
Jarak itu semakin dekat, Manda mencoba ingin bergerak tapi seperti ada sesuatu yang merantainya. Bibir mereka hampir bertemu, Manda yang takut pun menutup mata. Seketika Noah berhenti dan cepat mundur melepaskan Manda setelah mendengar suara Rein.
"Mommy…." Berkat Rein, Manda dapat bergerak. Dia pun menjauh dari Noah dan membuang muka ke samping. Begitupun Noah menatap ke depan dengan perasaan gugup, dia hampir berbuat salah, Noah pun cepat melaju kembali. Berlian itu juga tak jadi bercahaya.
"Mommy, apa kita sudah sampai?" tanya Rein membuka mata kemudian duduk normal sambil mengucek-ngucek kedua matanya.
"Ya Tuhan, apa yang barusan itu? Apa dia sungguh ingin menciumku?" batin Manda belum menjawab putranya.
"Oh Rein, kamu sudah bangun. Ini kita sudah mau sampai." Noah menyahut tanpa menengok ke belakang. Mendengar Noah yang menjawab, Rein jadi bingung mengapa Ibunya diam saja. "Apa sesuatu sudah terjadi, Mommy?" tanya Rein terus terang ke Manda.
Manda pun menunduk, dia tidak berani melihat Noah. Rasanya ini nyata untuknya yang harus hidup di dunia yang sama. "Mo-mommy baik-baik saja kok, sayang." Manda terpaksa tersenyum pada Rein, dia tidak boleh perlihatkan keanehan pada Rein.
Melihat Manda berbicara pada Rein melalui kaca spion, Noah tersenyum miring. Dia merasa Manda tampak sembunyikan tindakannya barusan. "Sepertinya dia memang Sheila yang bodoh, kalau dia Manda, harusnya dia memberontak saat aku ingin menciumnya. Jika begitu apa lebih baik aku merebutnya dari Rafa dan anak ini? Kalau aku tidak bisa bersama dengan Manda di sana, aku bisa saja hidup bersama dengan wanita ini di sini. Aku akan bayar penyesalanku melaluimu, Sheila." Noah berpikir kalau Sheila memang bukan Manda.
"Apa kau baik-baik saja?"
Degg
Manda terperanjat melihat senyum aneh Noah di kaca spion yang ada di depannya. Manda mengepal tangan lalu tersenyum kecut.
"Tentu saya baik-baik saja, Noah."
Rein di sana makin curiga jika pasti sudah terjadi sesuatu. "Mommy dan Om Noah sepertinya makin akrab, aku tidak boleh biarkan Mommy dekat-dekat lagi dengan Om Noah." Rein membatin, dia memeluk erat Ibunya.
"Sepertinya Rein tidak melihatku yang hampir dicium oleh Noah. Aku harus berhati-hati dan menjaga jarak dengan Noah mulai sekarang." Manda berpikir harus menjauhi Noah, reinkarnasi dari Rangga.
Di perusahaan, Rafa mulai bosan membaca berkas di tangannya. Dia merindukan omelan istrinya. Rafa pun melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.35 siang, dia pun beranjak dari kursinya lalu dengan santai berjalan ke arah pintu, namun sekretaris Jho menghampirinya. Jho tahu Presdirnya itu ingin keluar.
"Tunggu, Presdir!" tahan Sekretaris Jho mencegatnya.
"Ada apa menahanku?" tanya Rafa bertatap muka pada Sekretarisnya.
" Presdir, anda belum bisa tinggalkan perusahaan. Masih ada yang perlu anda lihat dan amati dari berkas laporan perusahaan ini," jawab Sekretaris Jho memberi berkas lain. Dia sengaja menahan Rafa agar dapat bertemu Nerin. Dia lakukan ini karena perintah dari wanita itu yang sudah menyewanya untuk memata-matai Presdir Rafandra sejak dulu.
"Hm, kau adalah sekretarisku kan? Ini bisa kau urus sendiri, Jho." Rafa menolak terima berkas itu. Dia lanjut berjalan ke arah pintunya. Sekretaris Jho mendesis gagal membujuk Rafa. Namun rupanya, setelah pintu dibuka, mata Rafa terbelalak mendapati kedua anaknya berdiri di depannya.
