
Manda buru-buru memasuki perusahaan. Sesampainya di ruang Direktur. Saat itulah Direktur Song menggebrak meja. Brak! Ekspresinya sedikit menakutkan. Tapi Manda dengan tenang maju mendekati meja lalu berkata santai. "Maaf Direktur, untuk apa memanggil saya?" tanya Manda sudah berdiri tegak di depan Direktur Song.
Pria tua itu meremas majalah di tangannya. Ia dengan kekesalan langsung menunjuk Manda menggunakan majalan itu, tatapannya sangat tajam. Namun matanya tertuju pada oppai gemoy Manda.
"Manda! Sebagai karyawan magang, bisakah kamu bekerja lebih baik di perusahaan ini!"
"Apa kamu memang tidak punya jam? Ini sudah pukul 11.23 siang dan kamu belum menyerahkan apa yang telah saya tugaskan untukmu kemarin!"
"Harusnya kamu menyerahkannya potret kencan buta CEO Rafandra dengan artis Olive Beatrice!" ujar Direktur Song mendekatinya.
"Oh jangan bilang kamu tidak mendapatkannya?" lanjutnya curiga dengan mata sipit mengamati Manda yang setia berdiri mendengar ocehan-ocehan yang sangat berisik. Manda pun meliriknya kemudian tersenyum. Bukannya dijawab, Manda malah bertanya pada Direktur Song yang sudah mau naik tanduk melihat Manda yang tenang-tenang saja.
"Sudah tidak ada lagi yang ingin dikatakan, Pak?" tanya Manda melihatnya. Direktur Song mengepal tangan namun seketika terkejut mendengar Manda bicara lagi.
"Pak, saya itu sebenarnya kemarin berusaha mendapatkan potretnya. Tapi kamera saya rusak, jadi saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kalau bapak mau pecat saya, silahkan saja. Saya dengan senang hati akan menerima keputusan dari Pak Song," jelas Manda marah-marah.
"Kamu mau mengundurkan diri? Baru juga dua hari kamu sudah berani meminta pengunduran diri pada saya langsung!" bentak Pak Song marah juga sambil menunjuk-nunjuk Manda.
"Ya kan cara kerja saya tidak becus Pak, dari pada menampung beban mending dilepaskan, benar kan Pak?" ucap Manda melipat tangan di depan dadanya. Membuat mata Direktur teralih ke oppainya.
"Lagi pula bapak sudah tahu, tujuan saya masuk ke sini cuma ingin mencari kabar putri saya yang hilang. Dan karena, saya sudah menemukannya kemarin, jadi saya dengan senang hati akan meninggalkan perusahaan ini, Pak!" lanjut Manda memberitahu tujuannya.
Mendengar ucapan Manda bagaikan lelucon di telinga Direktur Song. Dengan cepat, Direktur meraih lengan Manda, mencengkaramnya sedikit kuat. Tak terima ucapan Manda.
"Ada apa ini, Pak!" ronta Manda mencoba lepas. Direktur menyeringai, kemudian tertawa lepas. "Eh buset, dia gak kesurupan mendadak kan?" gumam Manda dalam hati dan masih meronta ingin lepas.
"Cih, dari kegagalan kerjamu ini, kamu harus ganti rugi pada saya!" decak Direktur membentak.
"Ha? Ganti rugi?" kaget Manda menarik paksa tangannya.
"Ya, ganti rugu! Ini semua karena kamu sudah membuang poin terbesarku, keuntunganku terbuang sia-sia! Harusnya kencan itu tidak kamu abaikan! Sekarang jangan coba-coba kamu keluar dari sini sebelum ganti rugi!" ujar Direktur kembali meraih pergelangan Manda. Namun Manda dengan kuat menepisnya kasar.
"Oke, saya akan ganti rugi. Tapi anda jangan memaksa saya begini!" kata Manda membuat Direktur Song marah lagi.
"Kamu pikir, 50 juta bisa kamu kembalikan dalam sehari!" bentak Direktur lalu menyeringi tipis melihat Manda kaget dengan jumlah yang banyak itu.
"Bapak ini mau memeras saya ya! Kenapa jumlahnya banyak sekali!" ujar Manda tidak terima.
"Aduh, jika kamu tak bisa bayar, bagaimana kalau-" ucap Direktur mendekati Manda.
