
Cklek!
Pintu di dekatnya terbuka, Sheila bergegas berdiri lalu berbalik melihatnya. Dua matanya kembali membola, dia diam terpaku. Bukan karena ketampanannya yang habis bangun, tapi pria di depannya sangat dia kenali.
"Ka-kau, kenapa ada di kamarku!" ujar Sheila menunjuknya geram.
"Ha, sayang kenapa kamu membentakku dan anak-anak pagi ini?" kaget Rafa heran dibentak barusan kemudian berjalan ke arah tiga anaknya.
"Kalian kembali ke kamar ya, pergi mandi dulu. Nanti Daddy bawa kalian ke rumah Nenek," ucap Rafa membelai kepala tiga anaknya. Ketiga anak kembar pun mengangguk kemudian masuk ke kamar tanpa melihat Ibunya, mereka agak kecewa pada Mommy mereka yang tiba-tiba kasar.
"Huh, kamu ini kenapa sih pagi-pagi buat rusuh?" tanya Rafa berbalik dan langsung diserang oleh Sheila.
Bag!
Rafa didorong ke dinding dan dicekik oleh Sheila.
"Ahhh, Shei. Lepaskan aku, kamu sudah gila, ha!" bentak Rafa melepaskan kedua tangan Sheila yang mencekik lehernya. Untung saja Rafa mengeluarkan semua tenaganya.
"Bajinan, kenapa kamu ada di rumahku dan membawa tiga anak ke sini, ha! Kamu bejat, kamulah yang sudah memperkosaku! Aku ingat wajahmu itu, kamu kejam meniduriku! Kamu pikir aku menikmatinya!" ujar Sheila menangis ingat malam bercinta dengan Rafa. Deraian air mata bercucuran, malam itu sangat jelas dia lihat sendiri pria di depannya memaksanya untuk bercinta.
"Ahhhh, kau harus mati saja!" rutuk Sheila kembali menerjang ingin mencekik Rafa, tetapi Rafa dengan gesit menahan dua tangan istrinya.
"Cukup, Shei! Apa yang sudah terjadi padamu?" cegat Rafa serius kali ini menahannya dengan mengunci kedua tangan Sheila ke belakang.
"Lepaskan aku orang jahat!"
Deggg...
"Sheila, apa yang telah merasukimu, ha!" bentak Rafa sehingga tiga anaknya yang berdiri di belakang pintu kamar terkaget-kaget.
"Kakak, kenapa Mommy dan Daddy bertengkar lagi?" Rara memeluk Rein. Dia ketakutan mendengar perdebatan yang sangat mengerikan.
Rain di samping dua kakaknya menunduk, dia juga ketakutan begitupun Rein. Baru kali ini Ibunya begitu liar berkata.
"Aku tahu siapa kamu, kamu pasti ke sini ingin memperkosa aku lagi, kan?" bentak Sheila akhirnya mengamuk hebat.
"Cukup! Apa kamu tidak bisa tenang dulu, Shei! Kenapa kamu berkata itu, anak-anak kita ada di dalam kamar!" balas Rafa membentak sambil menunjuk kamar di sebelahnya.
"Hahaha, anak-anak kita? Sejak kapan aku punya anak dengan pria bejat sepertimu!" tawa Sheila menunjuk Rafa. Rafa pun menutup mata, kesabarannya hampir habis, tetapi dia berusaha tenang untuk tidak memukul.
"Baiklah, sepertinya kamu belum ikhlas, aku minta maaf, sungguh minta maaf. Saat itu aku mabuk berat, aku tidak tahu kamu ada di atas ranjangku. Aku tidak berpikir jernih saat itu, tolong mengertilah, sayang," jelas Rafa meraih tangan Sheila.
"Mengerti? Apa yang harus aku mengerti? Anda ini sudah menghancurkan masa depan saya! Aku sangat membencimu," tutur Sheila tersenyum kecut lalu berbalik ingin pergi.
"Aku tahu, anda ke sini pasti ingin membawa pergi. Oke, aku akan mengikuti anda setelah aku membunuh kakak dan wanita keji itu."
Rafa tercengang mendengar niat jahat Sheila. Dia cepat berjalan untuk menahannya tapi Sheila membentaknya lagi.
"Berhenti, Tuan jangan ikut campur. Ini urusan saya, setelah saya membunuh mereka, anda bisa leluasa melakukan apa saja ke tubuh saya. Anda juga tidak perlu segan-segan untuk menghabisi saya, semuanya tidak lagi berarti bagi saya," jelas Sheila dan kembali berjalan dengan kepalan tangan.
