
Sesampainya di penginapan terdekat, Rafa masuk ke dalam kemudian masuk ke salah satu kamar lalu meletakkan Manda ke atas ranjang dengan hati-hati. Setelah mengganti pakaiannya, dia pun keluar dari kamar menghubungi Dokter untuk datang ke tempatnya segera mungkin. Sementara Triple R, mereka cepat masuk, berdiri di dekat tepi ranjang sambil menatap sayu wajah Ibunya yang cukup pucat. Rara tidak kuasa menahannya, dia pun memeluk kakaknya.
"Jangan nangis, Mommy pasti baik-baik saja." Sebagai kakak tertua, Rein menenangkan adiknya. Dia mengelus punggung Rara dengan lembut.
"Tante itu jahat sekali, dia mau bunuh Mommy," isak Rara mengusap-usap matanya. Rain di sana menunduk lesu, dia pun tidak dapat membantah lagi soal Nerin. Dia percaya dengan dua kakaknya kalau Nerin memang jahat.
"Kakak!" ujar Rain terkejut setelah merasakan telapak tangan Ibunya.
"Ada apa, Rain?" tanya Rein dan Rara serempak.
"Ta-tangan Mommy dingin sekali," jawab Rain langsung mengagetkan dua kakaknya. Rein pun secepatnya menyentuh tangan Manda, memang terasa dingin sekali. Dia pun lari keluar memanggil ayahnya.
"Daddy!"
"Rein, kenapa panik?"
"Tangan Mommy dingin sekali, Daddy!" jawab Rein menunjuk ke kamar. Rafa bergegas cepat masuk ke kamar bersama Rein. Seketika dua anaknya menghampiri Rafa sambil terisak..
"Huaaa… Daddy… Daddy…. Mommy,"
Rafa terkejut setelah dua anaknya menunjuk Manda. Dua bola mata Rafa melebar melihat kedua hidung istrinya mengeluarkan cairan merah. Rein diam mematung melihat darah itu jelas turun dari hidung Ibunya. Anak yang terlihat datar itu pun memeluk kedua adiknya. Dia mencoba tahan untuk tidak ikut menangis. Rein membawa adiknya keluar, membiarkan ayahnya yang mengurus Mommy mereka.
"Shei!!"
Rafa berlari naik ke ranjang, dia mengambil tissu kemudian cepat-cepat mengusap cairan darah yang masih mengalir keluar.
"Shei, maafkan aku. Maafkan aku, sayang."
Rafa memeluknya erat sambil menggenggam tangan Manda yang dingin. Berkali-kali Rafa mengecup kepala istrinya dan meminta maaf sudah gagal menjaganya.
"Shei, harusnya aku tidak memaksamu sayang. Kau sedang sakit tapi aku malah menyakitimu, maafkan aku sayang."
[Author: Sadar diri juga kau ya bang🤧]
Rafa tidak berdaya melihat Manda lemas. Dia memeluk Manda untuk memberinya kehangatan. Rafa tak hentinya mengusap kedua matanya yang basah. Dia merasa bodoh terlalu kejam memaksa Manda yang sedang sakit untuk melayaninya.
"Fa… jangan… menangis," lirih Manda mengelus pipi Rafa. Rafa tersentak merasakan sentuhan tangan istrinya. Dia pun melihat Manda yang sadar dan kini tersenyum padanya.
"Shei, maafkan aku. Aku harusnya tidak memaksamu, harusnya kita tidak ke sana," isak Rafa yang memang menahan tangisnya.
"Haha, ini bukan salahmu. Ini salahku… yang tidak… bisa berenang," ucap Manda dengan lirih. Rafa menggelengkan kepala, dia mengecup kepala Manda lagi kemudian menyentuh kening istrinya yang ternyata panas.
"Jangan… khawatir, aku ini kuat," lirih Manda meraih tangan Rafa dan tersenyum kecil. Rafa mencium punggung tangan Manda, lalu memeluk tubuhnya.
