Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 91 : Menikah?


Triple R keheranan dengan Ibu mereka yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan bersama dengan Noah. Ketiganya cuma dapat berdiri di luar ruangan sambil menjinjit ingin melihat Ibu mereka. Triple R takut Ibunya di dalam sana saja. Tetapi sepertinya tidak ada respon dari Manda dan Noah sedikit pun. Suasana terlihat agak mencekam.


"Kak, kenapa Mommy menyuruh kita berdiri di luar?" tanya Rara di samping adiknya yang sedang melompat-lompat masih penasaran di dalam sana.


"Sepertinya ada sesuatu diantara Mommy dan Om Noah," jawab Rein masih berpikir.


"Apa itu?" sahut Rain kini berhenti melompat. Dia menatap dua kakaknya bergantian.


"Apa mungkin Mommy dan Om Noah ada hubungan?" curiga Rara sedikit sedih dengan tebakannya itu.


"Ish, Rara! Mommy mana mungkin selingkuh. Mommy itu kan cinta sekali sama Daddy," timpal Rain protes tidak terima.


"Heh, kenapa marah? Aku kan cuma asal tebak, bukan nuduh Mommy selingkuh tau!" cetus Rara melotot dan berkacak pinggang.


"Dan juga, panggil aku, Kak Rara! Bukan Rara saja!" tambah Rara menunjuk adiknya itu.


"Tidak mau, kita ini kan lahir cuma beda lima menit. Aku tidak mau!" sewot Rain berpaling muka. Dia tampak merasa tidak terima Rara lebih tua darinya, mungkin tidak mau ditindas lagi sama dua kakaknya.


"Stop! Kalian ini kenapa berdebat? Harusnya kita mikir, bukan saling memarahi!" sahut Rein menyumbat mulut dua adiknya menggunakan dua pisang membuat dua mata Rara dan Rain membola.


"Nah bagus, kalian lebih baik diam saja, hahaha." Rein tertawa melihat dua adiknya merajuk. Tidak seperti Manda yang menatap buku Diary miliknya tergeletak di atas meja, tepat di depan matanya. Manda yang duduk di kursi roda pun mulai menghela nafas.


"Kau sudah baca semuanya ya?" tanya Manda tanpa ekspresi ke Noah. Noah mengepal tangan, dia pun menggertakkan rahang.


"Cih, bukan cuma semuanya. Aku sudah tahu dunia apa yang sekarang kita tinggali, Manda," jawab Noah meremas rambutnya.


"Sialan, selama enam tahun aku ternyata hidup bersamamu di dunia palsu, kenapa kau tidak jujur padaku lebih awal, Manda!" tambah Noah sedikit membentak. Dia agak kecewa merasa sudah enam tahun hidup sia-sia di dunia ini. Padahal jika Manda datang kepadanya lebih awal sebelum ke luar negeri mungkin dia bisa hidup bersama Manda. Tapi bagaimana nasib tiga anak Manda nanti?


"Noah, aku juga tidak tahu kau bisa-bisanya ikut terjebak di dunia ini. Aku sungguh baru tahu setelah melihatmu saat kau datang menjemput Rain. Itu awal aku berjumpa denganmu di dunia ini," jelas Manda membuka Diary satu demi satu lembar.


"Setelah baca ini, kau harusnya bisa pahami kalau aku tidak sengaja terjebak di sini dan telah mengandung tiga anak dari awal, itu adalah masa sulit bagiku, Noah. Bayangkan aku berusaha untuk melahirkan mereka dan sekarang kau adalah bagian keluarga anak-anakku? Bukan kah itu luar biasa?" tambah Manda mencoba mengobrol baik-baik dengan Noah agar dapat menerima kenyataannya.


"Tidak!" bantah Noah menggeprak meja membuat tiga anak terperanjat di luar ruangan hingga mata mereka segera dialihkan ke dalam ruangan lagi.


"Noah," lirih Manda sedikit takut.


"Cukup, Manda. Aku bukan Noah, aku ini Rangga. Bisakah kau panggil namaku?" cakap Noah menatap Manda dengan tatapan sedih.


