Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 76 : Bertemu


Dengan alamat rumah yang tertera di pesan Huan, Manda pun berhasil menemukannya. Dia keluar dari taksi bersama Rein. Setelah bayar ongkos, keduanya mencari nomor rumah Huan.


"Hm, nomor 23D? Di mana ya rumahnya?" gumam Manda sambil jalan menggandeng tangan kecil Rein.


"Itu Mommy!" seru Rein menunjuk rumah Huan yang lumayan besar juga.


"Wah benar sekali, Rein benar-benar pintar dan cepat temukan rumahnya. Mommy salut," kagum Manda memberi jempol.


"Iya dong, Rein ini kan anaknya Mommy." Rein tersenyum manis sedikit menyombongkan diri.


"Haha, iya. Anak Mommy dari bibit unggul Daddy," ucap Manda blak-blakan.


"Ha, bibit Daddy? Daddy punya bibit apa, Mommy?" kaget Rein jadi penasaran maksud ucapan ibunya.


"Astaga, kenapa aku ngomong gitu?" pikir Manda sudah salah.


"A-a itu, maksud Mommy itu bercanda, hahaha…." tawa Manda merasa bodoh. Rein cuma menahan tawa melihat Ibunya yang lucu. Keduanya pun menuju ke rumah Huan. Setelah sampai di depan pintu, Manda pun dengan gugup mengetuknya.


Tok tok tok


"Hello, ada orang?"


Cklek!


Manda dan Rein mundur ketika pintu terbuka. Spontan dua mata anak dan Ibu itu diam melihat Nenek tua yang membukanya.


"Kalian siapa?" tanya Nenek itu mengamati Manda dan Rein.


"Ma-maaf bila saya sudah ganggu, sa-saya Sheila sahabatnya Huan. Apa ini benar rumah Huan?" jawab Manda dengan sopan bertanya balik.


"Ah begitu ya, mari silahkan masuk. Nenek sudah tahu kalian pasti akan datang. Huan sudah lama menunggu kalian," ucap Nenek itu dengan ramah mengajak Manda dan Rein masuk.


Keduanya pun tanpa ragu masuk ke dalam rumah, Manda duduk di sofa bersama Nenek, tidak seperti Rein yang jalan-jalan melihat isi rumah. Memang anak ini sudah biasa bila ada di tempat baru.


"Oh ya Nek, apa Huan ada?" tanya Manda ke Nenek.


"Huan lagi keluar, nanti juga akan pulang, kalian tunggulah di sini, Nenek mau ke dalam dulu," jawab Nenek lalu berdiri. Dia ingin menjamu Manda, apalagi ada anak kecil yang sangat lucu mau berkunjung ke rumahnya.


"Baik, Nek." Manda pun duduk sendirian saja.


"Rein, sini duduk, jangan jalan-jalan ke situ, sayang," panggil Manda ke Rein yang lagi berdiri di depan lemari buku.


"Huk… hukk, Mommy!" panggil Rein batuk akibat terkena debu dari sampul buku.


"Ya Tuhan, kamu ini nakal sekali ya sampai berani sentuh barang orang. Sini kembalikan ke tempatnya." Manda merebut buku di tangan Rein membuat bocah itu ngambek.


"Ayo duduk sama Mommy, tidak sopan jalan-jalan di rumah orang," tambah Manda ingin meraih tangan Rein, tapi bocah itu dengan gesit menghindar.


"Tidak mau, Rein mau baca buku!" tolak Rein geleng-geleng kepala.


"Ishhh, kamu ini-" desis Manda berhenti ketika pintu dibuka. Manda menoleh menatap wanita sipit yang seumuran dengannya.


"Wow, Sheila? You Sheila, kan?" kagetnya langsung menghampiri Sheila. Rein diam-diam tertawa mendengar wanita itu sok inggris.


"Kamu Huan, kan?" tanya Manda ragu-ragu.


"Yes, I'm teman you, Shei!" girangnya memeluk Manda.


"Haha, senang bisa melihatmu." Manda tertawa geli mendengar cara bicaranya. Dia harus pura-pura mengenalnya. Tapi tiba-tiba Huan kaget dan melepaskan Manda.


"You tertawa?" 


"Ya, aku barusan tertawa. Kamu sangat lucu, Huan." Manda menjawab dengan senyum.


"You sungguh Sheila?" tanya Huan merasa aneh.


"Astaga, apa dia merasa aku berbeda?" batin Manda panik dalam hati.


"Ya, ini aku Sheila. Kenapa tanya begitu?" tanya Manda gugup.


