
Esok paginya, ini hari yang pastinya bakal melelahkan untuk Manda. Dengan cepat, Manda bergegas merapikan penampilannya untuk melamar kerja. Setelah sarapan pagi, dia menarik tangan Rein.
"Loh Manda, kamu bawa Rein kemana?" tanya Senja merapikan atas meja.
"Mau bawa dia ke taman kanak-kanak. Hari ini Rein masuk sekolah," jawab Manda memasangkan sepatu untuk putranya.
"Masuk sekolah? Cepat banget, memangnya Rein sudah mau sekolah?" tanya Senja pada Rein.
"Ya Bibi, Rein hari ini masuk sekolah," sahut Rein menjawabnya datar.
"Oooh, kalau begitu kalian hati-hati di jalan." Senja mengut-mangut mendengarnya.
"Ya sudah, kita pergi dulu... Dah Senja!" pekik Manda keluar membawa Rein pergi mencari taksi. Senja kembali membereskan dapur dan mengurus anaknya saja karena suaminya sedang bertugas di luar kota jadi cuma mereka berempat yang ada di rumah ini.
__________
"Rein, Mommy pergi cari kerja dulu. Kamu sekolah yang baik di sini, jangan menyusahkan bu guru dan temanmu," ucap Manda berjongkok dan menasehati Rein. Keduanya sedang berada di depan gerbang sekolah taman kanak-kanak yang sudah Manda urus kemarin malam untuk daftarkan Rein sebagai murid baru.
"Baik Mommy, hati-hati di jalan."
Cup!
Manda terhenyak pipinya dicium oleh Rein. Ini pertama kalinya mendapatkan cinta dari putranya yang dingin itu.
"Ya sayang, setelah Mommy dapat adikmu. Kalian akan sekolah bersama."
Manda tersenyum dan balas mencium kening putranya dengan lembut. Rein mengangguk dan masuk ke dalam bersama anak-anak lainnya. Setiap langkah kaki Rein cuma menunduk saja, bocah cilik ini sedikit iri melihat anak lainnya yang diantar oleh ayah mereka, tidak seperti dirinya yang kesepian.
"Fiuuuuhhhh...."
Manda menghela nafas dan kemudian melihat jam tangannya. Matanya membola langsung.
"OMG! Aku sudah mau telat untuk mendaftar!" pekik Manda panik segera lari ke salah satu perusahaan. Mendaftar sebagai reporter magang.
_________
Brak!
Seorang pria gendut menggebrak meja dengan keras dan menatap Manda serius. Tapi yang ditatap masih santai dan tidak memperlihatkan ketakutan sedikitpun.
"Ekhm," pria gendut itu mendehem. Sedikit terpesona dan tergoda dengan tubuh ideal dan seksi Manda. Sekali-kali melirik dua bola dada yang montok dan melirik pinggul Manda yang gemoy.
Manda tahu pria di depannya adalah Direktur yang mesum, tapi Manda tidak peduli sama sekali karena dia tahu cara menyelesaikan pria mesum.
"Bagaimana Pak? Apa saya diterima?" tanya Manda dengan tenang duduk di depannya.
"Kamu lumayan juga, hari ini kamu boleh mulai bekerja, tapi-" Pria itu memutuskan ucapannya dan kemudian berdiri mendekati Manda. Pasti ingin merasakan bola dada Manda yang menggoda.
"Tapi apa Pak?" tanya Manda segera berdiri menghindarinya. Pria itu kesal karena Manda malah berdiri. Kesempatannya hilang untuk meremas oppai itu.
"Kamu boleh keluar mulai bekerja," jawab Pria itu bernama Direktur Song.
"Baik Pak, saya akan lakukan yang terbaik." Manda pamit keluar meninggalkan pria itu yang menggerutu sendirian di ruangannya.
______
"Wah wah, lihatlah siapa karyawan baru di sini, apa kau reporter magang baru?" tanya seorang wanita. Dia salah satu editor majalah. Mendekati Manda yang duduk merapikan meja kerjanya. Manda menoleh dan tersenyum paksa, tahu editor ini mau meremehkannya.
"Ya saya, karyawan baru di sini. Mohon kerja samanya," ucap Manda mengulurkan tangan.
Plak!
Editor itu menepisnya membuat Manda mendesis kesal dengan sikap sombongnya.
"Tidak usah sok kenal, kamu ini tidak selevel denganku. Dan juga, kamu sebagai karyawan baru harus menghormatiku sebagai seniormu. Jadi panggil aku, Editor Lei."
Editor Lei tertawa licik dan kemudian pergi meninggalkan Manda.
"Dih, sombong amat tuh orang!" gerutu Manda dalam hati ingin sekali menjambak rambutnya. Tak ada sikap ramah yang diperlihatkan oleh Editor Lei padanya. Ini membuat Manda hanya bisa bersabar demi mencari putrinya yang hilang.
_______
Pekerjaan Manda dimulai sekarang, Direktur menugaskannya harus menangkap basah hubungan percintaan seorang CEO dan artis ternama di kota. Manda agak gugup berada di bawah meja, tepatnya di ruangan yang akan menjadi tempat kencan buta korbannya.
"Aduh, siapa yang harus aku potret?" pikir Manda gelisah. Demi uang untuk mencari putrinya, terpaksa Manda menunggu korbannya datang. Bahkan Manda hampir ketiduran, untung saja ada suara yang membuatnya tersadar. Spontan Manda menyiapkan kamera untuk memotretnya.
"Eh, kenapa artis ini marah?" batin Manda terkejut melihat wanita cantik keluar dengan mengomel. Manda memperbaiki kacamatanya untuk melihat dengan jelas.
Benar! Kencan butanya hancur karena CEO itu menolaknya.
"Siapa yang kencan dengannya?" pikir Manda tanpa sadar keluar dari tempat persembunyiannya.
"Loh kenapa ruangan ini kosong?" lanjutnya bergumam sembari menggaruk kepala tak gatal. Tiba-tiba suasana di belakangnya terasa dingin. Bulu kuduk Manda berdiri merasa seseorang sedang berdiri di belakangnya.
"Siapa kamu? Beraninya berada di tempatku!" ujar orang itu dengan suara serius dan tatapan tajam.
Manda spontan berbalik.
Tuk!
Keningnya terbentur ke dada orang itu. Manda merinding langsung mendongak ke atas.
Glug!
Manda meneguk ludah tidak sangka bertemu dengan CEO Rafandra, ayah dari tiga anak kembarnya yang kini bermuka masam seakan ingin menerkamnya. Tatapannya sangat tajam.
"Ya Tuhan... tamat sudah hidupku ini."
______
Terima kasih buat teman teman yang telah memberi LIKE dan VOTE nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.
Terima kasih juga buat teman-teman yang telah menghargai karya Author dengan cara memberikan Tip. Author juga doakan semoga sehat selalu buat semua pembaca, baik itu yang suka maupun yang tidak suka dengan Novel ini.
Jika ada Typo dalam setiap chapter di Novel ini, mohon untuk diberitahukan kepada Author agar segera merevisinya. Terima kasih~