"Hallo, Daddy!" seru Rara dan Rain melompat riang.
"Wow, apa ini kejutan untuk Daddy? Di mana Mommy dan kakak kalian?" tanya Rafa berlutut di depan putri dan putra bungsunya. Dia mengelus kepala keduanya dengan lemah lembut. Jho di sana mengernyit, "Kemana Nona Nerin? Harusnya dia bersama dua anak ini," batin Jho bingung.
"Mommy dan kakak tidak bersama kami, Daddy," jawab keduanya serempak.
"Loh, kenapa tidak bersama kalian?" tanya Rafa berdiri dan sedikit terkejut.
"Kami ke sini tidak sama Mommy, tapi Bu Guru, Daddy," jawab Rara tersenyum manis.
"Bu Guru siapa?" tanya Rafa penasaran pada guru yang telah repot-repot membawa dua anaknya ke perusahaan ini.
"Tuh, Bu Gurunya, Daddy."
Degg
Rafa terkejut setelah mengikuti arah tunjuk jari Rain ke arah wanita yang berjalan menghampirinya.
"Hai, Rafa. Senang berjumpa denganmu lagi," ucap Nerin dengan sopan berdiri di antara dua anak kembar Rafa.
"Nerin, kenapa kamu datang ke sini dan jadi seorang Guru?" tanya Rafa terheran-heran karena dia tahu Nerin adalah Nona kaya dari salah satu keluarga ternama, tapi malah berprofesi sebagai guru biasa.
"Hahaha, ternyata kamu terkejut ya lihat aku ke sini. Sebenarnya aku cuma datang menemani mereka, anak-anakmu yang lucu ini ingin mengunjungimu, jadi aku mengantarnya ke sini," jawab Nerin mengelus pipi Rara dan Rain, dia berpura-pura manis di depan dua anak Rafa.
"Jadi kalian ke sini dengan kemauan sendiri?" tanya Rafa ke anaknya. Dua anak itu cengengesan saja.
"Astaga, Daddy pikir kalian ke sini bareng Mommy. Sekarang apa Mommy tahu kalian pergi ke sini?" tanya Rafa lagi. Rara dan Rain saling bertatapan, keduanya pun menggelengkan kepala.
"Rafa, jangan kuatir, aku yang akan katakan ke Sheila nanti." Nerin menjawab sambil menyentuh tangan Rafa dan tersenyum. "Benar, aku harus bersikap baik untuk menjeratmu kembali, sayang." Nerin membatin penuh yakin. Namun sentuhan itu sangatlah singkat.
Pak! Rara menepis cepat tangan Nerin membuat wanita itu kaget.
"Bu Guru jangan pegang Daddy Rara," ucap Rara memeluk Daddy-nya. Dia sangat tidak suka miliknya disentuh oleh orang lain.
"Astaga, jangan berdebat. Bu Guru tidak bermaksud apa-apa, kok." Nerin secepatnya mencairkan suasana ini. Sekretaris Jho cuma diam saja melihat dua anak itu saling melotot. Sepertinya Rain anak yang gampang terhasut oleh kebaikan palsu Nerin.
"Sudah-sudah, Daddy tidak mau mendengar kalian bertengkar. Sekarang sini kalian ikut sama Daddy ke tempat Mommy," ajak Rafa menarik tangan kecil dua anaknya. Rara dan Rain saling ngambek satu sama lain.
"Tunggu Rafa," tahan Nerin lagi-lagi memegang lengan Rafa. Mata Rara membulat, dia maju mendorong Nerin membuat Jho dan Rafa serta Rain kaget melihat Nerin jatuh ke lantai.
Gubrakk!
Ahhhh…
"Auw… sakit," ringis Nerin mulai berpura-pura kesakitan pada kakinya.
"Rara! Kenapa dorong Bu Guru!" marah Rain ke Rara.
"Rara tidak suka, Bu Guru tidak boleh pegang Daddy Rara!" balas Rara marah.
