
Berkat informasi dari sekretaris Jho, Nerin dapat menemukan Rafa dan sekolah anak-anaknya. Nerin sangat terkejut mengetahui Rafa punya tiga anak dari Sheila. Kemungkinan untuk mendekati Rafa sangat sulit baginya karena adanya ketiga anak Rafa. Tapi Nerin punya ide lain untuk dekat pada Rafa lagi.
Karena Nerin sempat jatuh hingga lututnya tergores, Nerin pun dibawa ke rumah Tuan Damian. Ini yang sangat disukai oleh Nerin. Walau sudah menjadi mantan Rafa, tapi dia yakin di hati Rafa masih terukir namanya. Sangat jelas Nerin sekarang diperlakukan baik oleh Rafa dan ini membuat Manda sedikit jengkel dengan Nerin. Sedangkan Noah yang berdiri di dekat Manda diam-diam meliriknya dan tersenyum.
"Sikapnya masih sama dengan dia, manja dan menyebalkan. Walau pun dia mantannya Rafa, aku tidak akan biarkan dia menggoda Rafa," gumam Manda dalam hati memikirkan ucapan Rafa kalau wanita ini bernama Nerin, ia adalah mantan sebelum kenal dengannya. Dari matanya sekarang, sudah bisa ditebak kalau Manda tak rela Rafa sendiri yang mengobati Nerin.
"Rafa," Manda menerobos duduk menghalangi Rafa dan Nerin lalu merebut obat merah di tangan Rafa.
"Shei, biarkan aku yang mengobatinya," ucap Rafa tahu tindakan Manda.
"Sayang," Manda meraih tangan Rafa kemudian melirik Nerin. Rafa terkejut dipanggil mesra oleh Manda, begitu pun Nerin kesal dalam hatinya mendengar panggilan itu.
"Sayang, kan aku yang hampir menabraknya. Biarkan aku sendiri yang mengobatinya, sekalian kan aku bisa lebih mengenal dia," senyum Manda pada Rafa. Nerin dalam hatinya mulai kesal dengan perkataan manis dari Manda, apalagi sekarang Rafa mengelus kepala Manda dengan penuh perhatian. "Ck, wanita ini sengaja melakukan ini padaku?" batin Nerin berdecak.
"Baiklah, ini bagus untuk ke depannya juga." Rafa berdiri ingin naik ke lantai atas, tapi Nerin menahan Manda untuk tidak mengobatinya hingga Rafa berhenti.
"Tunggu, Nona Shei pasti sangat sibuk. Lututku juga sepertinya sudah membaik, bagaimana kalau-" ucap Nerin ikut berdiri kemudian tersenyum pada Rafa.
"Bagaimana kalau kamu membawaku pulang, tempat tinggalku sangat jauh dari sini, apalagi aku baru datang dari luar negeri, aku sudah lupa sedikit jalan di kota ini, Rafa," lanjut Nerin memohon. Rafa yang memang semasa pacaran dengan Nerin sangat baik padanya, hingga dengan cepat mengiyakan.
"Baiklah, aku akan mengantarmu."
Manda cemberut setelah mendengarnya, ia hampir melempar botol obat merah. Untung saja Manda bisa menahan emosinya, ia pun ikut berdiri di dekat Nerin.
"Rafa, aku minta maaf soal tadi. Kamu masih mau kan mengajariku menyetir mobil?" tanya Manda sedikit berharap Rafa lebih menurutinya.
"Wah, Nona Shei lagi belajar setir mobil ya? Bagaimana kalau aku yang mengajarimu? Kebetulan aku bisa menyetir mobil juga, ini sangat bagus untuk aku biar semakin dekat dengan Nona Shei," Nerin berkata akrab pada Manda. Manda dalam hati makin jengkel mendengarnya. "Bisa-bisanya dia menawarkan diri, katanya mau dekat denganku atau suamiku nih?" pikir Manda menatapnya datar. Melihat ekspresi Manda, Noah cuma menahan tawa, ia tahu Manda nampak membenci Nerin.