"Sheila, sebenarnya kamu ini kenapa!" teriak Rafa benar-benar kebingungan dengan sikap dan tingkah Sheila hari ini.
"Aku ini sedang mencoba balas dendam, Tuan." Sheila tersenyum menyeringai, dia bagaikan setan.
"Sheila," lirih Rafa segera memeluknya.
"Tenanglah, biarkan aku yang mengurusnya semuanya," tambah Rafa dengan lembut mencium kening Sheila. Wanita itu diam seribu kata, dia agak terkejut dipeluk dan dicium.
"Suamimu, sayang."
Deg.
Jantung Sheila tiba-tiba sakit, bukan sakit biasa, tapi rasanya ditusuk.
"Ah, su-suami? Tu-tuan suami saya?" tanya Sheila berusaha menahan sakit. Rafa mengangguk dan tersenyum melihat wanita di depannya menangis. Tidak, Sheila bukan terharu, tapi dia menahan kesakitan.
"Ahhhhhhhhh!" jerit Sheila begitu keras dan jatuh ke kepelukan Rafa. Jeritannya menggema hingga tiga anak kembar itu keluar. Jeritan Sheila bagaikan sedang mengalami sekeratul maut.
"Mommy!" teriak ketiganya kaget melihat Sheila jatuh ke lantai. Rafa pun secepatnya menggendong lalu membawa ke kamarnya dengan panik dan cemas.
Begitupun di dunia lain, Manda menangis setiap malam. Dia terbangun di masa tahun 2020. Dunia moderennya kembali dia lihat.
"Kenapa aku-aku kembali, kenapa aku kembali di dunia ini!" Manda mengamuk, dia belum rela kembali. Belum bisa merelakan suami dan anak-anak yang dia lahirkan dan besarkan.
"Apa itu cuma mimpi?" isak Manda dengan pilu.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Ibunya masuk melihat Manda mengamuk. Manda meraih tangan Ibunya, dia meracau tiada hentinya.
"Ibu-ibu, aku harus kembali. Aku masih ingin bersama mereka," tangis Manda. Sakit, sakit rasanya berpisah.
"Kamu ini baru saja kemarin siuman dari koma selama lima bulan, dan sekarang malah ngelantur," ucap Ibunya duduk di sampingnya.
"Tidak, Bu. Aku tidak ngelantur, mereka hidup, Bu!" bantah Manda mengguncang tangan Ibunya.
"Mereka siapa? Siapa yang kamu maksud, Nak?" tanya Ibunya bingung.
"Su-suami dan anak-anakku, Bu!" jawab Manda mengagetkan Ibunya. Saat Ibunya mau berdiri, seseorang menggampar kepala Manda.
Plak!
Ibunya kaget melihat anak sulungnya datang menggampar Manda. Manda diam seketika, rasanya otaknya bergerak, itu cukup keras untuk menyadarkannya.
"Berhenti, Manda! Kau ini sudah gila, mana mungkin kamu yang koma lima bulan punya suami dan anak! Ini pasti akibat dari halumu! Lebih baik berhenti lagi menulis cerita!"
Manda melotot, tentu dia marah.
"Aku tidak gila, aku benar-benar punya suami dan anak!" pekik Manda lalu memeluk Ibunya dan menangis tersedu-sedu.
"Ibu, aku tidak gila. Mereka sungguh ada, aku merindukan mereka."
"Cukup! Kalian berdua ini jangan bertengkar lagi, dan kau Wahyu, cepat minta maaf pada adikmu!" tegas Ibu membela Manda. Dia tidak tega melihat putrinya menangis.
"Cih, dasar adik bodoh!" decak Wahyu keluar tidak peduli.
"Ibu," lirih Manda terisak-isak. Ibu membelai rambut Manda, berusaha menenangkan putrinya yang hampir tidak terselamatkan itu.
"Sudah ya, jangan dipikirkan lagi. Sekarang tidur, kamu tidak boleh emosi." Ibu yang baik cuma bisa menyuruh Manda. Manda pun hanya menurut kemudian tidur miring. Ibu keluar, mungkin memanggil ayah.
"Hiks, Mommy rindu kalian." Manda terisak dalam diam, ingat ketiga anak kembar dan tentunya Rafa. "Apa aku bisa kembali lagi? Aku yakin, kalian hidup."
Hiksss...