
"Kak Rein, kamu di mana?" Rara dan Rain berjalan ke lorong lain sambil memanggil kakak mereka yang belum terlihat, kedua bocah ini sudah mengecek ke kamar Ny. Marina, tapi sama sekali tidak ada Rein. Rumah ini cukup besar untuk dilewati Rara dan Rain, seakan punya cabang kemena-mana hingga terlihat luas dan sedikit menakutkan.
"Rara, lebih baik kita kembali saja. Kita panggil Mommy dan Daddy untuk mencari Rein," Rain gemeteran di dekat Rara. Ia memang penakut dan itu tak dapat dipungkiri lagi. Bukan cuma takut ketinggian tapi juga Rain takut suasana horor seperti sekarang.
"Kamu takut Rain?" tanya Rara berhenti.
"Tidak, aku cuma was-was saja. Siapa tau kita tersesat tidak bisa kembali ke kamar, kita ini sudah jauh dari kamar nenek itu." Rain kembali berdiri normal. Mencoba melawan rasa takutnya. Tapi melihatnya saja, Rara sudah tahu adiknya ini ketakutan. Rara pun mempunya ide untuk mengerjai Rain.
"Rain," Nada bicara Rara tiba-tiba berubah. Pandangannya serius ke depan, tepatnya di belakang Rain.
"Kenapa? Kamu lihat Rein?" Rain bertanya masih mencoba tenang.
"Bukan,"
"Bukan? Terus apa yang kamu lihat? Kenapa matamu kamu bulatkan?" Rain menelan ludah.
"Itu Rain, di belakang kamu ada-"
"Ada apa? Kamu jangan menakutiku ya!" Rain kesal melihat ekspresi Rara yang terkejut.
"Itu-itu ada sesuatu di atas kamu," Rara menunjuk-nunjuk ke atas Rain.
"Iiih, jangan bikin aku ketakutan dong, Ra!" Seluruh tubuh Rain tiba-tiba susah digerakkan. Bulu kuduknya ikut berdiri tak kuat dengan suasana horor ini. Apalagi rumah ini begitu besar.
"Itu Rain, coba deh kamu nengok ke atas." Rara menunjuk lagi. Rain yang penasaran dan sudah berkeringat dingin pun melihat ke atas, kedua netral matanya seketika juling melihat satu mahluk mengerikan bergelantungan.
"Ahhhhhhhhhhh!"
Rara! Rara!
Rain lompat memeluk Rara. Dia ketakutan sambil nunjuk-nunjuk yang dia lihat barusan. Ekspresinya sangat lucu hingga Rara tak bisa menahan tawa melihat saudaranya.
"Ahahahaha, kamu penakut sekali. Itu kan cuma laba-laba," tawa Rara belum berhenti.
"Hiks, usir Rara! Mahluk ini menyeramkan, dia punya banyak kaki. Ini menakutiku, Ra!" Rain mengguncang-guncang tubuh Rara hingga bocah cilik ini hampir jatuh.
"Pfft, lebih baik kita lanjut cari Rein saja. Sini kita jalan lagi," Rara menarik Rain pergi.
"Tidak Ra! Mahluk ini menyeramkan, kita harus singkirkan dari rumah ini," tolak Rain tak mau pergi.
"Rain, dia itu mahluk Tuhan juga. Lagian laba-laba tadi tidak mengganggumu, sekarang kita cari Rein. Kita tidak usah menghakimi laba-laba itu, biarkan saja."
Rara menarik paksa Rain, tapi Rain tak mau bergerak.
"Kenapa diam?" tanya Rara.
"Kita kembali saja, siapa tahu Rein sudah kembali, Ra."
Rara tertawa lagi melihat adiknya ketakutan. Rara pun menepuk bahu Rain lalu berkata serius dengan tatapan tajam.
"Rain, dengar baik-baik aku, di rumah ini tidak ada hantu. Kita harus cari Rein, terus kita pergi makan," kata Rara terus menyakinkan Rain.
"Rara, di dunia ini ada mahluk hidup selain manusia, hewan, tumbuhan. Mahluk itu ghaib, dan cuma Kak Devino yang bisa melihatnya, dia bilang hantu itu memang ada. Jadi lebih baik kita kembali," jelas Rain ingat Devino yang indigo.
"Kak Devino? Dia bisa dan kamu percaya?" tanya Rara ingat wajah Devino yang dingin dan tampan.
"Ya, dia itu bahkan bisa baca pikiran. Dia pernah cerita hal-hal mistis dari sekolahnya, bahkan dia bisa memanggil hantu."
Deg! Kali ini Rara yang sedikit takut sudah mendengar cerita Rain. Namun Rara mencoba tenang.
