Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 82 : Berantem


Manda seakan ingin ambruk setelah melayani Rafa, tenaganya habis terkuras gara-gara dia. Manda menekuk lututnya di pinggir kolam sembari menahan capek dan perih. Sementara Rafa masih berenang bebas di dalam kolam itu. 


"Hais, apa ini hukuman untukku? Dia seperti ingin membunuhku perlahan, dasar!" cetus Manda dalam hatinya sambil menenggelamkan kepala di antara dua lututnya. Dia kapok bermain air dengan Rafa.


Chup!


Manda terhenyak diberi kecupan di bagian puncak kepalanya oleh Rafa. Manda melihat ke atas dan memandangi Rafa yang sedang tersenyum genit padanya.


"Sayang, aku ingin pergi mandi. Kau ingin ikut?"


Manda segera menggeleng, menolak ajakan Rafa. Dia khawatir Rafa masih mau bercinta di sana.


"Yakin, tidak mau?" tanya Rafa mengelus kepala istrinya.


"Hm, nanti saja. Kamu duluan sana," jawab Manda dengan senyum manisnya.


"Baiklah, aku duluan sayang."


Chup!


Sekali lagi Rafa mengecup kepala Manda sebelum ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia meninggalkan Manda sendirian dengan sedikit kecewa. Tentu Rafa masih ingin, tapi dia sadar Manda sudah tidak sanggup lagi.


"Syukurlah, dia bisa mengerti sedikit kondisiku," hembus Manda merasa lega dapat bebas dari keinginan Rafa. Saat mau berdiri, Manda jatuh kembali. Tenaganya masih belum cukup untuk berdiri maupun berjalan ke kolam anak-anaknya.


"Hais, aku lemas banget. Seharusnya tadi aku minta tolong ke Rafa buat belikan aku cemilan," rintih Manda merasa seluruh badannya ingin hancur, terutama yang 'itu'.


"Huf, ok… aku coba berdiri lagi," hembus Manda dengan sisa tenaganya mencoba untuk berdiri, namun sia-sia saja. Manda tetap lemas di pinggir kolam sendirian. Manda pun terisak, dia ingin pingsan.


Akan tetapi, suara tidak asing yang datang menghampirinya membuat Manda mendongak ke arah suara itu. Dengan posisi masih duduk menekuk lututnya, Manda tidak sangka Nerin berada di permandian juga.


"Kau?" lirih Manda sedikit kedinginan dan agak pusing.


"Hm, Nona Sheila. Apa yang kamu lakukan sendirian di sini?" tanya Nerin tersenyum palsu. Dia tidak terlalu peduli pada Manda, kedua matanya lebih sibuk mencari keberadaan Rafa.


"Apa kamu tidak lihat ini?" Manda menunjuk ke lehernya dengan senyum kemenangan. Nerin yang tidak terlalu perhatikan Manda, sekarang dia terkejut melihat tanda merah di lehernya yang sangat banyak dan membekas dengan jelas.


"Tanpa dijawab mungkin kau sudah tahu, kan?" tambah Manda dengan acuh.


"Cih, wanita sialan. Dia berani menggoda Rafa terang-terangan di tempat ini, banyak sekali tanda merahnya. Rafa sepertinya menikmati Sheila," desis Nerin terbakar api cemburu di dalam hatinya.


"Heh, untuk apa kamu tanyakan suami orang?" selidik Manda perlahan berdiri. Dia tidak mau perlihatkan sisi lemahnya ke Nerin. Bisa-bisa Nerin akan berbuat seenaknya sebelum Rafa selesai mandi.


"Hahaha, aku cuma ingin memberitahu soal nilai anak-anaknya di sekolah," tawa Nerin terlihat bodoh.


"Haha, Bu Nerin lucu sekali. Mengapa harus ke suamiku? Aku di sini kan bisa mendengarnya juga, apalagi aku Ibu kandung anak-anaknya. Bu Nerin bisa bicara padaku, tidak perlu diam-diam mendekati suamiku," ucap Manda sedikit menyidir niat Nerin.


"Cih, dia terang-terangan memprovokasiku, emosiku jadi semakin meningkat ingin menjambak rambut kusutnya itu," decit Nerin dalam benaknya.


"Ah aku mana mungkin berniat merebut suamimu, kau jangan bercanda deh, hahaha." Nerin tertawa lepas mencoba tahan emosinya.


"Heh, baguslah kau sadar diri untuk tidak jadi pelakor." Manda tersenyum manis sambil melipat kedua tangannya.


"Sialan, apa kau sedang menghinaku?" ujar Nerin menunjuknya marah.


"Menghina? Aku merasa tidak begitu, justru aku lega kau tidak punya niat apa-apa ke sini. Tapi sayang sekali, jika kau datang lebih awal, mungkin kau bisa menonton live kami yang sedang menikmati percintaan panas kami. Mungkin kau memang tidak ditakdirkan untuk merusaknya. Benar kan, Nerin?" tanya Manda sedikit maju.


"Cih, kau sangat menjijikkan. Lebih jijik dari setumpuk sampah," cemooh Nerin balas menghina.


"Heh, sifatnya dan wajahnya mirip sekali dengan Helena. Di sana dia merebut kekasihku, di sini dia ingin merebut suamiku. Tapi aku tidak akan biarkan wanita sepertinya merebut pria-ku lagi!" decak Manda dalam hatinya sangat kesal.


"Sampah? Menjijikkan? Aku rasa itu lebih cocok untukmu. Permandian ini sudah disewa oleh Rafa, tapi tidak sangka kau masih bisa masuk. Apa mungkin kau katakan pada penjaga jika kau istrinya juga? Atau seorang wanita penggoda yang mencoba merebut suami orang?" tambah Manda menggertaknya.


"Bang-sat! Kenapa kau begitu menyebalkan, ha! Aku datang ke sini bukanlah urusanmu! Jaga ucapanmu itu, wanita murahan!" geram Nerin akhirnya berkata kasar.


"Murahan?" ucap Manda sedikit kaget dicibir murahan.


"Ya, kau murahan. Bisa-bisanya kau memiliki anak dari hasil meniduri Rafa. Kau pasti yang naik duluan ke ranjangnya dan bercinta sepanjang malam! Kau wanita menjijikkan."


Bagh!


Manda meraih dan mencengkram kerah leher Nerin dengan mata membara terbakar emosi, tidak ketinggalan satu tangannya mencengkram rahang Nerin, membuat wanita itu kesakitan.


"Yang harusnya jaga ucapan itu adalah kau. Aku ingatkan untukmu, aku sama sekali tidak pernah berniat untuk tidur dengannya, terutama punya anak. Rafa sendirilah yang melecehkanku dan memaksaku bercinta dengannya. Dia tidak salah memilihku sebagai istrinya dibanding denganmu yang munafik." 


Manda mendorong Nerin jatuh ke lantai, lalu berkata kembali.


"Lebih baik pulanglah intropeksi diri dan jangan mendekati suami maupun anak-anakku!" papar Manda menekannya serius lalu berbalik ingin pergi sebelum pikirannya berubah untuk tidak berbuat kasar lagi. Tapi Nerin bukannya kapok diceramahi, dia malah berdiri dan menerjang Manda dari belakang.