Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 92 : Harus Diakhiri


Setelah jalan-jalan, Manda sampai juga di ruang rawatnya. Dia pun naik ke atas brankar tanpa berkata apa-pun pada anak-anaknya. Triple R masih gelisah pada Ibunya yang sudah bertemu dengan Noah. 


"Eh, kalian kenapa diam di sana? Sini dong duduk sama Mommy." Manda memanggil tiga anaknya yang berdiri cukup jauh darinya. Ketiga bocah  saling bertatap muka kemudian mendekati Manda. Mereka naik lalu duduk di tepi brankar dan menatap sang Ibu.


"Kenapa diam? Kalian kecewa ya habis temani Mommy?" tanya Manda sedikit cemas.


Rein, Rara, dan Rain menggelengkan kepala bersamaan kemudian serempak menjawab, "Tidak Mommy, kami tidak sama sekali kecewa,"


"Lantas kenapa muka anak-anak Mommy ditekuk begitu?" tanya Manda sambil mengelus-elus pipi kanan ketiga anaknya.


"Mommy, apa Mommy suka sama Om Noah?"


 


Tangan Manda seketika berhenti di pipi Rain setelah ditanya. Rasanya mereka berpikir Manda sudah menyukai pria lain dari pada Ayah mereka.


"Hahaha, Mommy itu tidak sama sekali menyukainya." Manda pun tertawa dan menegaskan pada anaknya.


"Tapi kenapa Om Noah membentak Mommy?" sahut Rein yang penasaran tinggi.


"Benar, Om Noah tadi juga memaksa Mommy," tambah Rara ikutan bicara.


"Rain yakin, pasti Om Noah sudah jahat kepada Mommy kan?"


Melihat ketiga anaknya serius bertanya, Manda menghirup nafas sebentar kemudian tersenyum manis.


"Om kalian itu sedang marah karena gara-gara Mommy sakit, akibatnya kalian bertiga tidak pernah kunjungi Nenek dan Kakek,"


"Terus Om Noah kalian itu orangnya ba-ik banget, dia itu barusan cuma kesal jadi maksa Mommy buat bicara. Kalian sudah paham kan?" tutur Manda dengan lembut menjelaskan.


Ketiga anak pun mangut-mangut, ucapan Ibunya memang benar. Mereka sudah lama tidak bertemu dengan Oma Liana dan Opa Alka. Rein mengelus dada merasa lega dugaannya salah, begitu pula dua adiknya ikut merasa lega.


"Mommy, kami minta maaf,"


"Eh, buat apa?" tanya Manda setelah meneguk air minum.


"Itu, kami sudah salah paham sama Mommy. Kami pikir Mommy diam-diam selingkuh."


Manda tercengang, dia sedikit shock anak-anaknya berpikir begitu.


"Mommy jangan marah, kami tidak akan bersangka buruk lagi," mohon ketiganya dengan raut wajah imut.


"Haha, tidak akan marah, kalian kan anak-anak Mommy yang menggemaskan." Manda tertawa lagi, kemudian mencubit pipi Rain lalu menggelitik pinggang anaknya.


"Nah, ini hukuman sudah bersangka buruk sama Mommy,"


"Hahaha, ampun Mom… kami janji tidak akan ulangi."


Canda tawa memenuhi ruangan itu sehingga tanpa sadar Rafa yang sudah berdiri di pintu tidak dilihat mereka.


"Ekhm, asik banget ya mainnya sampai suami sendiri tidak kau sadari sedang berdiri di sini," sahut Rafa mendehem. Manda menoleh, dia tersenyum lebar melihat suaminya sudah datang. Manda ingin turun memeluknya tapi Rafa dengan isyarat tangan menahan Manda.


"Tidak usah turun, kamu tidak akan lama lagi akan operasi. Kamu tidak boleh terlalu kecapeaan, sayang." 


Rafa mengahampiri keluarga kecilnya lalu mengecup kepala Manda. Triple R turun tidak mau mengganggu waktu ayah dan Ibunya. Mereka duduk di sofa sambil membuka bungkusan yang dibawa oleh Rafa. 


"Hm, baiklah. Tapi-" 


"Tapi apa?" tanya Rafa duduk di dekatnya sambil membelai rambut Manda.


