Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 60 : Selingkuhan?


Semua berjalan lancar, laporan Manda diterima baik oleh polisi. Hanya tinggal mereka melakukan penyelidikan kemudian menunggu penangkapan Ny. Marina. Manda pun bisa bernafas lega, namun ia yang duduk di kursi menoleh ke arah Rein lalu jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.24 pagi harus pulang sekarang, sebelum anak-anaknya tahu sudah membawa keluar Rein. Manda cemas karena awalnya Rein dikatakan sakit hingga Rafa berpesan untuk menjaga Rein tetap di rumah.


"Mommy, apa semua sudah beres?" tanya Rein di sebelahnya sambil melihat Manda yang sibuk.


"Benar, sekarang kita pulang. Rein harus tetap di rumah sebelum ayahmu tahu Rein keluar ke sini." Manda berdiri, ia meraih tangan Rein lalu membawa putra sulungnya keluar dari kantor polisi. Namun Rein menunjuk ke suatu arah.


"Mommy, itu mobil Daddy."


Manda terdiam sejenak, kemudian mengerjapkan mata sekali. Setelah melihatnya jelas itu adalah Rafa, ia pun panik.


"Astaga, kenapa Daddy mu bisa ada di sini!"


"Gawat, gawat. Kalau dia lihat Rein ada di sini, Mommy bisa tamat!"


Manda menarik Rein sembunyi di balik mobil di dekatnya, ia berharap tujuan Rafa tidak mencarinya.


"Mommy, kenapa takut sama Daddy?" tanya Rein heran sama tingkah Manda.


"Rein, kalau ayah kamu tahu Rein ada di sini, Mommy bisa disentil ginjalnya. Mommy bakal mati karena sudah membawa Rein keluar," Manda menunjuk Rafa dan anak buahnya yang datang masuk ke kantor polisi.


"Sekejam itukah Daddy, Mom?" tanya Rein bersantai di dekat mobil.


"Haduh, begitulah. Mommy masih ragu padanya," jawab Manda sedikit lesu.


"Kalau begitu, kita pulang saja Mommy. Lagian juga Daddy ada di dalam sana." Rein cepat mengusulkan agar kekuatiran Manda mereda.


Manda menganggukkan kepala, ia pun mengendap-ngendap ingin pergi. Namun terhenti setelah mendengar tepukan tangan dari belakang mereka.


"Ya ampun, istriku rupanya ada di sini bersama putraku juga. Mengapa bisa ada di sini? Bukannya Rein sakit? Terus kenapa Rein bisa-bisanya keluar bersamamu?" tanya Rafa bernada tenang. Manda berbalik sambil cengengesan.


"Hehehe, ketemu juga." Manda segera menjelaskan tujuannya untuk memecahkan kematian Ny. Charlotte sebelum Rafa salah paham. Namun Rafa tetap mengintrogasinya.


"Kamu pasti ke sini bertemu dengan selingkuhan mu, kan?" tebak Rafa meraih tangan Manda.


"Aduh selingkuhan? Aku tidak punya selingkuhan di sini, kenapa kamu malah tiba-tiba bicara begitu sih," desis Manda lepas dari Rafa.


"Bisa saja di dalam sana ada polisi ganteng jadi kamu mengendap-ngendap pulang agar tak tertangkap aku, kan?" tebak Rafa mulai bermuka masam. Rein di sana benar-benar malu dengan dua orang tuanya yang berdebat.


"Dengar ya, aku sama sekali ke sini cuma satu hal yaitu meminta bantuan ke polisi. Bukan selingkuh sama polisi, kamu jangan asal simpulkan dulu." Manda tetap bela dirinya.


"Kalau begitu, sini ponselmu," pinta Rafa mengulurkan tangan.


"He, untuk apa?" tanya Manda heran.


"Sini saja, aku mau lihat sesuatu," jawab Rafa meminta lagi.


"Tidak akan, kamu mau apa sih?" Manda mundur selangkah diikuti Rafa maju selangkah juga.


"Jika kamu tidak mau, maka aku cium kamu di sini sekarang juga." Manda terkejut diancam oleh Rafa. Terpaksa dia harus jadi istri penurut lagi di depan Rafa.


"Ada apa dengan mu?" tanya Manda ingin merebut ponselnya namun Rafa kali ini sedikit marah.


"Shei, siapa itu Rangga?"


Deg!


Manda terdiam, detak jantungnya berdegub keras mendengar nama terlarang itu terucap dari mulut Rafa. Manda cepat merebutnya lalu menjawab.


"Dia mantanku," jujur Manda terus terang.


"Apa? Mantan mu? Apa dia masih hidup?" tanya Rafa sedikit kesal.


"Sudah mati," jawab Manda datar. Nomor Rangga memang tersimpan di ponselnya karena Manda awalnya berpikir mungkin saja nomor ponsel Rangga bisa terhubung ke dunia nyata, namun sama sekali tak bisa hingga Manda lupa menghapusnya.


"Ooh, baguslah." Rafa merasa agak aneh melihat ekspresi Manda yang tiba-tiba dingin setelah menyebut nama Rangga.


"Kalau begitu, kamu tidak marah kan sama aku?" tanya Manda berdiri di depan Rafa.


"Sudahlah, lupakan amarahku tadi. Sekarang aku akan membawa kalian pulang. Rein sedang sakit, harusnya kamu hubungi aku saja untuk mengurus ini," ucap Rafa perhatian sambil mengelus kepala Manda lalu Rein. Ketiganya pun menaiki mobil yang sama. Rein sedikit lega melihat keakuran Ibu dan ayahnya lagi. Tapi Rein tidak sangaja melihat seorang wanita asing tak jauh dari mereka berdiri di dekat satu mobil.


"Siapa wanita ini?" pikir Rein melihatnya seksama. Tiba-tiba ia terkejut wanita itu menoleh ke arahnya dengan ekspresi dingin, Rein pun mengalihkan pandangan merasa wanita itu sedikit menakutkan seperti penjahat, untung saja jendela mobil tidak terbuka hingga Rein bisa tenang kembali. Tidak seperti Manda yang asik mengobrol agar suasana hati Rafa tenang dan tak memikirkan Rangga.


"Rafa, kamu mau ajari aku menyetir mobil?" tanya Manda memohon. Rafa diam sejenak lalu berkata : "Tidak usah, ada penjaga yang bisa membawa kalian ke mana saja." Manda manyun mendengar penolakan Rafa.


"Ayolah, aku ingin sekali menyetir mobil. Kamu ajari aku, ku mohon suamiku." Akhirnya Rafa luluh juga sama tingkah lucu Manda.


"Baiklah, jika aku punya waktu, aku akan mengajarimu,"


"Yes, terima kasih sayang."


Chup!


Rafa tersentak menerima kecupan di pipinya hingga ia sedikit merona. "Ekhm, sama-sama." Rein yang di sana cuma menahan tawa merasa geli mendengar obrolan orang dewasa.


Sementara wanita itu masuk ke dalam mobil, ia menghubungi seseorang.


"Siapkan apartemen bagiku di kawasan mansion Rafandra, aku sepertinya akan tinggal cukup lama di kota ini,"


"Baik Nona muda."


Panggilan berakhir, ia tersenyum licik tak sabar untuk mendekati Rafa dan juga anak-anaknya sekaligus Manda.


"Dia lumayan juga bisa semudah itu mendekati Rafa. Dia sepertinya bukan wanita sembarangan, aku harus berhati-hati padanya."


___


Datanglah, nanti anak kembar Manda yang bakal urus dirimu wkwkwk