Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 85 : Terpukau


Melihat Mommy mereka sudah tampak baikan, Triple R pun keluar dari kamar. Rara tanpa berkata langsung ke arah dapur. Sedangkan Rain keluar dari penginapan, bocah ini berlari ke mobil ayahnya. Dia ingin mengambil laptopnya untuk bermain game. Setelah mengambil laptopnya di kursi belakang, dia tidak sengaja melihat tas milik Ibunya. Rain pun mengambil dan membawa ke dalam rumah.


"Kenapa bawa laptop dan tas Mommy masuk?" tanya Rein yang duduk di sofa.


"Takut ada yang curi, Kak." Rain meletakkan laptopnya dan tas Manda ke atas meja lalu duduk di samping kakaknya. Dia pun membuka laptop, sedangkan Rein membuka tas Manda.


"Eh, ini kan rekaman punya Mommy,"


Mendengar kakaknya terkejut, Rain pun menoleh kemudian mengernyit heran dengan benda di tangan Rein.


"Apa itu, Kak?" tanya Rain penasaran.


"Ini rekaman punya Mommy sama Nenek," jawab Rein ke adiknya.


"Wow, aku penasaran bagaimana suara Nenek. Ayo putar saja, kak!" Rain tidak jadi main game, dia ingin mendengar isi rekaman. Sontak keduanya pun terdiam mendengar obrolan suara dari rekaman itu. Rein dan Rain meneguk ludah mendengar tawa bahagidua wanita di dalam rekaman itu. Obrolan soal pembunuhan Nyonya Charlotte.


"Kak Rein, kenapa isinya malah menakutkan? Terus ini kan suara nenek sihir sama Tante jelek, bukan suara Mommy," ucap Rain ketakutan.


Rein sama sekali belum paham, tapi dia pun berani melanjutkannya. Sontak rekaman itu terjatuh saat mendengar tangis Ibunya, Sheila yang menangis habis dijebak malam itu.


"Kakak, buang saja benda ini," Rain tidak sanggup mendengarnya, tidak seperti Rein yang marah besar.


"Rain, pinjamkan aku laptopmu!" Rein menyimpan rekaman itu, lalu dia menginstal aplikasi penyadap virus. Rein bermaksud untuk membajak sebuah perusahaan pers yang terkenal di kota. Dia ingin menyiarkan rekaman itu ke perusahaan kakeknya, Tuan Damian dan juga ke media lainnya. Rein yang genius memang sangat berpengalaman. 


Dia pernah membajak perusahaan tempat Manda bekerja di luar negeri, saat Manda ditipu oleh perusahaan tersebut, dan akhirnya perusahaan itu jatuh bangkrut.


Rain terpukau dengan jari-jari kakaknya yang sangat lincah mengetik semua tombol di depannya.


"Akan aku bongkar semuanya!" Rein menyeringai tipis. Tanpa memakan waktu lama, unggahan rekaman itu pun terkirim ke seluruh media.


Tuan Damian shock di kursinya mendengar suara istri dan putri sulungnya memenuhi isi ruang rapat perusahaan William. Begitupun di perusahaan pers lainnya. Tuan Damian kalang kabut dan segera menyuruh stafnya untuk menghapus semua rekaman itu sebelum tersebar luas. Tapi percuma, rekaman aslinya ada di tangan Rein. Rein sengaja ingin menakuti Kakeknya.


Rafa di dalam kamar kaget mendapat kiriman rekaman suara Nyonya Marina dan Delsi, kini Rafa tahu kalau malam itu Sheila sungguh dijebak dan kematian Nyonya Charlotte telah direncanakan. Rafa pun menyimpannya untuk menjadi bukti supaya dapat menyeret, Tuan Damian, serta istri dan Delsi ke penjara.


"Tapi, siapa orang ini?" Rafa bingung dengan sosok Mr. R yang mengirim rekaman itu. Rafa menatap Manda yang tertidur, dia ingin membangunkannya, tapi kasihan istrinya akan nangis lagi, dia pun mengurungkan niatnya.


"Daddy!" Rara masuk membawa semangkok bubur.


"Tadaaa, ini bubur bikinan Rara."


Rafa menahan tawa, bisa-bisanya Rara yang masih berumur lima tahun sudah pintar memasak.


"Kok ada bubur? Dapat dari mana?"


"Dari dalam tas Rara, ini adalah bubur simpel yang cuma pakai air panas untuk memasaknya. Mudah kan, Daddy?"


Rafa membelai kepala putrinya merasa beruntung memiliki Rara yang pengertian. Memang anak ini selalu bawa bubur instan ke dalam tasnya.


"Baiklah, taruh di sini saja. Nanti kalau Mommy sudah bangun, Rara bisa suapin Mommy,"


"Yeeey, asiik. Bubur Rara pasti enak dan Mommy akan suka!"


Rara meletakkan buburnya ke atas meja lalu celingak-celinguk tidak menemukan dua saudaranya.


"Kemana Kak Rein dan Adik Rain, Daddy?" tanya Rara naik ke ranjang dan duduk di dekat ayahnya. Rafa mengnggelengkan kepala tidak tahu.


"Rara, kami di sini!" teriak Rain berada di luar dekat kamar Manda. Rara pun sontak turun dan berlari keluar menuju ke adiknya. Tidak seperti Rein tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


"Daddy," panggil Rein mendekatinya.


"Hm, kenapa?" tanya Rafa sambil membelai rambut Manda.


"Ini, punya Mommy." Rein memberikan rekaman itu. Rekaman itu pun diputar oleh Rafa saking penasaran.


Kedua matanya membola mendengar awal isi rekaman itu sama dengan rekaman dari Mr. R. Rafa pun sadar kalau putra satunya ini punya ciri-ciri menjadi pewaris utama di masa depan.


"Loh ini kan," Rafa kembali terkejut mendengar lagi sebagian isi rekaman adalah kesedihan Sheila. Dia pun mencengkram seprai, sangat marah pada Nyonya Marina dan Delsi. 


"Mereka sudah keterlaluan!" Rafa pun berdiri, dia menelpon pengacaranya. Niatnya sudah mantap untuk memenjarakan segera orang yang telah jahat ke Sheila. Rein tersenyum puas memiliki ayah seperti Rafa yang langsung bertindak untuk mengakhiri kejahatan mereka.


Hayyuklah penjarakan semuanya Rafa, biar mereka kapok!😆