
"Huft, syukurlah ada waktu."
Manda mengusap keringatnya, dia berhasil mencapai tempat kerjanya. Sekarang waktunya memberikan berkas komiknya. Namun tidak disangka, saat memasuki kantor editor. Suara cemohan terdengar panas di telinga Manda.
"Kau yakin?" ucap seseorang pada temannya. Terdengar kaget mengetahui sesuatu.
"Aku yakin dong, setelah Manda serahkan berkas miliknya. Reputasiku akan semakin naik, berkas yang dia kirim nanti akan aku buat salinan terus berkas aslinya akan aku buang. Jadi pemilik komik baru yang akan dia publis menjadi milikku. Aku yakin, dia tidak akan mempermasalahkan bila aku yang memegang hasil ini," jelas temannya yang tak lain salah satu editor kepercayaan Manda.
Manda meremas tali tasnya. Dia segera masuk menciduk kedua manusia yang ingin memanfaatkannya.
Brak!
"Ha? Manda?" ucap keduanya berdiri dari kursi.
"Saya tidak menyangka, anda begitu licik. Saya sangat percaya pada anda dalam menjaga kualitas komik yang akan saya luncurkan. Tapi ternyata, harapan saya kepada anda hanya akan menjadi kehancuran bagi saya. Mulai sekarang, saya berhenti bekerja di sini."
Keduanya kembali terkejut mendengar keputusan Manda. Raut wajah Manda tidak main-main dalam mengundurkan diri.
"Tunggu, Manda. Yang kamu dengarkan itu,"
Plak!
Manda menepis tangan editornya dengan kasar.
"Tidak perlu jelaskan, saya akan pergi dari sini." Tatap Manda sinis, ia pergi dengan mudahnya. Editor dan rekannya greget dengan sifat sombong Manda.
"Ck, dasar wanita ******!" decak Editor itu menutup pintu kantornya.
Manda berhenti di pinggir jalan, dia berjongkok lalu menyembunyikan wajahnya. Sekarang kemana dirinya harus mendapatkan kerja yang lebih menjaga hasil kualitas karyanya.
Gajinya bulan ini yang sudah dia tarik, dan mungkin tak cukup untuk menghidupinya serta dua anaknya. Manda duduk di bangku tepi jalan. Dia menunduk dan diam-diam menangis.
"Huft, hidup ini sungguh berat, benar-benar susah mencari pekerjaan." Pikir Manda mulai tenang. Saat berdiri, tiba-tiba ponselnya berdering. Manda pun mengangkatnya.
"Mandaaaaa!" teriak seseorang dari sebrang telepon.
"Astaga, bisakah kamu bicara baik-baik dan lembut? Telingaku hampir terlempar ke sebrang jalanan!" balas Manda teriak juga.
"Ya elah, santai saja. Aku ini merindukanmu, sekarang bisakah kau pulang ke habitatmu kembali?" tanyanya yang tak lain adalah Senja. Wanita ini sudah menikah dan pulang ke kota bersama suaminya.
"Habitat pantatmu! Aku ini manusia, bukan hewan! Jangan bicara omong kosong padaku," ucap Manda kesal sambil mencolek-colek telinga kanannya.
"Eh kamu ini kan dijuluki mama kodok, jadi kemarinlah, aku merindukan dua kecebongmu."
Manda melongo mendengar julukan dirinya dan dua anaknya.
[Mama kodok karena Manda suka lompat/berpindah tempat mencari tempat yang aman untuk dua bayinya wkwk]
"Asem! Aku ini bukan mama kodok!"
"Oke oke, kalau begitu Mama muda kecebong," ejek Senja.
"Eh, itu malah tambah parah tau!" celetuk Manda makin kesal.
"Tidak bisa,"
"Loh kenapa?"
"Aku lagi dijalan pulang, habis mengundurkan diri,"
"APA?" pekik Senja teriak.
"Oi, santai saja napa bicaranya. Telingaku sakit tau, Ja!" ujar Manda colek-colek telinganya lagi.
"Ya maaf, tapi ini kamu beneran undur diri?" tanya Senja yang lagi menyuapi baby kecilnya yang lagi makan bubur.
"Ya begitulah, sekarang aku tidak tahu mau bekerja apa."
"Wah bagus dong,"
Manda terkejut mendengar Senja kesenangan.
"Bagus? Bagus apanya?" Manda bertanya heran.
"Ya baguslah, kalau gini kamu bisa ke sini. Ada banyak lowongan kerja di sini, apalagi ada perusahaan yang lebih elit yang bisa kamu datangi."
Manda terdiam mendengarnya.
"Manda, gimana? Kamu ke sini saja," tawar Senja ingin Manda kembali ke kotanya.
"Maaf, Ja. Aku tidak punya biaya,"
"Ahahaha,"
Manda sontak merinding mendengar tawa Senja.
"Kenapa tertawa?"
"Aduh, Man. Kamu ke sini saja deh, aku akan transfer uang untukmu. Sekarang siap-siaplah terbang ke sini. Aku menunggumu, dah Manda."
Panggilan diputus begitu saja.
"Asem, aku kan belum selesai bicara. Dasar!" rutuk Manda berjalan pulang kembali. Namun ponselnya mendapatkan notif. Manda kaget, ada notif dari bank. Angka yang sangat banyak dari Senja.
"OMG, dia benar-benar ingin aku pulang. Kalau begitu ini saatnya pulang ke habitatku! Eh maksudnya ke kota!"
Manda segera ke bank untuk menarik uang. Dia pun memesan tiket penerbangan dan malam ini akan berangkat kembali ke kota. Membawa dua anaknya ke kota sang Daddy Rafandra. Daddy dari dua kecebong yang dia bawa pergi lima tahun yang lalu.
______
Terima kasih buat teman teman yang telah memberi LIKE dan VOTE nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.
Terima kasih juga buat teman-teman yang telah menghargai karya Author dengan cara memberikan Tip. Author juga doakan semoga sehat selalu buat semua pembaca, baik itu yang suka maupun yang tidak suka dengan Novel ini.
Jika ada Typo dalam setiap chapter di Novel ini, mohon untuk diberitahukan kepada Author agar segera merevisinya. Terima kasih~