"Tidak Noah, kita ini sudah berbeda. Kau bukan Rangga, kau Noah. Kita tidak punya hubungan spesial lagi seperti dulu. Kau di sini bebas mencari wanita lain, ayah dan Ibumu tidak seperti dulu, kan?" ucap Manda sedikit tersenyum.


"Lupakan masa lalu dan lupakan aku."


Manda mengambil Diarynya, dia ingin keluar tapi kursi rodanya ditahan oleh Noah.


"Jika saja aku tahu kau ada di sini, kita mungkin bisa bersama kan, Manda?" lirih Noah belum ikhlas.


"Tidak bisa, itu tidak akan bisa, takdir kita tidak untuk hidup bersama, Noah." Manda melepaskan tangan Noah kemudian meroda kursi ke pintu, namun berhenti sejenak dan menunduk, dia mencoba untuk tenang sebentar. Noah di belakangnya mengepal tinju, dia maju dan berdiri di depan Manda, mencegatnya saat ingin membuka pintu ruangan itu.


"Tunggu Manda,"


"Ada apa lagi?" tanya Manda mendongak. Noah menunduk, dia merasa putus asa, benar-benar peluang baginya sudah tidak ada lagi.


"Apa kita akan tinggal selamanya di sini?"


Manda terdiam, dia melihat kalung berlian yang terpasang di leher Rangga.


"Terserah dirimu," jawab Manda menundukkan kepala sedikit.


"Apa maksudmu? Apa jangan-jangan ada jalan untuk kembali?" tanya Noah lalu terkejut mendengar jawaban Manda.


"Tidak, maksudku kau akan pergi dari dunia ini jika kau mati. Tapi kau tidak akan kembali melainkan lenyap dari dunia ini dan di sana," jawab Manda berbohong. Dia tidak mau katakan kalung itu bisa membawanya pulang, hanya dengan niat ingin pulang, maka bisa saja Noah akan kembali, atau bisa saja meninggal.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita jalani hidup masing-masing di sini," tambah Manda mulai meraih knop pintu, namun lagi-lagi Noah menepisnya..


"Manda, kau jangan keluar dulu."


"Noah cukup, sudahi saja. Aku sudah tidak peduli lagi dengan masa lalu kita. Aku tidak lagi marah padamu, aku sudah maafkan kau dan ikhlas melepaskanmu. Sekarang giliran kamu untuk lupakan masa lalu kita," jelas Manda tahu apa yang ingin dilontarkan Noah. Noah sedikit terkejut mendengarnya, ucapan Manda sangat serius, benar-benar tidak lagi ada kebencian di matanya. Lalu bagaimana dengannya? Apa Noah masih menyesal?


"Baguslah, aku senang kau tidak lagi marah padaku. Tapi-"


"Tapi apa?" tanya Manda mendongak lagi. Ada senyum terlukis untuknya namun sekilas hilang.


"Tapi apa kau tidak penasaran kenapa aku bisa ada di sini?"


Manda kembali terdiam, dia pun berpikir juga mengapa Rangga bisa sampai ke dunia ini. "Apa Rangga punya berlian sama sepertiku?"


"Manda, setelah aku dari rumah sakit mengunjungimu. Aku kecelakaan dan ingatan terakhirku adalah kalung ini, aku ingat pernah berharap dapat bertemu denganmu lagi dan Itulah mengapa aku familiar dan langsung menerima kalung ini saat kau berikan padaku,"


Rupanya kalung ini pernah dipakai olehku dan kau juga. Lalu anehnya, kalung ini ikut bersama kita. Apa mungkin kalung ini dapat kembalikan kita? 


Manda menghela nafas mendengarnya. Kini dia bingung dengan berlian itu. Manda pun melihat berlian itu kemudian menatap Noah.


"Kenapa kau ingin kembali? Bagaimana jika kau sudah dikubur di sana? Bukankah tidak ada kemungkinan untuk hidup di sana kan?" jelas Manda membuat Noah membisu.