"Aku agak trauma untuk operasi," jawab Manda memeluk suaminya dengan manja.


"Pufft, trauma? Kok sampai bisa?" 


"Ihh, jangan ketawa dong, aku serius trauma habis dioperasi enam tahun lalu. Nih coba lihat diperutku ada bekas operasi. Aku jadi ngeri," ungkap Manda menampilkan perut telan-jangnya ke Rafa.


"Sudah jangan diangkat-angkat bajunya, semuanya pasti berjalan lancar kok sayang," ucap Rafa menutupi perut Manda.


"Hiks, tapi aku masih ngeri," lirih Manda merajuk.


"Cup… cup, tidak akan sakit kok, rasanya itu cuma digigit harimau," ucap Rafa mencium kepala Manda tapi ucapannya itu membuat istrinya terkejut.


"Kalau gitu, sakit dong!" cetus Manda kesal.


"Haha, bercanda. Rasanya cuma digigit-" Rafa berhenti tertawa.


"Cuma digigit apa?" tanya Manda masih cemberut.


"Cuma digigit aku," bisik Rafa menjawab sambil diam-diam meremas pantat istrinya.


"Ahhh, mesum. Aku ini lagi sakit, tidak boleh pegang-pegang itu!" Manda makin kesal hingga dia berbaring dan menutup diri dengan selimut.


"Ya sudah, aku tidak mau lihat kamu. Biar kamu cemberut juga!" sahut Manda dari dalam selimut.


"Loh kok malah balas dendam?" 


"Biarin, kalau kamu cemberut, kamu sangat jelek!" ejek Manda mengintip Rafa dan mengulurkan lidah kemudian menutup dirinya lagi. Melihat tingkah jengkel Manda membuat anaknya diam-diam tertawa. Apalagi ekspresi Rafa yang juga cemberut habis dibilang jelek. 


"Hihihi, Daddy kena marah."


____


Waktu operasi semakin dekat, hari ini di jam empat belas sore operasi akan dilakukan segera. Senja dan suaminya sudah sampai ke rumah sakit. Sementara anaknya berada dipantauan Triple R yang berada di ruangan Manda. Sedangkan Manda sudah berada di ruang operasi juga.


Rafa dan Suami Senja diminta untuk menunggu di luar ruang operasi. Tidak menunggu waktu lama, operasi mulai dilakukan. Suasana cukup tegang dan mencekam. Rafa agak kuatir dengan Manda, sedangkan pria di sampingnya juga cemas dengan kondisi Senja.


Namun tiba-tiba ponselnya berdering, itu berasal dari Nyonya Mira yang menghubunginya ingin mengetahui proses operasi. Rafa belum dapat memberi jawaban pasti, yang jelas mereka harus sabar menunggu.


Nyonya Mira cukup lega karena menantunya masih bisa dipertahankan. Tetapi saat tengah mengobrol dengan putra ketiganya itu, Nyonya Mira dikagetkan dengan kedatangan cucunya yang cantik jelita bernama Marsya.


"Mami," panggil Marsya menghampirinya.


"Eh, tumben singgah ke rumah Mami, ada apa?" tanya Nyonya Mira menghentikan sejenak obrolannya.


"Hufft, tadi aku habis singgah juga di rumah Oma," jawab Marsya, gadis remaja itu tampak ngos-ngosan masih memakai seragam sekolahnya.


"Terus?"


"Terus Oma bilang buat singgah ke sini, Oma nyuruh Marsya kasih tahu kalau Paman Noah mau nikah," jawab Marsya mulai tenang.


"Apa, nikah? Noah ingin menikah?" Nyonya Mira sedikit terkejut begitu pula Rafa yang belum memutuskan panggilannya itu sangat kaget.


"Benar, tidak lama lagi dia mau nikah sama Tante Nerin. Jadi Mami dan Papi diminta hadir ke sana untuk membicarakan soal pernikahan, hari ini orang tua Tante Nerin sedang dalam perjalanan mau ke kota ini, Mami."


"Baiklah, kita sama-sama ke sana. Oh ya, Rafa… Mami sudahi dulu, kalau operasinya selesai tolong kasih tahu Mami. Mami dan Marsya mau ke rumah kakekmu dulu," ucap Nyonya Mira setuju pergi.


