" tanya Oma Liana. Dia khawatir Rain menangis terus karena Sheila alias Manda tidak siuman dalam tujuh belas hari ini.
"Sudah siuman, dia barusan sadar, Mah." Noah tersenyum kecil disertai raut wajahnya yang lesu.
"Hm, lalu bagaimana kabar ketiga cucu kembar Papi?" tanya Opa Alka ingin tahu.
"Papi dan Mami tidak usah cemas lagi, mereka senang melihat Ibunya sadar. Sekarang aku capek, mau ke kamar dulu ya, Mi." Setelah menjawab, Noah pergi ke kamarnya. Melihat putranya murung membuat dua orang tua itu jadi bingung.
"Pa, apa yang terjadi padanya?" tanya Oma Liana pada suaminya.
"Tidak usah dicemaskan, mungkin Noah sedang butuh istirahat," jawab Opa Alka untuk tetap tenang.
"Aku takut, Pa. Takut efek kecelakaan enam tahun lalu belum Noah lupakan." Oma Liana kuatir dengan trauma itu. Opa Alka menyentuh tangan istrinya, dia menenangkan Oma Liana untuk tetap tidak berpikir hingga ke sana.
Bruuk
Noah menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menatap berlian di tangannya, mengamati berlian itu dengan saksama.
"Aneh, rasanya aku pernah melihat berlian ini tapi di mana ya?" pikir Noah menyentuh dagunya.
"Cantik sekali, kalau aku jual pasti dapat keuntungan," tambahnya membatin.
"Oh ya, aku simpan dulu." Noah beranjak bangun, dia berjalan ke arah mejanya. Dia membuka laci dan kemudian mencari tempat yang cocok untuk berlian itu. Tetapi kedua matanya menangkap sebuah kalung di antara tumpukan barang di laci itu.
Noah pun mengambilnya, saat itulah kepalanya berdenyut dahsyat. Dia kaget dengan detak jantung cukup keras. Matanya belum bisa lepas dari tempat induk kalung itu yang kosong. Noah pun melihat berlian di tangannya sambil menahan kesakitan. Dia pun meletakkan berlian itu di tempat induk kalung. Pas sekali, berlian itu langsung menyatu ke kalung tersebut dan bersamaan Noah menjerit kesakitan, hingga kalung itu jatuh ke lantai.
"Ahhhh, apa ini!" ringis Noah jatuh ke lantai sambil meremas kepalanya. Dia tergeletak sedikit tidak berdaya.
"Tuaaaan!" pekik pelayan yang masuk memanggilnya untuk makan siang, tapi ia kaget mendapati anak majikannya tergeletak dengan kesakitan.
"Sakit, kepalaku sakit!" Noah merasa kepalanya ingin meledak. Pelayan itu pun mendekatinya, dia mencari obat milik Noah.
Sementara Noah makin menjerit dan menangis ketika sebuah ingatan lain berputar di kepalanya. Ingatan itu hampir sama seperti enam tahun yang lalu, ingatan Rangga yang juga kecelakaan setelah melihat Manda di rumah sakit.
Flashback Rangga.
Kembali ke dunia asli Manda, sebelum semua ini terjadi.
Setelah mendengar Manda masuk rumah sakit dari adik Manda sendiri, Rangga yang sedang sibuk bersiap untuk pernikahannya besok langsung lari meninggalkan rumah. Dia tentu kaget dan cemas dengan Manda.
Walau telah diputuskan, Rangga masih punya rasa kepada Manda. Dia punya alasan mengapa berselingkuh dengan Helena. Dia ingin jelaskan, tapi Manda tidak mau lagi bertemu dengannya sebelum asmanya kambuh.
Sesampainya di RS, Rangga bergegas mencari ruang rawat Manda. Dia pun dengan nafas terengah-engah berhasil melihat orang tua Manda berdiri di depan salah satu ruangan di mana putri mereka sedang ditangani.
"Om," Rangga maju menghampiri mereka. Seketika Ayah menerjang kerah baju Rangga. Ayah mencengkramnya dengan kuat hingga Rangga sedikit terdesak.
"Kau masih berani menampakkan muka setelah menyakiti putriku!" geram Ayah langsung menonjok pipinya. Ibu kaget, dia pun melerai suaminya untuk tidak mencari keributan.
"Pah, jangan emosi! Kita berdoa saja Manda tidak kenapa-napa di dalam sana!" ujar Ibu menahan tangan suaminya yang ingin kembali memukul Rangga.
"Saya salah sudah berkhianat, tolong maafkan saya. Saya tidak sengaja bermaksud untuk melukai perasaannya." Rangga berlutut lagi, dia menyesal.
Ayah berdecak, dia tidak peduli lagi untuk memaafkannya. Dia sangat murka dengan hubungan Rangga dan anaknya yang sudah berakhir.
"Percuma, kau sangat mengecewakan kami!" jelas Ayah menunjuknya emosi.
"Om beri saya kesempatan untuk perbaiki, sesungguhnya saya masih mencintai putri Om," tutur Rangga berdiri.
"Jika kamu mencintainya harusnya tidak berencana untuk menikah dengan perempuan lain. Tapi besok kau akan menikah, maka pergilah!" usir Ayah dengan suara tinggi.
"Tidak Om, malam ini saya akan batalkan! Saya janji tidak akan mengkhianatinya, saya akan berusaha buat dia bahagia," mohon Rangga ingin sekali bertemu dengannya.
