Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 71 : Hilang Total


"Mbak, tenanglah." Lelaki itu melepaskan Manda. Tetapi Manda tetap memeluknya hingga pengunjung melirik mereka akibat tangisan Manda.


"Rafa, aku tahu kamu hidup. Kamu pasti ke sini mau membawaku pulang kan?" Manda mendongak menatap bola mata yang sama persis.


"Duh mbak, seperti ini salah paham. Saya sama sekali tidak mengenalmu," ucapnya melepaskan Manda hingga kembali jatuh terduduk ke lantai. Rafa kaget, dia melihat pergelangan kaki Manda membengkak. Dia pun berjongkok melihat Manda yang sibuk menghapus air matanya.


"Mbak tenang dulu, biarkan saya membawamu ke ruangan anda. Sepertinya anda tersesat, untung saja keponakan saya bersedia membantu memanggil saya. Mari saya bantu berdiri."


Tidak, Manda menepisnya tangan yang diulurkan oleh lelaki itu. Dia kesal, dia emosi, merasa lelaki itu sedang berpura-pura.


"Ke-kenapa mbak?" tanya lelaki itu kaget dan juga Vina.


"Hiks, harusnya kamu tidak bicara begitu. Kamu kan suamiku, kenapa berpura-pura menjadi orang asing?" isak Manda mengusap kedua matanya. Lelaki itu tersentak, dia heran disebut sebagai suami.


"Cewek ini tidak salah masuk rumah sakit kan?" pikirnya garuk-garuk kepala.


"Mbak, saya tidak mengenalmu dan saya bukan suamimu," tambahnya sambil melihat Vina yang bengong.


"Kamu Rafandra! Aku ini mengenalmu," timpal Manda mulai tenang walau sedikit sesugukan.


"Astaga, nama saya memang Rafa, tapi bukan Rafandra, melainkan Rafael. Ini pertama kalinya saya melihatmu dan karena saya sudah beri tahu namaku, sekarang siapa namamu?" tanya Rafael tersenyum sedikit.


Manda diam mengamati Rafael. Dia sedang berpikir dan belum menjawab.


"Apa dia sungguh bukan Rafa? Tapi dia sangat mirip sama Rafa," batin Manda kemudian menunduk.


"Namaku Asti Amanda, terserah kamu mau panggil aku apa," ucap Manda menjawab dengan datar.


"Ah kalau gitu aku panggil Manda, boleh?" tanya Rafael meliriknya. Manda spontan melihatnya, benar-benar senyumnya mirip Rafa. Manda pun mengangguk saja.


"Bagus, kalau begitu sini saya bantu kamu berdiri, Manda." Rafael meraih tangan Manda. Sentuhan itu juga sama, hati Manda serasa tertusuk, dia merindukan Rafa yang asli.


"Tante jangan nangis lagi ya, Om aku ini baik sekali." Anak kecil itu berdiri di dekat Manda. Dia cuma diberi senyuman saja. Rafael pun menuntun Manda, namun tidak disangka dia bertemu dengan musuhnya, selingkuhan Rangga. [Rangga: Mantan Manda]


"Wah, baru kali ini aku melihatmu setelah lima bulan tidak bertemu. Rupanya kau masih hidup juga ya, Manda." Dia Helena.


[Astaga jujur author lupa nama selingkuhan si mantan, kalau kalian ingat, mohon komen ya, siapa tahu namanya salah hehehe]


Manda mendesis tidak karuan, dia membuang muka tidak peduli.


"Heh, apa ini? Apa kau sedang menyombongkan diri?" greget Helena diabaikan. Rafael dan Vina mengernyit melihat Helena kenal Manda.


"Dia siapa?" tanya Rafael ke Manda sambil nunjuk ke Helena.


"Cih, dia rubah betina yang genit," jawab Manda menyindir Helena.


"Rubah betina? Apa kau sedang menghinaku!" marah Helena menunjuknya geram.


"Kenapa marah? Kau kan memang cocok dengan sebutan itu," cemooh Manda menatapnya datar.


"Dasar rendahan, gara-gara kamu Rangga kecelakaan dan sampai sekarang koma! Kau harusnya mati lebih dulu!" murka Helena ingin mencakar Manda yang diam terkejut mengetahuinya. Untung Rafael dengan cepat mendorong Helena jatuh tersungkur.


Gubrakk!


Ahhh..


"Tolong jangan berdebat lagi, ini rumah sakit. Harusnya anda tidak memulai pertengkaran. Dia seorang pasien di sini, tidak baik anda memarahinya!" terang Rafael membantu Manda sebelum dicakar.