"Itu bagus, kalau begini kalian bisa berteman satu sama lain. Ini kunci mobilnya, Nerin bisa kan mengajari Shei?" tanya Rafa malah setuju. Nerin merebut kunci mobil Rafa lalu tersenyum manis.
"Hm, terima kasih kepercayaannya Rafa. Sekarang kemarilah Nona Shei, aku akan mengajarimu setir mobil dengan benar." Bukannya senang, Manda malah merinding dirangkul lengannya oleh Nerin. Tapi Manda harus pastikan Nerin punya maksud lain atau tidak di kota ini. Ia pun ikut dengan Nerin keluar dari rumah menuju ke mobil Rafa.
"Hei, Raf. Kamu tak takut Nerin mencelakainya?" tanya Noah duduk di sofa. Rafa mengerutkan alisnya lalu ikut duduk di dekat Noah.
"Untuk apa aku harus takut? Nerin orangnya baik, selama aku pacaran dengannya dulu, dia sangat baik pada orang lain,"
"Ya baik sih, tapi bisa saja kan dia jahat pada Manda demi mendekatimu lagi," tebak Noah memperlihatkan rasa cemas pada Manda.
"Noah!" ujar Rafa mulai emosi.
"Kamu jangan berpikir begitu terhadap Nerin, dan jangan kamu memanggil seenaknya istriku seperti itu," lanjut Rafa mencengkram kerah leher Noah.
"Kenapa kamu marah? Aku kan memanggilnya Manda karena itu nama dia, dan soal Nerin sih ini cuma pikiranku saja. Kamu jangan seeanaknya membentak ku!" Noah menepis tangan Rafa.
"Istriku bernama Sheila, bukan Manda! Kamu lebih baik pulanglah! Jangan ke sini lagi!" usir Rafa menunjuk pintu. Noah yang emosi pun berdiri lalu berjalan ingin keluar tapi berhenti kemudian menoleh ke Rafa.
"Oh ya, kalau kamu tidak punya waktu untuk mengajari istrimu, mungkin aku bisa mengajarinya menyetir mobil."
Rafa sontak berdiri, ia semakin emosi pada Noah yang menawarkan diri.
"Dasar! Aku mana mungkin membiarkan kamu dekat dengan istriku!" tolak Rafa terus terang.
"NOAH! APA MAKSUDMU!" bentak Rafa geram. Tapi Noah mengabaikannya kemudian melaju pergi dengan mobilnya. Awal tujuannya cuma ingin jalan-jalan, tapi tak sangka hari ini ia bertemu dengan Nerin yang kembali dari luar negeri.
Kini Rafa duduk, ia berdiam diri sambil memikirkan Manda dan Nerin yang satu mobil bersama. Sementara ketiga anaknya yang melihat mereka dari lantai atas menjadi penasaran pada wanita yang dibawa oleh Ayah mereka.
"Kak Rein, orang ini jahat atau tidak?" tanya Rara yang berdiri di dekat Rain dan Rein.
"Aku rasa dia orang baik, tadi dia bersikap baik pada Mommy," ucap Rain menjawab Rara. Sedangkan Rein sedang sibuk menyentuh dagunya.
"Rara, Rain, kita tidak bisa menilai orang dari luar saja. Kita harus berhati-hati, bisa saja dia datang untuk mengacau di sini," sambung Rein akhirnya berpendapat lain.
"Tapi aku rasa dia baik, dia juga cantik," ucap Rain malah memujinya. Rein yang mendengarnya langsung menyentil kening Rain.
Tuk!
"Aduh, kenapa menyentilku?" desis Rain cemberut. Rara cuma menahan tawa, ia tahu sifat Rein. Meski dia dingin dan datar, tapi dia bisa membalas orang yang sudah membuatnya kesal.
"Mommy lebih cantik!" tegas Rein lalu pergi meninggalkan Rain dan Rara.
