
Sementara di waktu yang sama, matanya terbuka dengan jelas, dia melihat sekitarnya saksama dan mendapati dirinya berada di rumah sakit. Dia yang sedang istirahat, tiba-tiba saja seorang pria masuk dengan tampilan Dokter. Dia mendekati wanita yang telah sadar itu dan bertanya sejenak.
"Bagaimana perasaan anda, Nona Sheila?" tanyanya sambil melihat kantong infus di depannya. Sejenak Sheila diam, dia tidak dalam suasana hati yang baik. Dokter yang melihat diam pun tidak lagi bertanya. Namun Sheila beranjak duduk dan menatap Dokter di depannya.
"Dok, beri tahu padaku, ini sudah tahun keberapa?"
Dokter melihatnya, dia agak bingung mengapa tahun ini saja tidak diingat oleh wanita di depannya.
"Apa ini tahun 2026?" tanya Sheila lagi. Dia belum percaya berada di tahun itu, berasa sudah melompati waktu begitu cepat. "Apa aku reinkarnasi ke masa depan?" pikiran Sheila sepenuhnya berpikir begitu.
"Benar, ini tahun 2026. Nona Sheila, setelah saya periksa kemarin, tolong kendalikan emosi anda mulai sekarang," ucap Dokter itu serius berbicara.
"Memangnya kenapa?" tanya Sheila dengan mata menyipit.
"Anda terkena kanker darah, anda harus menjaga kesehatan anda mulai sekarang dan segera berobat."
Bukan main, Sheila kaget dengan jawaban Dokter.
"Pan-pantas saat bangun kepalaku pusing sekali seperti ingin meledak ternyata malah menderita leukemia," lirih Sheila menunduk.
"Anda jangan kuatir, ini dapat ditangani secepatnya jika Nona sungguh-sungguh ingin sembuh," ucap Dokter sedikit iba. Sheila tidak peduli, dia tertawa bodoh di depan Dokter.
"Hahaha, baru saja aku sadar sudah diberi derita, bukan kah itu lucu? Hahaha, aku tidak kuatir sama sekali, aku malah senang mendapat penyakit ini."
Dokter terdiam melihat wanita di depannya tertawa. Segitunya dia bahagia dapat menyakit sampai-sampai membuat Dokter terheran-heran. Dia terlihat gila di mata Dokter.
"Nona Sheila, anda jangan berkata begitu. Masa depan Anda masih panjang, terutama anda masih dibutuhkan anak-anak dan suami, Nona."
Tawa Sheila berhenti setelah mendengar Dokter bicara soal ketiga anak kembarnya dan Rafa.
"Ahhhh keluar, aku tidak mengenal mereka," jerit Sheila merasa pusing lagi. Ujung-ujungnya pasti menolak kebenaran. Dokter pun keluar untuk melapor ke Rafa yang berdiri di luar bersama ketiga anak kecebongnya, meninggalkan Sheila yang tiba-tiba meracau barusan.
"Aku-aku kesal, mengapa bisa sampai begini!"
Sheila menampar-nampar kepalanya kemudian jatuh berbaring. Dia bergegas tidur miring saat pintu kembali di buka. Tiga anak masuk menghempirinya bersama Rafa.
"Sayang, Dokter sudah memberi tahuku. Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini melakukan pengobatan," ucap Rafa tidak akan biarkan penyakit itu menyiksa istrinya. Sheila tidak peduli, dia diam membelakangi anak-anak dan suaminya.
"Baiklah, anggap saja diammu berarti setuju. Aku akan mengurus sesuatu, jadi jaga anak-anak sebentar," tambah Rafa membelai kepala Sheila dengan lembut kemudian ketiga anaknya lalu keluar sebentar. Sheila menelan ludah, tenggerokannya serasa mengering berada di ruangan bersama tiga anak kecil itu.
"Mommy, baik-baik saja?" tanya Rara berdiri di hadapannya menatap mata Ibunya yang terpejam. Sheila agak grogi, dia merasa sedikit bersalah sudah membentak anak manis itu.
"Mommy sakit apa?" tanya dua bocah tidak tinggal diam saja.
"Sakitnya tidak parah kan, Mom?" Rara kembali bertanya sambil memegang tangan Sheila. Karena didesak, Sheila pun membuka mata. Dia terdiam melihat ketiganya kuatir. Dia pun beranjak duduk dan melihat gelas berisi air di atas meja. Tenggorokannya yang kering harus dihilangkan.
Melihat tatapan Ibunya ke gelas itu, Rain si bungsu mengambilnya kemudian memberikan ke Sheila.
"Mommy pasti haus, minumlah."
Sheila tidak bergerak, dia gengsi.
"Mommy, kalau kita sudah nakal kami minta maaf. Mommy jangan diam lagi," ucap Rara ingin menangis tidak direspon oleh Ibunya. Dua saudara kembarnya menunduk sedih.
Saat itulah gelas di tangan Rain diambilnya, ketiganya terkejut mendengar suara lirihan Sheila.
"Ma-maaf sudah galak sama kalian," ucap Sheila sedikit melebarkan senyuman ke anak-anaknya. Rara yang tadi menahan tangisnya segera memeluk perut Ibunya. Tangisnya pecah di dalam ruangan itu, diikuti tiga anak ikut terisak.
Entah kenapa, Sheila memeluk ketiganya. Dia dengan sendiri tanpa sengaja menangis. "Apa ini, perasaan apa ini?" batin Sheila tidak tahu mengartikannya. Pelukan yang hangat itu terasa tidak asing, bagaikan dia selalu memeluk tiga anak itu setiap hari.
