Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 63 : Sebenarnya aku...


"Argghhhh!"


Prang!


Vas bunga di atas meja dilempar hingga pecah. Nerin masuk dengan perasaan kesal dan langsung menghempaskan pantatnya ke sofa setelah sampai ke rumahnya, ia bersandar kemudian mengacak-acak sedikit rambutnya. Satu pelayan yang ikut dengannya segera memungut pecahan itu dengan tubuh gemeteran.


"Ck, dia kenapa bisa langsung menebak tujuanku sih? Aku pikir jika aku bersikap manis di depannya, dia akan mudah percaya padaku. Ternyata dia wanita tak mudah untuk dikelabui. Beda dengan Rafa yang masih mau bersikap baik padaku. Kalau begini, tak ada kesempatan untuk ku bisa dekat dengannya. Aku awalnya berpikir, setelah Rafa putus dengan Valen, tak ada lagi wanita yang berada di sisinya. Tapi dia masih bisa mengikatnya!" Nerin mendesis kesal.


"Jika saja Jho tidak memberitahuku, aku pasti tak akan tahu hal ini. Argh, aku sudah terlambat untuk merebut Rafa lagi."


"Bahkan, Rafa tinggal di rumah Sheila. Kenapa sih harus memilih Sheila jadi istrimu, Raf! Bukannya kamu dulu pernah bilang kalau aku yang cocok menjadi istrimu, ahhhh.... bodoh, bodoh, aku yang bodoh. Harusnya aku tidak ikut keluar negeri untuk lanjut pendidikan aku. Harusnya aku tetap berada di sampingmu, Raf."


Nerin tak henti-hentinya menggerutu mengingat kemauan orang tuanya. Dia pun masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan pikirannya, apalagi besok ia harus berpura-pura menjadi sosok guru pengajar di sekolah si kembar.


Sementara Manda, dia sedang berjalan linlung masuk ke dalam rumahnya. Dia lelah menyetir mobil hingga kedua tangannya ingin mati rasa. Apalagi ia lagi-lagi hampir menabrak gerobak penjual somay pinggir jalan. Rafa yang cemas dari tadi sudah menunggunya di sofa, ia pun berdiri lalu meraih tangan Manda.


"Ini sudah sore, kenapa kamu baru pulang?"


Manda tak menjawab, ia malah memeluk Rafa dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya. Kehangatan pelukan itu perlahan menenangkan hatinya.


"Aku takut," lirih Manda semakin erat memeluk Rafa.


"Shei, kamu kenapa?" Rafa melihatnya sambil menepuk bahu Manda.


"Aku sendirian menyetir, aku hampir menabrak orang lain, aku takut membunuh orang di jalan." Manda menunduk, ia sedih karena masih belum sepenuhnya mengusai cara menyetir mobil yang benar.


"Ke mana Nerin?" tanya Rafa. Manda terdiam lalu menepis kasar tangan Rafa.


Plak!


"Jangan sebut nama itu di depanku," ujar Manda pergi meninggalkannya. Emosinya naik lagi setelah Rafa menyebut nama musuhnya.


"Shei, kenapa marah? Aku cuma tanya soal Nerin," tahan Rafa meraih tangan Manda.


"Kalau kamu mau tahu, kamu pergi tanya ke dia," cuek Manda menarik tangannya lepas dari Rafa lalu pergi menaiki anak tangga.


"Sayang, tunggu." Rafa menyusulnya kemudian berjalan di samping Manda.


"Apa Nerin meninggalkanmu?" tanya Rafa lagi. Manda menutup matanya dan tak menjawab.


"Shei, apa kamu tidak menyukai Nerin?" Rafa bertanya lagi. Manda menghembus nafas lalu berhenti diikuti Rafa juga.


"Bisakah kamu tanya soal hal lain? Seperti bagaimana aku menyetir, bagaimana keadaanku. Tapi kamu malah tanya wanita lain di depanku, apa kamu tak bisa mengerti perasaanku? Apalagi Nerin adalah mantanmu, aku sangat membenci kata itu di dalam hidupku!" ujar Manda langsung marah-marah.


"Shei,"


"Stop! Aku tidak suka dipanggil dengan sebutan itu, bisakah kamu panggil aku, Manda?" kesal Manda mengoceh di depan Rafa.