"Kalau apa?" tanya Manda menjauhinya.
"Bagaimana kalau kamu memuaskan aku siang ini!"
Manda tersentak, kini dugaannya benar kalau Pak Direktur hanya ingin menjebaknya agar mau dilayani. Sontak Manda menampar keras wajah Direktur membuat karyawan di luar tersentak mendengar kemurkaan Manda.
"Pak! Saya itu jelas-jelas wanita yang sudah punya anak. Mana mungkin saya melakukan itu dengan pria tua seperti anda. Ck, benar dugaan saya, anda ingin menjebak saya agar saya bisa menyerahkan tubuh saya pada anda. Sangat membuat saya muak, anda ini seorang pemimpin dan pastinya sudah beristi. Jika bapak mau, bapak cari ****** saja di luar sana. Saya ogah berurusan dengan bapak! Jadi saya akan tetap keluar dari perusahaan ini dan pastinya membayar ganti rugi, good bay!" Manda melewati Direktur Song dengan puas. Namun dengan cepat Direktur segera meraih tangan Manda.
PLAK!
Manda terkejut, karena tamparan itu bukan dari tangan Direktur melainkan tangan dari orang lain, tepatnya Presdir Rafandra yang tiba-tiba masuk dan menampar begitu keras tanpa ampun hingga gigi Direktur sebagian tercabut.
"Pfft," Manda ingin sekali tertawa melihat mantan atasannya mengepal tangan.
"Hei, siapa yang sudah berani menampar saya!" teriak Direktur tak sadar kehadiran Rafa.
"Saya!"
Deg! Jantung Direktur berdegub keras.
"Presdir Rafa, mengapa anda bisa datang kemari?" tanya Direktur kaget sambil mengelus pipinya yang sakit memerah.
"Tangan mana yang tadi menyentuhmu?" senyum Rafa melihat Manda.
"Untuk apa kamu bertanya begini?" tanya Manda tak mengerti. Rafa pun merangkul pinggul Manda membuat Direktur makin terkejut dan heran melihat Manda didekap oleh Rafa.
"Tentu saja memberi perhitungan pada orang yang sudah berani menyentuh wanitaku," jawab Rafa menatap Manda. Sontak Manda sedikit tersipu mendengar dirinya diakui sebagai wanita di depan mantan atasannya.
"Wanita? Sejak kapan kamu jadi wanita Presdir-"
Bugh! Rafa menonjok wajah Direktur, ia sedikit jengkel dengan tampang Direktur yang menyebalkan.
"Presdir Rafa, mengapa anda memukul saya! Harusnya anda memberi pelajaran pada ****** ini!" Tunjuk Direktur murka.
"Pak Song, saya ini wanita baik-baik! Andalah ****** yang sesungguhnya!" bentak Manda kesal sambil menunjuk Direktur. Rafa tertawa dalam hati melihat sifat asli Manda yang ternyata pemarah.
"Sekretaris Jho!" panggil Rafa. Manda mengerutkan kening lalu melihat pria lain masuk.
"Eh, apa ini sekretaris Jho? Eh buset, gateng juga." Manda bergumam dalam hati.
"Ya Presdir, apa ada perintah untuk saya?" tanya Sekretaris Jho berdiri di antara mereka dan sekali melirik Manda. "Loh, ini kan Nona Sheila?" gumam Sekretaris Jho kaget dalam hati mengenali Manda sebagai Sheila. Wanita yang dicari-cari oleh atasannya dan keluarga William dulu.
"Aku ingin kamu bereskan dia, patahkah tangan yang sudah menyentuh wanitaku!" geram Rafa serius menunjuk Direktur. Ini membuat Manda sangat shock, benar-benar sifaf kejamnya masih ada.
"Tidak! Keluar kalian dari-"
Bugh! Satu pukulan mendarat di perut Direktur. Manda yang tak kuat melihatnya langsung menarik Rafa keluar.
"Presdir Rafa, tolong maafkan saya!" teriak Direktur kesakitan digebukin habis oleh anak buah Rafa. Karyawan yang melihatnya cuma diam saja. Mereka tak berani untuk mengusiknya, karena Rafa terkenal pria tidak punya balas kasihan.
Aaaarghhh ampun!