"Mommy jangan marah lagi ya," isak Rain mendongak melihatnya. Sheila menyapu deraian air mata ketiga anaknya. Dia mengangguk sendiri.
Dari luar ruangan, Rafa memang belum pergi. Dia diam di sana untuk melihat istri dan anak-anaknya. Karena melihat Sheila tenang, dia pun pergi ke ruangan Dokter.
"Kalian manis, kalian baik, kalian juga tidak nakal," ucap Sheila bergantian membelai pipi mereka. Ketiganya senyum-senyum kembali.
"Oh ya, nama kalian siapa?" Ketiga anaknya diam kaget ditanya begitu.
"Mommy kenapa tanya? Kan Mommy tahu nama kita," jawab Rein si anak sulung.
"Haha, ini tadi kepala sakit, jadi lupa," ucap Sheila cengengesan bodoh.
"Pffft, Mommy jadi orang pelupa. Aku Rara, ini Rein terus ini Rain," jelas Rara menunjuk dirinya dan kemudian dua saudaranya.
"Oh, terus yang tua siapa?"
Lagi-lagi ketiganya kaget kemudian menjawab lagi.
"Aku yang duluan lahir, Mom," jawab Rein mengacungkan tangan.
"Oh terus yang bungsu siapa?" tanya Sheila menahan tawa melihat ketiganya yang kebingungan.
"Ihh, Mommy seperti main tanya jawab sampai begitu. Padahal Mommy sendiri bilang kalau Rain yang bungsu," cetus Rain cemberut sehingga ditertawai oleh Rara, begitupun Sheila diam-diam tertawa kecil.
"Nah berarti-"
"Rara anak kedua yang imut dan cantik!" potong Rara menyahut dengan riang.
Walau kini ketiganya sudah menjawab soal nama, tetap saja Sheila belum dapat membedakan mana Rein dan Rain. Dia merasa konyol dapat melahirkan tiga anak kembar. "Hahaha, jelas-jelas malam bercinta itu masih membekas di kepalaku, tapi kelahiran mereka sama sekali tidak ada. Apa ini sebuah keberuntungan?" Sheila merasa dia yang sudah enak-enakan dengan Rafa, tapi seperti ada orang lain yang melahirkan anak untuknya. Konyol sekali.
"Mommy ayo minum dulu," ucap Rain memberikan gelas tadi. Sheila pun mengambil lalu menyegarkan tenggorakannya. Rasanya lega seperti kehausan bertahun-tahun.
"Mommy jangan sampai sakit ya,"
"Kita tidak mau Mommy sakit,"
Rara dan Rein memeluknya lagi, Sheila diam. Diam tidak tahu mau jawab apa. Niat untuk hidup serasa tidak ada lagi, tapi adanya tiga anak itu membuat Sheila ragu.
"Kami janji tidak akan nakal ke Daddy," ucap Rain berdiri di depannya.
"Ah baiklah. Mommy tidak akan sakit," ucap Sheila terpaksa mengiyakan. Saat itulah baru pertama kalinya dia merasa tentram. Tapi Sheila tidak boleh diam saja, dia harus melakukan sesuatu. Mata Sheila tertuju pada ponsel di atas meja. Dia pun menyuruh anak-anak ke Rafa.
"Oh ya, kalian bertiga bisa panggil Daddy?" tanya Sheila malu-malu mengucapkan itu.
"Baiklah, Mommy!" ketiganya secepat kilat keluar mencari Rafa, meninggalkan Ibu mereka di dalam sendirian. Sheila pun meraih ponsel silicon berwarna biru bermotif Doraemon. "Hewan apa yang berwarna biru ini? Apa ini rakun? Atau kucing?" pikir Sheila baru pertama kalinya melihat Doraemon. Memang Manda yang memesan silikon bermotif yang manis itu.
"Tidak, ini tidak penting." Sheila secepatnya menyalakan ponsel itu. Dia sangat terkejut melihat wallpaper adalah fotonya dan ketiga anak kembar.
"Eh ternyata ponselku, tapi kenapa kekanak-kanakan begini?" Sheila secepatnya menekan fitur kontak, dia mengetik sebuah nomor ponsel. Tiba-tiba nomor itu terhubung. Sheila tersenyum dia pun mengobrol dengan pemilik nomor.
"Wow, ternyata kamu masih hidup, aku pikir kamu sudah tiada,"
"Ish, kamu ini! Jangan bicara begitu, sekarang apa kamu ada waktu? Aku ingin bertemu denganmu," ucap Sheila mendumel ke sahabatnya.
"Don't worry, aku sangat senang bila bertemu denganmu. Sudah enam tahun tidak bertemu denganmu," balasnya tertawa kecil. Sheila cuma diam mendengarnya. "Sepertinya aku bisa curhat padanya juga," batin Sheila pasti.
"Baiklah, aku akan mengirim waktu pertemuan kita."
Panggilan berakhir, Sheila merasa lega akan bertemu sahabatnya. Dia berniat untuk mengambil rekaman itu dan memberikannya ke pengadilan sebagai bukti kejahatan Nyonya Marina. Sheila pun membuka note di hpnya. Dia terkejut ada banyak file tulisan di sana. Tetapi begitu kagetnya dia membaca file itu.
...Jangan Lupa likenya dan votenya biar Asti semangat😄...