"Noah, lupakan saja. Takdirmu mungkin memang ada di sini, kau bebas memilih wanita di luar sana. Kau bebas hidup di keluarga yang baik-baik, tidak ada paksaan dari orang tua mu kan? Lagian ini bagus untukmu."


Noah menggelengkan kepala, bukan, bukan itu yang dia inginkan. 


"Tidak Manda, masih ada sesuatu yang belum aku selesaikan,"


"Aku serius, aku ingin kembali. Lebih baik kita kembali bersama, Manda!" cetus Noah.


"Tidak, aku sudah nyaman tinggal di sini. Kalau kau ingin tinggalkan tempat ini, lompat saja ke sungai," tolak Manda membuka pintu sedikit dan meninggalkan Noah di dalam masih cemberut.


"Dasar Manda bodoh, apa bagusnya hidup di dunia palsu ini. Suami dan anak-anakmu itu tidaklah nyata!" decak Noah kesal melihat Manda pergi bersama Triple R lalu menatap berlian di tangannya. 


"Tapi, aku belum move on darimu, Manda!" jeritnya dalam hati.


"Kesal, harusnya saat itu aku ikut dengan Rafa mencarinya enam tahun lalu. Tapi gara-gara-" Noah berhenti menggerutu, dia ingat kembali berlian di lehernya pernah dilihat sebelumnya.


"Ah benar, pantas saja kalung ini ada di laciku. Ternyata setelah habis kecelakaan aku kehilangan berliannya dan menyimpannya sendiri."


Noah pun ingat jelas setelah keluar dari RS, dia pernah memakai mobil Rafa dan saat di tengah jalan mobil itu mogok, sehingga Noah membuka peralatan bengkel di bagasi. Saat itulah berlian jatuh ke dalam bagasi Rafa dan akhirnya ditemukan oleh Rara.


Noah pun berjalan di lorong sendirian, dia sedang bimbang untuk berniat pulang.


"Katanya aku bisa kembali, tapi bisa juga meninggal. Aduuuh, kok ngeri banget. Tapi tinggal di sini terasa menyesakkan dada."


Noah yang membatin terus tidak sengaja berpapasan dengan Nerin. Nerin yang telah sadar perlahan mundur. Dia sengaja keluar untuk melarikan diri. Tapi melihat Noah di depan matanya, niatnya seketika menciut.


"No-noah," lirih Nerin meneguk ludah. Noah dengan cepat mengangkat tangan membuat Nerin menjerit ketakutan mengira akan digampar lagi. Namun dugaannya salah, Noah malah mengelus rambutnya. Nerin terhenyak diperlakukan dengan lembut.


"Syukurlah, kau akhirnya sadar," ucap Noah tanpa senyuman. Nerin menunduk, dia tiba-tiba tersenyum diam-diam.


"Terima kasih." Nerin hanya dapat berkata dalam hati. Tiba-tiba Noah berhenti mengelus kepala Nerin setelah seseorang menghampirinya.


"Heh, tumben dua perusuh akrab begini. Apa kalian sedang kerjasama datang untuk mengganggu keluargaku, Nerin?" sahutnya adalah Rafa yang baru pulang dari pengecekan operasi Manda nanti.


"Rafa, a-aku tidak berniat begitu," ucap Nerin gelagapan.


"Sudahlah, jangan memasang wajah bersalahmu itu. Tanpa diselidiki, aku sudah dapat tebak kau datang dari luar negeri hanya untuk kembali padaku. Sekretaris yang kau pakai untuk memataiku telah aku pecat, jadi lebih baik berhentilah mengusikku, Nerin." Rafa menegaskan dengan tatapan dingin.


"Tidak, jangan kau pecat dia. Aku dan dia hanya untuk memberi kabar darimu, dia tidak bermaksud jahat. Dan aku minta maaf sudah keterlaluan dulu. Aku menyesal, Rafa. Aku janji tidak akan mengusikmu lagi, tolong maafkan aku." Nerin menunduk, dia menangis.


