Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 41 : Meronta-ronta


"Menikahi dia?" Kedua orang tua Rafa menunjuk Sheila. Rafa maju kemudian dengan serius dan jujur mengatakan semua dugaannya.


"Benar Mi, aku ingin menikahinya dan membatalkan pertunangan ku dengan Valen. Aku mencintai Sheila, dan sama sekali tidak mencintai Valen. Mohon, Mami dan Papi restui kami."


Rafa memohon di depan Ibu dan Ayahnya. Sontak Tuan Raka maju. Dia yang sudah memasuki umur 56 tahun masih tidak habis pikir pada Rafa yang masih membuatnya kesal.


"Kenapa tiba-tiba datang lalu mengatakan omong kosong ini, ha!" bentak Tn. Raka menatap tajam pada anak ketiganya. Manda mundur selangkah, benar-benar sedikit menakutkan berhadapan dengan orang tua ini. Apalagi dikenal galak, sedangkan Ny. Mira tiba-tiba tersenyum manis pada Manda. Ini membuat bulu kuduk Manda berdiri semua diberi senyuman oleh Ny. Mira, mantan psikopat.


"Oh Tuhan, lindungi hamba mu ini yang sedang dilanda kecemasan." Manda membatin, berdoa dalam hati. Hidup di keluarga yang rata-ratanya punya sifat kejam tentu harus berhati-hati.


"Pih, aku ini tidak lagi bicara omong kosong, aku ini sungguh-sungguh mau menikahinya! Dia adalah Sheila, putri dari keluarga William. Aku dan dia dulu pernah berhubungan, dan dari malam itu dia memberiku tiga anak kembar."


Deg! Tn. Raka hampir jantungan. Untung saja Ny. Mira mengelus dada suaminya cepat.


"Kalian sudah punya anak?" tanya Tn. Raka masih mengatur nafasnya yang sedikit sesak.


"Itu benar, sekarang aku mau bicara empat mata dengan Papi. Ku harap Papi mau ikut denganku bicara sekarang juga," ujar Rafa serius.


"Baiklah, sekarang kita bicara empat mata. Dan kamu!" Tunjuk Tn. Raka pada Manda.


"I-iya, ada apa denganku?" tanya Manda menelan ludah.


"Jangan senang dulu!" ucap Tn. Raka bermuka masam lalu pergi ke ruang pribadinya. Rafa meraih tangan Manda, menenangkan Manda agar tidak usah takut. "Kamu tetap di sini, aku akan kembali secepat mungkin, Shei." Rafa mengelus kepala Manda lalu pergi meninggalkan Manda dan Ny. Mira berdua saja.


Dag Dig dug ...


Dag Dig dug ...


Jantung Manda berdebar-debar duduk berhadapan dengan Ny. Mira. Tak ada obrolan sama sekali. Ini terasa mencekam. Berhadapan dengan mantan psikopat membuatnya berkeringat dingin. Sontak, Manda kaget ditanya oleh Ny. Mira.


"Hei, ada apa denganmu? Kamu takut padaku?" Dengan cepat, Manda menjawab : "Ti-tidak, Nyonya." Mendengar nada ketakutan Manda langsung membuat Ny. Mira tertawa.


"Pfft, ahaha... jangan takut. Aku tidak akan memarahimu, tapi mengapa kalian bisa saling berhubungan dulu? Apa kamu sengaja tidur dengan putraku?" tanya Ny. Mira seakan menuduh Manda yang naik ke ranjang Rafa.


"Bu-bukan begitu, kejadian waktu itu cuma kecelakaan. Saya tidak pernah berniat tidur dengan Rafa, Nyonya." Manda gemeteran, meski wanita di depannya sudah tua. Tapi kharismanya masih terlihat cantik. Hanya ada sedikit keriput di bagian mata bawahnya. Tapi sorotan mata Ny. Mira sangat tajam.


"Kecelakaan? Jadi bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Ny. Mira ingin tahu. Manda mendesis, dia juga tidak tahu jelas karena itu sudah berlalu.


"Ku rasa, ini perbuatan kakakku. Dia menjebak ku hingga berakibat begini, Nyonya."


Ny. Mira mangut-mangut mendengarnya.


"Kalau begitu, apa benar kamu melahirkan tiga anak?" tanya Ny. Mira lagi. Manda pun dengan cepat menjawab : "Be-benar, saya melahirkan tiga anak kembar. Tapi satu anak saya dinyatakan meninggal oleh Dokter. Tapi-" Manda berhenti sejenak.


"Tapi apa?" Ny. Mira dalam hatinya sangat senang sudah tahu ia ternyata memiliki tiga cucu kembar, tapi sedikit sedih karena satu anaknya Rafa meninggal.


"Tapi aku rasa, anakku belum meninggal, Nyonya," ucap Manda mengatur perlahan nafasnya.


"Itu, Rafa kemarin membawa seorang putra. Dia sangat mirip dengan salah satu anakku. Mungkin saja, putra itu adalah anakku. Kami juga sedang melakukan tes DNA, ku harap dugaan ku benar," jelas Manda gugup.


"Maksud kamu, Rain?" tebak Ny. Mira lagi. Manda pun mengangguk membuat Ny. Mira berdiri.