"Baik, Mih."


Panggilan pun berakhir, Nyonya Mira menaiki anak tangga untuk ke kamar suaminya. Dia dan Tuan Raka pun ke mansion Kakek Alkazein bersama Marsya karena tentu Tuan Alkazein yang sudah tua sudah tidak sanggup lagi untuk membicarakan panjang lebar soal pernikahan jadi Tuan Raka yang sebagai putranya harus datang membantunya bicara.


Mereka sangat terkejut dengan berita ini, mereka tampak tidak sabar untuk hari penting ini. Beda dengan Rafa yang masih sabar menunggu operasi selesai dan juga memikirkan niat Noah untuk menikahi Nerin. Dia mondar sana sini di depan Sekretaris barunya itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti, Rafa mendapat panggilan dari kantor polisi.


"Ya, ada apa menghubungi saya?" tanya Rafa sedikit serius dan kemudian membola mendapat laporan jika keberadaan Delsi telah ditemukan.


"Baiklah, tolong segera tangkap dia! Dia sepatutnya harus dipenjara bersama Ibunya yang busuk,"


"Baik, Presdir."


Polisi mengerti, panggilan pun berakhir kembali. Rafa duduk di samping sekretarisnya, dia meremas ponselnya dengan kuat. Waktu penangkapan Delsi benar-benar cukup memakan waktu lama untuk menemukan keberadaannya. Sekretaris alias suami Senja tampak ingin bicara, dia penasaran mengapa atasannya itu agak marah. Tapi baru juga mau berkata, lagi-lagi panggilan masuk ke ponsel Rafa. Rafa berdiri lagi dan mengangkat panggilan dari polisi di tempat lain.


"Hallo, mengapa anda hubungi saya?" tanya Rafa agak heran dihubungi ketua polisi dari penyelidikan Valen.


"Presdir Rafa, kami menerima surat laporan dari istri anda untuk membebaskan Nona Valen dan hari ini dia telah dibebaskan,"


"Apa? Mana mungkin, istri saya tidak pernah membuat laporan itu!" bantah Rafa mengagetkan Sekretarisnya.


"Pak, kami telah memeriksa, surat ini asli dari istri anda. Mana mungkin kami ceroboh dalam menyelidiki keberanaran surat ini."


"Tetap saja, itu tidak mungkin. Saya selalu berada di sampingnya dan tidak pernah melihat dia menulis surat. Sepertinya surat itu telah dipalsukan dengan sangat bagus. Bapak tetaplah tahan dia sampai saya tanyakan langsung pada istriku!" Rafa tidak percaya itu surat Manda.


"Baik, kami akan menahannya kembali."


Panggilan berakhir cukup lama, polisi duduk kembali dan menghubungi rekannya. Namun tiba-tiba rekan polisi datang dan melaporkan jika mereka kehilangan jejak Valen hingga Bos Mafia saja tidak tahu di mana putrinya itu. Ketua polisi sangat terkejut, dia pun mengerahkan beberapa polisi untuk segera mencari sebelum jejaknya benar-benar hilang.


"Sepertinya Presdir Rafa benar, surat ini telah dipalsukan. Lantas siapa yang telah membantu wanita itu lepas dari penjara?" pikir ketua polisi sedikit cemas Valen dibebaskan oleh orang lain.


Sekarang Valen tampak gimbara dapat kabur dari kantor polisi. Namun dia berhenti di depan sebuah kios kecil. Dia masuk untuk bersembunyi, namun rupanya dia bertemu teman lama.


"Hei, lama tidak berjumpa ya, Valen." Seorang wanita mamakai topi dan masker duduk di salah satu kursi. Tanpa dilihat wajahnya, suara wanita itu jelas di telinga Valen.


"Kau, Delsi?"


"Ya ini aku sudah kembali."


Delsi membuka maskernya, dia tersenyum picik pada Valen. Niatnya kembali untuk balas dendam, tepatnya menghabisi ketiga anak kembar dan Manda, dendam yang harus diakhiri. Lalu apa Valen akan kerjasama seperti dulu lagi?


satu episode lagi wkwk


Endingnya gimana ya?🤧