Ucapan maaf itu dari lama ingin dia ucapkan, hanya saja Nerin sangat gengsi tidak mau mengakuinya.


"Baguslah, tidak perlu menangis. Aku sudah maafkan kau sejak lama," ucap Rafa tanpa melihatnya alias memalingkan wajah. Dia tidak mau melihat air mata yang dia anggap palsu.


"Terima-terima kasih, sekarang aku akan pergi. Aku tidak akan muncul di depanmu lagi," isak Nerin mengusap matanya. Rafa berdecak. "Itu lebih bagus lagi." Setelah berkata, Rafa pergi meninggalkan keduanya.


Nerin semakin menunduk, dia memukul dadanya. Rasa sesak itu mungkin sama yang dirasakan Rangga, begitupun Manda dulu. Nerin berbalik melihat Noah, dia meraih tangan Noah dan memohon dengan sepenuh hati.


"Tolong lepaskan aku, aku sudah tidak akan mengganggu Sheila. Hubungan di antara kita, lebih baik dilupakan saja. Malam itu, aku tidak akan meminta pertanggung jawaban darimu. Jadi biarkan aku pergi, ku mohon," pinta Nerin sedikit takut akan jawaban Noah yang tidak mau melepaskannya.


"Apa maksudmu?" tanya Noah tidak paham.


"A-aku ingin kembali ke luar negeri. Tidak akan kembali ke kota ini," jawab Nerin sedikit terisak. Dia tidak mau disiksa batin dan disiksa oleh Noah. Namun jawaban yang didapat Nerin adalah cengkraman kuat di pergelangan tangannya hingga dia meringis kesakitan.


"Nerin, kau bermaksud meninggalkan aku?" 


"Noah… kita tidak punya hubungan apa-pun. Aku juga tidak akan ganggu Sheila. Harusnya kamu lepaskan aku saja," jelas Nerin masih kesakitan.


"Itu tidak akan terjadi!" ucapnya reflek.


"A-apa maksudmu?" ronta Nerin tidak mau disiksa lagi.


"Kau sedang hamil! Mana mungkin kau bawa pergi bayi yang ada di dalam perutmu itu!" desisnya membentak Nerin. Nerin diam seribu kata, dia sangat terkejut.


"Hamil? A-aku hamil anak siapa?" Nerin meremas baju Noah. Dia terlihat shock bercampur ketakutan.


"Tidak, kau pasti bohong. Tidak, tidak aku tidak hamil. Aku tidak boleh hamil, ayah akan membunuhku! Kau pasti berbohong!" ujar Nerin meneriakinya membuat orang-orang teralih ke arahnya.


"Ayah-ayahku akan membunuhku, aku tidak boleh hamil!" Sekali lagi Nerin memukul-mukul dada Noah. Noah yang melihatnya ketakutan langsung memeluk wanita itu. Nerin meronta, dia tidak mau dipeluk.


"Maaf, aku telah menghamilimu,"


Nerin semakin menangis mendengarnya. Memang takdirnya tidak untuk hidup bersama Rafa. Dia yang mencintai Rafa malah hamil anaknya Noah.


"Kemarilah," Noah meraih tangan Nerin. Nerin memberontak, dia pikir Noah akan menggugurkannya. 


"Tidak, aku tidak mau ikut denganmu!"


"Nerin tenanglah! Aku ingin membawamu ke rumah orang tuaku! Bukan ke villa itu lagi!" ujar Noah kini berhasil menjinakkan Nerin.


"U-untuk apa?" tanya Nerin deg-degan dan ketakutan.


"Menikah. Aku ingin menikahimu," jawab Noah sungguh-sungguh.


"Mana mungkin aku biarkan pewarisku kau bawa ke luar negeri. Kau harus tetap disisiku!"


Noah menarik paksa Nerin. Nerin terdiam, dia menurut saja ditarik kasar. Orang-orang geleng-geleng kepala melihat keduanya yang akhirnya pergi.


"Dasar pasangan aneh. Datang cuma bikin rusuh saja."


Satu part lagi...