Rafa mendesis, dia sebenarnya ingin tadi menepis tangan Nerin, tapi Rara dengan cepat bertindak.
"No-nona, mari saya bantu," ucap Skretaris Jho mengulurkan tangan. Tapi Nerin yang pintar berakting lanjut meringis kesakitan.
"Aduuh, tolong. Aku tidak bisa berdiri, Rafa. Kaki aku sepertinya terkilir," mohon Nerin memintanya ke Rafa.
"Terkilir? Kaki Bu Guru tidak bengkak tuh," sahut Rara sedikit jengkel sambil menunjuk tumit Nerin yang baik-baik saja. Rafa cuma memutar bola mata malas, dia tau mantannya itu berpura-pura.
Karena tidak tega melihat Nerin kesakitan, Rain yang baik hati memohon ke Rafa, membuat Rara jengkel dengan adiknya itu.
"Daddy, bantuin obati kaki Bu Guru. Berkat Bu Guru, kita bisa ke sini. Ayooo bantuin, Daddy," rengek Rain ingin menangis. Nerin tersenyum miring dalam hatinya, dia senang ada satu anak Rafa yang tampak lemah untuk dia hasut. Rafa pun terpaksa mengiyakan. Baru saja mau ditolong, suara Manda menghentikannya.
"BERHENTI!"
Rara menoleh lalu tersenyum lebar melihat Ibu dan kakaknya datang. Anak kecil imut itu pun dengan bahagia lari memeluk Ibunya.
"Yeeeey, Mommy datang!"
Nerin melihat rivalnya datang langsung menggertakan rahang merasa sesal, dia pun dalam hati menggerutu.
"Brensek! Wanita ini selalu saja datang merusak."
Manda tersenyum manis, dia maju mendekati Rafa dan Rain, diikuti Rara dan Rein di sampingnya.
"Oh ya, mengapa anda duduk di lantai?" tanya Manda sambil merangkul lengan Rafa dan memandangi Nerin.
"Mommy, Rara tadi dorong Bu Guru jadi jatuh begini. Kaki Bu Guru sakit jadi tidak bisa berdiri," sahut Rain menjawabnya sambil nunjuk Rara. Rein di samping Rara jadi menoleh ke adiknya. Rein tahu, pasti ada alasan mengapa Rara berbuat demikian.
"Oh jadi begitu, mungkin kakakmu tidak sengaja sayang. Jangan marah ya sama kakak sendiri," ucap Manda mengelus kepala Rain.
"Baik, Mommy." Rain pun mendekati dua kakaknya, berdiri di samping Rein. Tapi Rara di sana acuh masih kesal dengan Rain.
"Auww, sakit!" ringis Nerin berpura-pura lagi.
"Oh sakit? Kalau begitu sini saya bantu," ucap Manda langsung menarik kasar lengan Nerin membuatnya menjerit akibat cengkraman Manda sangat kuat di lengannya.
"Ahhhh!" Nerin mendorong Manda hingga Rafa segera menangkap istrinya. Triple R terperanjat kaget melihat Ibu mereka didorong oleh Nerin. Untung saja Rafa dapat menahan kepala Manda sebelum terbentur ke tembok.
"Nerin! Apa kau ingin mencelakai istriku!" murka Rafa marah besar, dia balas mendorong Nerin hingga jatuh kembali.
"Uuuuhh sayang, kepalaku jadi sakit. Kita pergi dari sini saja ya." Manda bermanja, berpura-pura kesakitan di pelukan Rafa. Dia ingin membuat Nerin kapok.
"Baiklah, kita keluar sayang. Sini kalian ikut sama Daddy juga."
Rafa membawa Manda bersama ketiga anak kembarnya meninggalkan Nerin dan Sekretaris Jho. Manda melirik Nerin, dia mengacungkan jempolnya ke bawah merasa menang kali ini.
"Lemah."
Bersambung.
Jangan lupa like dan favoritkan ya biar Manda semangat lanjut bercerita tentang dunia halunya😄. Tolong ya semangati Author biar Manda lanjut terus, thank and see you all😚.