Saat Ayah ingin menjawab, tiba-tiba Dokter keluar. Dia mengatakan kondisi Manda sudah stabil, namun ada yang aneh hingga dia koma. Dua orang tua Manda kaget, Ibu menangis histeris dan segera masuk melihat putrinya diikuti Rangga juga masuk.
"Pah, kenapa asmanya separah ini. Aku tidak mau kehilangannya," tangis Ibu tidak kuasa melihat Manda yang pucat sehingga dia jatuh pingsan. Semua orang panik, Ayah pun mengangkat Ibu untuk dibaringkan ke sofa. Sementara Rangga dia menatap wajah lemah itu.
Dia meraih tangan Manda, dia menitikkan air mata.
"Maaf, maafkan aku sayang. Harusnya aku tidak berselingkuh," lirih Rangga mencium tangan Manda. Dia bergetar, merasa sangat bersalah. Setelah itu, dia tidak sengaja menemukan kalung di genggaman Manda. Rangga pun mengambilnya tanpa sepengetahuan Ayah yang sibuk mengurus Ibu.
"Sayang, tetaplah hidup sampai aku kembali lagi. Kau jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu, Manda. Kau patut dicintai olehku." Rangga sekai lagi mencium kening Manda, dia keluar dari ruang itu membawa kalung Manda pulang untuk membatalkan pernikahannya. Tidak sengaja, butiran air mata jatuh ke pipi Manda. Dia seperti merasakannya tapi tak dapat sadar sepenuhnya.
Kecepatan mobil di atas rata-rata, Rangga mengebut di malam ini. Dia mengemudi seorang diri sambil menggenggam berlian itu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tanpa ditebak lagi itu berasal dari Helena yang marah karena Rangga tidak ada di rumahnya.
"Rangga, kau sedang ada di mana ha!" ujar Helena marah dari panggilan itu.
"Apa ini sikapmu padaku? Kau tiba-tiba membentakku? Apa kamu bisa sedikit lembut sepertinya?" balas Rangga meletakkan ponselnya sambil fokus mengemudi. Dia kesal dengan sikap Helena yang menjengkelkan. Dia bingung mengapa harus berselingkuh dengan wanita sepertinya.
"Tidak usah basa-basi, pasti kamu sedang ke rumah Manda kan!" bentak Helena lebih keras.
"Helena, inikah sifat aslimu? Aku sedang mengemudi di jalan, kau jangan menggangguku," kesal Rangga ingin mematikan panggilan itu namun Helena marah kembali.
"Oke, kau benar-benar menyebalkan! Aku sedang berada di rumahmu tapi kau malah diam-diam menemui wanita lain. Baiklah, aku akan bersandiwara di depan orang tuamu kalau Manda telah menghasutmu untuk bertemu. Tunggu saja, Manda pasti akan tamat di tangan orang tuamu!"
Tuuuut!
"Helena! Brensek kau! Jangan bawa-bawa Manda!" murka Rangga tidak melihat ke depan akibat sibuk memarahi Helena di ponselnya, reflek dia kaget dengan silauan lampu dari mobil lain yang ada di depannya. Rangga pun membantin stir ke samping ketiga mobilnya masuk ke jalur yang salah. Bukannya menghindar, mobil itu menabrak pembatas tembok jalan di sana.
Bruaaakk!
Suara tabrakan mengagetkan pengemudi lain. Mereka berhenti setelah melihat mobil menabrak tembok hingga terbalik. Mereka secepatnya turun untuk menyelamatkan Rangga yang terjepit sudah berlumuran darah.
Lalu bagaimana dengan Rangga? Kesadarannya perlahan menghilang, pandangannya menghitam. Dia tidak tahu lagi rasa sakit apa yang dia rasakan. Yang dia pikirkan adalah bertemu dengan Manda di akhir hidupnya. Dia ingin katakan perasaannya dan penyesalannya. Tapi takdir selalu tidak berpihak padanya.
Apa dia benar-benar ditakdirkan untuk tidak bersama dengan Manda? Kedua mata Rangga basah, dia menangis. Air matanya jatuh mengenai berlian di kalung itu. Detik terakhirnya dia masih berharap dapat bertemu dengan Manda di mana pun dia berada, dan kemudian ia memejamkan mata sebelum berlian itu bercahaya. Cahaya itu sangat silau dan kemudian kalung itu menghilang secepat kilat.
Flashback off
Semuanya berputar di dalam kepala Noah, ingatan terakhirnya membuatnya menangis. Oma Liana masuk menghampiri putranya. Dia memeluk Noah yang terisak pilu.
"Aku mencintainya, sangat mencintainya."
Noah pun sadar jika dia bukanlah berasal dari dunia ini. Dia adalah Rangga yang sudah reinkarnasi selama enam tahun di sini. Itulah mengapa dia begitu familiar saat bertemu dengan Manda saat itu.
"Tolong beri aku kesempatan."
Noah mulai berpikir untuk kembali.
Bersambung. Jangan lupa dilike👍ya biar Manda semangat lanjut bercerita tentang dunia halunya😄.
Author pasti sedih kalau kalian tidak like cerita ini. Tolong ya semangati Author biar Manda lanjut terus❤dan terima kasih yang sudah like😍thank and see you all.