"Tidak sayang, berhenti memaksakan diri. Kau jangan berpura-pura lagi, Sheila," kata Rafa tahu istrinya tidaklah cukup kuat. Manda tersenyum di dalam pelukan Rafa. Dia pun balas memeluk suaminya.
"Maafkan aku, sesungguhnya aku bukanlah Sheila yang asli."
Degg
Rafa tersentak kaget, kemudian menatap dua bola mata hitam istrinya.
"Shei, cukup jangan ngawur lagi," ujar Rafa membelai rambut Manda.
"Sudah-sudah jangan bicara lagi, kamu harus banyak istirahat." Manda terisak, dia tidak tahu harus katakan apa lagi. Dia pun menyerah untuk tidak lanjut katakan jati dirinya. Dalam lubuk hatinya, dia lega dapat suami seperti Rafa yang mencintainya dan anak-anaknya dengan sepenuh hati di dunia ini.
Dokter pun datang kemudian masuk ke dalam kamar bersama tiga anaknya. Dokter mulai memeriksa detak jantung Manda. Benar, detak jantungnya lemah sekali. Setelah diperiksa, tiga anaknya naik ke ranjang dan duduk di dekat Manda.
"Mommy," ucap Triple R sedih.
"Hm, jangan sedih. Mommy cuma demam kok sayang," ucap Manda membelai ketiga rambut anaknya bergantian. Sementara Rafa dan Dokter keluar.
"Dok, bagaimana kondisinya?" tanya Rafa deg-degan.
Dokter pun menganjurkan Manda untuk dibawa ke rumah sakit. "Dia harus diberi perawatan maksimal. Jika dia terlalu memaksakan diri dan mengabaikan kondisi kesehatannya, bisa saja leukemianya akan semakin parah."
"Baik, Dok. Terima kasih sudah datang kemari."
Dokter pun menepuk bahu Rafa kemudian berkata:
"Jangan lagi kau paksakan istrimu, kau bisa saja membunuhnya."
Dokter pun pergi setelah menasehati Rafa. Rafa menunduk, dia paham maksudnya. Dia benar-benar merasa dirinnya seperti binatang yang liar sudah memberi Manda empat ronde saat mereka bercinta di kolam tadi.
"Oh ya, kemana Noah?" pikir Rafa tidak melihat Noah maupun mobilnya. "Cih, dia malah pergi!" decak Rafa kesal. Dia pun kembali ke kamar Manda.
Cklek!
Baru saja membuka pintu, tiga anaknya sudah mencegat Rafa untuk tidak mendekati Ibu mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Rafa garuk-garuk kepala.
"Hm, Daddy itu tidak berguna!" jawab Triple R serempak membuat Rafa terperanjat. Manda menahan tawa melihat ekspresi anak-anaknya yang marah ke Rafa, begitu pun Rafa yang keheranan.
"Tidak berguna? Kenapa kalian bicara begitu ke Daddy?" tanya Rafa mau masuk, tapi Triple R masih mencegahnya.
"Karena Daddy tidak jaga Mommy! Tante jahat itu jadi jahatin Mommy."
Glug!
Rafa meneguk ludah, dia pun ingat soal Nerin.
"Demi apa-pun, Daddy saat itu sedang mandi. Daddy tidak tahu kalau Tante jahat itu datang, kalian maafkan Daddy ya, pleaaaasss," mohon Rafa menjelaskan.
"Ya sudah, Daddy boleh masuk dan kami maafkan."
Rafa menghembuskan nafas merasa lega. Dia pun mengacak-acak rambut tiga anaknya kemudian pergi duduk di samping Manda. Rafa mengajak Manda untuk ke rumah sakit tapi Manda menolak.
"Jangan hari ini, biarkan aku istirahat di sini," tolak Manda merangkul tubuh Rafa.
"Baiklah, sayang." Rafa pun mengiyakan saja dan menggenggam tangan dingin istrinya. Dia tidak akan memaksa Manda untuk menurut kali ini. Dia juga tidak akan jauh-jauh dari istrinya.
Nah gitu, nurut dululah sama istri😆hihihi