"Ih, hantu itu memang gak ada! Sekarang kita lanjut jalan." Rara bersikeras tak mau percaya. Namun, keduanya tersentak kaget setelah pintu di dekatnya tiba-tiba bergerak. Kedua bocah ini menoleh bersamaan dan langsung saling tatap.
Glug!
Rara dan Rain menelan ludah ketakutan sekarang.
"Ahhhhhhh... HANTU!"
Kedua bocah lari terbirit-birit menyusuri lorong di belakangnya. Rara dan Rain terengah-engah, ini sangat mengerikan tiba-tiba pintu kotor tadi terbuka. Mungkin saja penunggu rumah marah karena perdebatan Rara dan Rein. Tapi ternyata bukan hantu sama sekali, tapi Rein yang berada di dalam kamar misterius itu.
Rafa dan Manda shock melihat dua anaknya menangis.
"Huhuhuhu... Mommy ... Daddy...."
"Kalian menangis? Apa yang sudah terjadi?"
"Siapa yang membuat kalian menangis?"
Rafa dan Manda mendekatinya. Rain yang nangisnya keras memeluk Manda, sedangkan Rara memeluk Rafa.
"Mommy tadi ada hantu di sana,"
"Benar, Daddy harus usir hantu itu,"
Dua anaknya menunjuk ke lorong yang cukup menakutkan.
"Sejak kapan ada lorong di sini?" tanya Rafa ke Manda.
"Aneh sekali, seingatku tidak ada lorong yang seperti ini."
"Daddy dan Mommy, kami mau tidur bersama, boleh kan?" mohon Rara dan Rain dengan mata berkaca-kaca.
"Huft, baiklah. Sekarang berhenti menangis. Kalian belum makan, kita harus makan malam sekarang. Tapi di mana Rein?" Manda bertanya pada Rara dan Rain. Kedua bocah ini menggelengkan kepala.
"Sekarang lebih baik, kamu masak untuk anak-anak. Biarkan aku yang mencari Rein." Rafa mengelus kepala Rara dan Rain.
"Daddy jangan ke sana. Di sana ada hantu," tahan Rain tak mau ayahnya pergi.
"Rain, jangan percaya lagi begituan. Sekarang ikutlah dengan Mommy kalian, tunggu Daddy di dapur saja." Rafa menegaskan, meski dia tahu memang ada hantu di dunia ini. Tapi Rafa sama sekali tidak takut, yang dia takutkan adalah manusia yang jahat pada keluarganya.
Tapi ketika Rafa ingin ke lorong itu. Perlahan bayangan hitam keluar. Rafa berhenti sejenak, Rara dan Rain bersembunyi di belakang Manda.
"Daddy, itu-itu pasti hantunya." Rain menunjuk bayangan itu. Rafa yang tidak kenal takut, ia maju untuk melihat dengan jelas.
"Rafa," Manda ingin menahan Rafa. Namun bayangan itu semakin jelas mendekati mereka. Mata keempatnya terkejut. Ia adalah Rein yang berjalan santai ke arah mereka.
"Rein?"
"Malam Mommy, malam Daddy. Apa makan malamnya sudah selesai?" tanya Rein senyum manis di depan mereka. Rara dan Rain pun bermuka masam, kedua sadar kalau barusan Rein pasti mengerjainya.
"REIN NGESELIN!!"
Rara dan Rain lari ingin memberi pelajaran untuk Rein. Untung saja Rafa dengan cepat menahan kemarahan Rara dan Rein.
"Kenapa aku?" Tunjuk Rein pada dirinya sendiri. Rara dan Rain pun membuang muka kemudian menarik Manda ke arah dapur. Manda cuma menahan tawa, ia mengerti apa yang sudah terjadi. Rafa melihat Rein lalu berkata : "Apa Rein tidak takut sama sekali?" tanya Rafa ingin tahu.
Rein pun berjalan di samping Rafa lalu menjawab dengan datar.
"Rein sudah bilang, anak laki-laki tidak boleh takut, Daddy."
Rafa menahan tawa mendengarnya, benar-benar Rein adalah putranya, putra yang menurunkan sifatnya. Keluarga kecil ini pun bisa makan malam bersama dengan tenang. Tawa dan ledekan Rein pada adik-adiknya menghiasi suasana dapur yang sangat meriah. Hingga mereka tidur bersama dalam satu kamar, untung saja ranjang mereka sangat besar.
"Selamat malam, Daddy, Mommy, muachh!"
___
Selesai baca, mohon tinggalkan :
+Like
+Komen
+Hadiah
+Vote
Terima kasih Mommy ^^