"Hm, kamu tidak pernah tertawa dan tersenyum padaku. Kenapa sekarang kamu berbeda dari sebelumnya?" bingung Huan menyentuh dagunya.


"Oh jadi Sheila itu orangnya datar, pantas saja Rein datar, ternyata dari sikap Sheila sendiri," batin Manda melirik Rein.


"Huan, semua orang pasti akan berubah seiring berjalannya waktu. Apalagi kita sudah lama tidak bertemu,"  ucap Manda tersenyum manis.


"Oh ya juga, hahaha ... " tawa Huan merasa bodoh sendiri lalu tidak sengaja menatap Rein.


"Eh, siapa anak ini?" tambah Huan nunjuk Rein.


"Dia putraku, Huan," jawab Manda melihat Rein.


"Sini sayang kenalan sama Huan," panggil Manda ke putranya.


"Halo, Bibi. Saya Rein," sapa Rein dengan datar di depan Huan. Setelah berkenalan, Rein kembali jalan-jalan melihat lemari.


"Hahaha, dia gemesin. Sifanya sepertimu yang dulu. Tapi sejak kapan kamu punya anak? Siapa suamimu, Shei?" tanya Huan ingin tahu ayah Rein. Manda pun mengatakan nama suami dan berkata dia punya tiga anak. Huan begitu kaget sahabatnya adalah istri Presdir di kota ini dan malah melahirkan tiga anak sekaligus.


"Oh ya, sebenarnya kenapa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Manda kini duduk bersama Huan.


"Loh, bukannya kamu yang ingin bertemu?" tanya Huan balik. Manda pun terdiam, lalu berpikir, "Aku? Apa mungkin Sheila? Kalau begitu apa alasan dia mau ke sini?" Manda pun merasa heran sendiri.


"Kamu kenapa diam, Shei?" Huan menepuk bahu Manda. Saat mau dijawab, tiba-tiba Rein teriak.


"Mommy, ini punya siapa?" tanya Rein menghampiri Manda dan memperlihatkan sebuah benda rekaman lama.


"Hah, ini kan namamu, Shei," ujar Huan menunjuk tulisan di sudut rekaman itu.


"Wah benar, ada namaku. Sepertinya ini yang ingin aku ambil di sini, Huan," ucap Manda berdiri.


"Rekaman apa itu?" tanya Huan dan Rein serempak. Manda pun mendesis kecil, dia bingung mau jawab apa, dia juga penasaran isi rekaman itu.


"Ini, ini rekamanku dengan Ibu kandungku waktu kecil. Aku sangat senang rekaman ini masih utuh," jawab Manda terpaksa bohong.


"Terus kenapa bisa ada di sini?" lagi-lagi Huan dan Rein bertanya.


"Itu karena … semua barang-barangku akan dirusak oleh Delsi. Aku takut rekaman Ibuku dirusak, maafkan aku sudah menyembunyikannya di sini, Huan." Manda menunduk, berakting nangis agar Huan percaya. Huan pun iba, dia memeluk Manda. "Aku sedih melihatmu menderita harus tinggal di sana, tapi sekarang mungkin kamu sudah bahagia menikah dengan Presdir Rafa, kan?" tanya Huan kini tersenyum.


"Hm, dia baik. Terima kasih, Huan." Manda menyeka air matanya. Dia senang karena ada Huan yang baik mau berteman dengan Sheila.


Setelah basa basi dengan Nenek dan Huan, Manda dan Rein pamit pulang. Tugasnya mendapat rekaman milik Sheila berhasil diambil. Kini Manda menyimpan baik-baik rekaman itu, dia akan memutarnya di tempat yang aman.


Sekarang Manda dan Rein menaiki taksi untuk ke rumah sakit. Tidak disangka, saat di tengah jalan, ban mobil taksi itu meledak hingga taksi berhenti di pinggir jalan.


"Duh, bannya bocor. Sepertinya saya tidak bisa membawa Nona ke rumah sakit," ucap Pak supir meminta maaf lalu menelpon orang bengkel untuk datang urus mobilnya.


"Mommy, sekarang kita pakai apa? Kita telepon Daddy?" Rein memeluk Manda. Dia tidak berani berkeliaran di jalanan.


"Sebentar Mommy telpon dulu ya." Manda mengelus kepala Rein. Namun tiba-tiba sebuah mobil sport putih berhenti di depannya. Manda kaget setelah jendela mobil itu diturunkan dan menampakkan sang pengemudi adalah-


"Noah?"


Bersambung.