"Apa sih, aku kan cuma puji dikit orang itu. Dia memang lebih tua, tapi tidak begini juga tahu, hmp!" cetus Rain segera mengejar Rein. Sedangkan Rara mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Aku rasa, ini juga cantik dari apa-pun. Tapi secantik apa-pun berlian kecil ini, Mommy yang paling cantik di mata Rara. Jadi tidak sabar deh buat kasih ke Mommy, pasti Mommy bakal senang kalau Rara kasih berlian ini."
Rara menyimpan berlian itu lagi, lalu menyusul kedua saudara kembarnya. Sedangkan Manda mulai perlahan dapat mengusai cara menyetir mobil, tapi Manda berhenti membuat Nerin yang duduk di dekatnya sedikit terkejut.
"Ada apa Nona Shei?" tanya Nerin sambil tersenyum.
"Apa tujuanmu sebenarnya datang kemari?" Nerin tersentak kemudian mencoba tenang untuk menjawabnya.
"Tujuanku ke sini untuk pulang ke kota ini, sekaligus mengunjungi kerabatku," jawab Nerin tersenyum lagi agar dia terlihat orang yang murah senyum. Tapi Manda tahu, senyum itu terlihat dipaksakan.
"Setelah tahu Nona Valen dan suamiku sudah putus, kamu kembali ke sini untuk merebutnya dariku, kan?" tebak Manda terus terang. Nerin mengepal tangan, "Dia sangat mudah menebaknya," batin Nerin merasa harus waspada.
"Mana mungkin aku merebut lelaki yang sudah beristri, aku ke sini hanya semata mengunjungi kerabatku," elak Nerin tersenyum lagi.
"Ahaha," tawa Manda tanpa melihatnya membuat Nerin mengernyit heran.
"Mengapa tertawa?" tanya Nerin.
"Sungguh lucu, jelas-jelas kamu mencoba mendekati suamiku lagi dan anak-anakku tapi kamu masih saja mengelaknya. Kamu datang ke sini langsung mendaftar menjadi guru dan tujuanmu cuma satu, yaitu merebut suami dan anak-anak dariku. Apa itu sangat mudah untuk ditebak Nona Nerin?" jelas Manda berhasil membuat Nerin terdiam. Nerin sangat terkejut tahu Manda soal dirinya yang akan mengajar di sekolah ketiga anak kembarnya.
"Ahaha, Nona Shei sangat mudah salah paham. Saya mendaftar jadi guru karena saya menyukai anak-anak, lagi pula saya sama sekali tidak punya niat seperti itu. Nona Shei jangan menyimpulkan hal semudah itu," kata Nerin sedikit menelan ludah sudah menjelaskan ke Manda.
"Oh jadi begitu, ya sudah deh baguslah kalau Nona Nerin menyukai anak-anak. Aku jadi tidak usah cemas pada keselamatan ketiga anakku nantinya. Oh ya, bagaimana kalau-" ucapan Manda berhenti setelah Nerin menerima sebuah panggilan.
"Nona Shei, saya punya urusan penting. Jadi saya tidak bisa membawa anda kembali ke rumah, saya sangat minta maaf Nona Shei, padahal saya senang bisa mengobrol dengan anda. Saya harap bisa ketemu lagi di lain waktu." Nerin tersenyum manis, ia pun buru-buru keluar dari mobil.
"Ya sudah, terima kasih sudah menemaniku," ucap Manda sedikit tersenyum melihat Nerin masuk ke dalam mobil taksi. Manda pun menyipitkan mata kemudian bergumam, "Dia masih bisa berakting di depan ku dan dia cukup lumayan juga, sikapnya manis di depan ku, tapi tidak di belakang ku yang bisa saja melakukan hal licik. Aku harus berhati-hati padanya." Setelah Nerin menghilang, Manda pun menyetir kembali ke rumah Tuan Damian dengan kecepatan rendah. Manda agak takut menyetir mobil sendirian. Dalam pikiran Manda, ia bertanya-tanya kenapa Rafa dan Nerin bisa putus saat itu?