
Seminggu kemudian, Manda pun dinyatakan sudah bisa pulang oleh Dokter. Ibu dan Ayah pun mulai membereskan barang-barang, sedangkan Manda keluar sejenak untuk membeli kantong besar untuk keperluan barangnya. Namun tidak terduga, dia melihat Helena berjalan berdua bersama Rangga. Sekali lagi dan tanpa sengaja Manda dan Rangga bertatap muka, namun Manda buru-buru pergi. Dari raut Rangga, dia terlihat sedih. "Maaf Manda, aku terpaksa melupakan semuanya demi kebaikanmu." Rangga pergi bersama Helena. Dia tidak amnesia, dia hanya berpura-pura agar Manda tidak bertanya sesuatu padanya. Dia lakukan itu demi Manda dan Helena agar tidak bermusuhan lagi, tapi dalam lubuk hatinya, Rangga sangat khawatir sama Nerin. Dia juga merasa bersalah telah meninggalkan istri pertamanya yang sedang hamil itu. "Ku harap dia bahagia di sana."
Setelah dapat kantong besar dari warung terdekat, Manda pun kembali ke ruangannya. Begitu terkejutnya dia setelah masuk ke bansal dan melihat hanya ada seorang pria sedang berdiri membelakanginya dan menatap selembar kertas yang sudah terpajang di tembok selama seminggu ini. Pria itu sangat serius melihat-lihat karya lukis yang berisi gambar lima orang. Itu gambar keluarga kecil Manda.
Manda perlahan mendekatinya, kemudian menengok untuk melihat wajahnya.
Sontak Manda menelan ludah setelah mengetahui pria itu.
"Ke-kenapa anda datang ke sini?" tanya Manda sedikit gugup.
Pria itu menoleh dan menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu yang telah membuatku datang ke sini," jawab pria itu lalu meraih tangan Manda.
"Apa kau merindukan aku, sayang?" tambahnya bertanya hingga Manda terkejut.
"Tunggu dulu, kenapa Dokter Rafael bicara begitu?" tanya Manda menarik tangannya lepas.
"Pufft," dia tertawa kecil.
"Ke-kenapa kau tertawa?" tanya Manda terheran-heran. Bukannya dijawab, Manda malah dipeluk olehnya.
"Sheila, ini aku."
Degg...
Manda diam membisu lalu mendorong dadanya.
"Dokter, tolong jangan bercanda. Saya bukan Sheila, Dokter pasti sudah salah orang." Manda pun berbalik, dia sangat bingung kenapa tiba-tiba pria yang mirip dengan suaminya itu memanggil dia dengan nama Sheila. Sekali lagi dia dipeluk dari belakang.
"Sheila, sungguh ini aku datang untukmu. Aku bukan Dokter yang kau pikirkan itu."
"Apa maksudmu?" kaget Manda berbalik melihatnya. Kedua tangannya sudah mengapal dan sedikit terguncang.
"Aku Rafandra, saudara kembar Rafael. Aku pemilik kalung berlian ini. Dua tahun yang lalu, aku diberikan kalung ini dari kakekku, dan setelah aku pakai, tiba-tiba saja di malam hari aku mendapat ingatan lain, dan di dalamnya terdapat gambaran asing, tapi aku merasa jika ini bagian dariku. Kakek pernah bilang, kalung ini keramat dan akan membawa petaka dan juga sebaliknya. Kalung ini telah menuntunku dan menemukan jawaban dari gambaran itu. Perempuan yang aku lihat adalah kamu, Manda."
"Dan setelah aku lihat gambarmu ini, ingatan asing itu semakin jelas jika mungkin kita pernah bertemu di kehidupan lalu. Jika saja Rafael tidak pulang dan memberitahuku soal berlian ini dan tentang kamu, mungkin aku tidak akan mengerti soal ingatan asing itu," ucapnya menjelaskan dan kemudian memeluk Manda.
"Sheila, apa kamu percaya ucapanku?"
Manda diam sejenak kemudian dia terkejut mendengar isak tangisnya. Perasaan keduanya semakin saling terhubung.
"Aku merindukanmu, Shei."
Manda pun balas memeluknya dan berkata lirih sambil sesugukan. "Apa ini sungguhan? Apa aku sedang bermimpi? Bagamana ada Rafa yang asli?" pikir Manda lalu menjawab, "Rafa, aku juga merindukanmu." Keduanya pun saling melepaskan rindu hingga tidak sengaja dilihat oleh dua orang yang baru datang.