"Mana mungkin, Rain adalah anak dari Valen. Dia juga calon menantuku. Beraninya kamu berkata begitu!" ujar Ny. Mira tiba-tiba marah. Manda ikut berdiri, kemudian memberikan foto pada Ny. Mira. Benar, ternyata Rain mirip dengan foto salah satu dari dua anak di dalam foto itu.


"Itu foto dua anak saya yang bersamaku, Nyonya." Ny. Mira duduk kembali lalu melihat Manda bergantian dengan foto itu. Manda pun ikut duduk.


"Astaga, kenapa bisa kebetulan begini?" pikir Ny. Mira seakan belum percaya. "Apa mungkin Valen telah membohongi keluarga ku?" batin Ny. Mira sudah geram.


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menemui kami saat kamu dan Rafa sudah melakukan itu?" tanya Ny. Mira lagi. Manda pun menunduk lalu perlahan menangis. Kali ini ia berakting, dan berharap aktingnya bisa menyakinkan Ny. Mira.


"Saat itu, aku tidak bisa keluar dari rumahku. Ibu tiriku dan kakakku sangat kejam padaku, mereka mengurungku di dalam gudang sendirian. Mengikatku tanpa balas kasihan, hingga aku tidak kuat untuk bertahan dan ingin bunuh diri. Tapi akhirnya ayahku menemukanku dan menghentikan aku. Aku kacau saat itu, Nyonya. Ditambah lagi, Rafa saat datang ke rumahku, dia begitu membenciku. Dia seakan ingin membunuhku, padahal aku benar-benar tidak sengaja tidur dengannya. Sekarang aku cuma bisa hidup dengan anak-anakku."


Mendengar cerita Manda yang menyedihkan. Ny. Mira berpindah duduk ke samping Manda.


"Jadi kamu disiksa mereka?" tanya Ny. Mira meraih tangan Manda. Merasa tak tega bila ada orang lemah ditindas.


"I-iya, aku benar-benar takut untuk pulang lagi. Ibuku... pasti sedih melihatku di sini." Manda pura-pura menangis di depan Ny. Mira, sampai-sampai ingus buatannya terdengar di dalam hidungnya, sontak Ny. Mira memeluknya. Ia kasihan padanya. Akting Manda sangat mudah membuat Ny. Mira percaya.


"Sudah, jangan pikirkan lagi. Kamu tidak usah sedih, anak-anakmu adalah cucuku. Mami sudah merestui kalian," ucap Ny. Mira luluh juga.


"Benarkah?" ucap Manda diberi anggukan oleh Ny. Mira.


"Lalu bagaimana dengan Valen? Saya dengar, dia tunangan Rafa. Saya pikir, mungkin lebih baik-"


"Tidak, dia tidak bisa menjadi istri putraku. Dia harus jelaskan siapa Rain ini sebenarnya. Dia pasti sudah berbohong selama ini. Sekarang, kamu tenanglah. Tidak usah kuatir. Kebahagiaan anak dan cucuku itu lebih penting dari pada mempertahankan yang tidak jelas seperti Valen."


Manda menelan ludah melihat keseriusan Ny. Mira. Sontak, Rafa dan Tn. Raka sudah kembali. Ny. Mira buru-buru berdiri kemudian mendekati suaminya.


"Pah, gimana hasilnya?" tanya Ny. Mira penasaran apa keputusan Tn. Raka. Tapi suaminya malah naik ke lantai atas meninggalkan Manda dan Rafa. Ny. Mira segera menyusul suaminya.


"Bagaimana? Apa orang taumu mau merestui kita?" Manda bertanya sembari menunduk menyentuh cincinnya. Rafa menarik tangan Manda keluar dari mansion menuju ke mobilnya. Benar tak ada satupun kata yang dikeluarkan dari mulutnya.


"Kenapa diam saja? Apa ayahmu tidak menyukaiku?" tanya Manda sudah duduk di samping Rafa. Rafa tenang sejenak lalu mengeluarkan sebuah berkas kemudian berkata : "Aku sudah membujuk Papi, mengatakan semua kalau hubunganmu denganku dijalin karena cinta dan anak-anak. Jadi setelah kita ke kantor Dinas kependudukan catatan sipil, aku akan mengadakan pesta pernikahan untukmu."


Manda terkejut mendengarnya. "Hari ini kita sungguh menikah?" tanya Manda. Rafa mengangguk lalu mendekati wajah Manda, ia berbisik ke telinga Manda. "Aku harap setelah ini, kamu mempersiapkan dirimu, sayang." Bisikan Rafa sontak berhasil membuat Manda merinding.


"Aahhh, jangan katakan itu padaku!" pekik Manda tersipu.


"Pfft, ahaha..." Rafa tertawa melihat Manda yang pasti otaknya berhasil traveling gara-gara dia lagi. Rafa pun melaju ke kantor pendudukan catatan sipil, membuat akta nikah. Setelah itu mengadakan pesta pernikahan.


"Hehehe ... tunggu saja. Aku akan buat kamu tak bisa berjalan normal selama tiga hari tiga malam." Rafa tertawa licik dalam hati tak sabar mengulangi malam pertamanya. Membelah duren yang dijaga selama ini. Memuaskan juniornya yang sudah lama meronta-ronta.