"Manda?" Rafa terkejut dengan sikap dingin istrinya.


"Tidak Shei, aku tidak mau memanggilmu begitu," tolak Rafa tidak setuju.


"Kenapa? Nama itu bagus, dan Noah bilang artinya itu-"


"Cukup! Jangan sebut nama dia di depanku dan aku tetap akan memanggilmu, Shei. Bukan Manda."


"Loh kenapa kamu marah?" Manda mulai emosi.


"Karena aku benci nama itu!" ujar Rafa dengan nada tinggi. Manda terkejut mendengarnya, ia pun dengan sinis pun membalas.


"Kalau begitu, jangan sebut nama wanita itu di depanku. Aku juga benci nama itu dan jangan lagi berbicara padaku mulai hari ini." Manda menerobos pergi meninggalkan Rafa, ia menuju ke kamarnya dengan perasaan kesal.


"Sheila!" panggil Rafa teriak menyusulnya cepat. Tapi Manda menutup telinga, ia masuk ke dalam kamar lalu masuk ke dalam selimut. Perdebatan orang tua mereka terdengar lagi di telinga tiga anaknya. Rein cuma bisa mendesis karena ikutan emosi. "Baru juga tadi baikan, sekarang bertengkar." Tiga anak kembar itu menghembus nafas berat.


"Shei, kamu jangan marah seperti ini." Rafa membujuknya, ia duduk di dekat Manda. Tapi Manda tetap setia di dalam selimut.


"Shei, aku harap kamu dan Nerin bisa berteman. Dia memang mantanku dan dia sangat baik. Walau begitu, aku tidak mencintainya lagi, yang aku cintai sekarang adalah kamu. Tidak ada salahnya kan kalian saling kenal?"


Rafa menjelaskan pada Manda tentang perasaannya. Namun Manda hanya diam, tetapi bukan itu yang membuatnya diam melainkan ucapan Rafa yang membenci namanya. Manda diam-diam menitikkan air mata di dalam selimut.


"Apa kamu membenci namaku?" lirih Manda bertanya. Rafa tersentak dengan perubahan suara Manda yang ingin menangis. Ia pun sadar mungkin sudah melukai hatinya.


"Aku minta maaf atas ucapanku, tolong jangan menangis, Shei."


Tetapi Manda sungguh menangis. "Apa namaku jelek hingga kamu membencinya?" lirih Manda bertanya lagi. Rafa tertawa kecil lalu tidur di dekatnya, ia pun memeluk Manda.


"Shei, kamu jangan salah paham. Maksud aku itu bukan ke nama kamu, tapi ke Noah. Aku benci nama Noah karena dia orangnya menyebalkan. Jadi kamu jangan salah paham dulu, istriku." Manda membuka selimut, ia tersenyum pada Rafa sambil mengusap matanya lalu terisak sedikit.


"Kenapa kalian bermusuhan? Kalian ini kan keluarga?" tanya Manda ingin tahu kebencian Rafa terhadap Noah.


"Karena itu masalah di waktu kecil. Sudahlah, jangan bahas dia." Rafa menyentuh hidung Manda.


"Tapi kamu kenapa tidak mau panggil aku, Manda?"


"Karena yang patut mencintaimu cuma aku, dan aku tidak mau ada orang lain yang memanggilmu begitu. Biarkan nama Sheila yang terucap dari bibirku dan biarkan nama Manda terukir di dalam hatiku." Rafa menjawab sambil tersenyum. Manda pun diam, ia perlahan bisa mencernanya.


Menurut Rafa, mungkin nama itu bisa memicu untuk para lelaki lain untuk mencintai Manda karena arti nama itu adalah patut dicintai oleh siapa-pun. Itulah mengapa Rafa tak mau memanggilnya, Manda.


Manda pun memeluk Rafa, bisa-bisanya Rafa berkata manis begitu padanya. Ia sedikit tersipu habis digombal oleh suaminya. Manda merasa jika Rafa mulai menjadi lelaki yang lembut. Ia pun berkeinginan untuk jujur soal identitasnya.


"Rafa,"


"Hm, kenapa?" tanya Rafa melihatnya. Manda mendongak lalu menatap dua mata suaminya. Ia sedikit deg-degan.


"Itu sebenarnya aku-"