"Kau siapa, ha! Beraninya mendorongku!" geram Helena teriak segera berdiri. Vina di sana bersembunyi di belakang Rafael, dia ketakutan. Melihat keponakannya gemetar, Rafael pun memanggil satpam yang kebetulan lewat.


"Apa-apaan ini, memangnya kamu siapa menyuruhku keluar! Aku ini tunangan Rangga Mardika, anak pengusaha di kota Bone ini!" seloroh Helena meronta dikunci oleh satpam.


"Hm, bawa dia pergi, Pak!" Rafael mengacuhkannya, dia tetap memerintah satpam itu.


"Baik, Dokter!"


Helena tersentak, begitu pula Manda. "Dokter?" Keduanya serempak bicara.


"Benar, pria di depanmu ini Dokter Rafael Givandra! Dia sangat dihormati di rumah sakit ini, dan anda sudah berani mengusiknya. Anda harus ikut dengan saya!" cakap satpam itu menarik paksa Helena bahkan dia diseret pergi. Helena memberontak, tapi satpam itu tidak mudah diremehkan.


"Huh, dia sudah pergi. Benar-benar merepotkan." Rafael mendengus sesal kemudian menatap Manda yang bengong.


"Hei, jangan melamun. Mari aku bantu berjalan," tambahnya ingin memegang Manda. Tapi Manda menepisnya. Manda sedikit takut terhadap nama itu, merasa dia sangat mengenalnya.


"Eh, Tante kenapa?" tanya Vina heran.


"Bi-biarkan aku jalan sendiri saja, maaf sudah merepotkan anda."


Namun baru dua langkah saja berjalan, Vina mencegatnya.


"Tante, ini batu punya Tante yang tadi jatuh," tahan Vina mengulurkan berlian Manda. Manda tersentak lalu secepatnya mengambil berlian itu, dia genggam dengan kuat dan segera berjalan menahan kesakitannya. Dia ingin cepat mencari cara untuk kembali, namun Rafael cuma diam karena kaget melihat berlian tadi.


"Om, Tante itu keras kepala, tidak mau dibantu. Kita pulang saja yuk," tarik Vina ingin pergi. Tetapi Rafael mengejar Manda, dia tidak asing dengan berlian itu.


"Benar, itu seperti berlian mistis kakek! Tapi kenapa ada padanya? Tidak, aku tidak perlu berpikir dulu, aku harus mengambilnya!" batin Rafael berhasil meraih tangan yang menggenggam berlian itu.


"Mbak tolong berikan berlian itu padaku," minta Rafael menatapnya. Namun tiba-tiba asma Manda kambuh. Dia sesak nafas hingga bersandar cepat ke dada Rafael.


"To-tolong, dadaku sakit!" rintih Manda meremas kuat berliannya dan juga dadanya. Rafael terkejut mengetahui Manda penderita asma dan dia pun secepatnya ingin menggendong Manda. Tetapi Manda lebih dulu menjatuhkan dirinya ke lantai. Kesadarannya hilang total.


"Ahhh, Tante!" jerit Vina ketakutan melihat tubuh Manda lunglai ke bawah. Mata Rafael membola, dia berlutut ingin membawa Manda cepat. Namun saat menyentuh bahunya, sebuah cahaya kecil keluar dari sela-sela genggaman jari Manda. Cepat-cepat Rafa membuka genggaman itu dan berlian itu hilang.


"Om cepat! Tantenya pucat!" desak Vina menunjuk Manda. Rafael pun bergegas menggendong Manda dan membawanya ke ruangan lain. Dia secepatnya memeriksa Manda dan dibantu oleh Dokter lain.


"Masalah, berlian itu telah berpindah lagi!"


Rafael cemas memikirkan berlian cantik itu yang tentunya keramat.


____


Hello, kalian pasti bingung kan kenapa tiba-tiba ada teka-tekinya. Karena cerita ini bergendre misteri. Tapi kalian tidak usah kuatir, karena cerita ini akan secepatnya tamat, author takut berhenti ditengah-tengah cerita, jadi jangan lupa like dan ikuti terus ya😍


...Drama dulu ah sama abang Rafa😁😙...



...Art : Asti Amanda and collab...


...Muka author itu hampir seperti di gambar, cibby gitu eaaa🤣...


...Uhhh gemesin cubit suami halu wkwk...


...Mohon dukungannya kakak🙏...