"Wow, aku sepertinya sedang melihat pasangan yang terpisah lama dan kini dipertemukan hari ini," ucap seorang cewek di samping Dokter Rafael.
"Huft... lebih baik kita tidak usah menganggu mereka." Rafael menariknya lalu pergi, ia tidak ingin merusak moment saudara kembarnya.
Setelah lama berpelukan, Manda pun mendongak lalu melihat di leher Rafa ada kalung miliknya. Manda pun mentoel pipi Rafa dengan gemas dan kemudian keduanya tertawa kecil. Rafandra pun merangkul pinggang Manda dan menatap gambar di depannya.
"Hm... kenapa?" tanya Manda menoleh.
Rafandra tersenyum jahil lalu mendekati wajah Manda, seolah-olah ingin menciumnya.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Manda lagi dengan gugup dan merona. Rafandra meraih kedua tangan Manda lalu berkata dengan sungguh-sungguh.
"Menikahlah denganku, Manda."
"Apa? Menikah?"
"Ya Manda, ayo kita menikah dan lahirkan tiga anak kembar."
"Tiga anak kembar?" Manda terlonjak kaget. Manda pun yakin jika pria ini memang bisa jadi Reinkarnasi Rafandra.
"Kenapa terkejut? Apa kamu tidak mau?" tanya Rafandra sedikit kecewa.
"Ah bukan itu,"
"Terus?"
"Itu, bagaimana kalau aku tidak bisa lahirkan anak kembar untukmu?"
Rafandra mencentil kening Manda, dia pun berkata : "Aku terlahir kembar, dan kemungkinan kita dapat punya anak kembar juga. Dalam ingatan asing itu, jika kau menikah denganku, kita akan punya empat anak,"
"Hah, empat anak?" Manda kembali terkejut. "Jika ingatannya itu benar, itu artinya Sheila di sana masih hidup dan melahirkan anak keempat?" batin Manda langsung tersenyum lebar karena ending ceritanya hampir persis yang dia tulis. Yaitu berakhir dengan empat anak.
"Apa kau mau nikah denganku?" tanya Rafandra lagi.
"Kalau aku tidak mau?" ucap Manda melirik.
"Kalau begitu aku akan paksa kamu!" ujar Rafa melotot.
"Xixixi, baiklah." Manda tertawa cekikikan diancam. Sikapnya mirip-mirip sama Rafa. Rafandra pun mencium kening Manda dengan lembut. Walau ini belum pasti soal ingatan itu, tapi Rafandra yakin jika dia telah berhasil dituntun ke tempat jodohnya. Dia pun mulai untuk tidak meragukan perkataan Kakeknya dulu. "Kalung itu pembawa petaka dan sebaliknya."
Lantas apa petakanya? Tentu Manda harus kehilangan moment bersama tiga anaknya di dunia sana.
Lantas apa sebaliknya itu? Tentu dibalik derita pasti ada kebahagian, dan kini Manda telah merasakannya. Dia melahirkan tiga anak kembar setelah lima tahun menikah dengan Rafandra. Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah yang cukup besar. Tiga anak menggemaskan langsung berlarian menghampiri dan menyambut kepulangan orang tuanya dari kota Bandung.
"Mama! Papa!"
"Asiik, Mama pulang, Papa pulang!"
"Mama, oleh-oleh Rein, Rain dan Rara mana?"
Ketiga anak berseru kegirangan. Manda dan Rafandra tertawa geli kemudian menyuruh supir untuk membawa oleh-oleh mereka masuk.
"Wah, terima kasih Mama, Papa!"
"Sama-sama sayang," ucap Manda dan Rafa. Ketiga anak berlari riang masuk menyusul supir, dan diikuti oleh Rafandra serta Manda. Keduanya telah menyelesaikan bisnis mereka. Di mana Rafandra adalah Direktur PT. Givandra Sanja. Perusahaan kontruksi terbesar di Bandung dan Manda yang sebagai sekretaris suaminya itu. Rumah itu terdengar penuh tawa dan jeritan ketiga anak kembarnya. Moment itu kembali dia rasakan setelah melewati masa-masa sulit yang mereka jalani dan sekarang tidak ada lagi yang dapat memisahkan mereka kecuali maut.
...~Tamat~...