
Sungguh tidak disangka, kameranya pecah dan sekarang malah kehilangan ciuman pertamanya. Ini hal yang sangat sial untuknya. Pria di depannya telah menciumnya tanpa izin dari Manda. Dengan ancang-ancang, Manda langsung mendorong Rafa kemudian ingin menonjoknya.
"Sialan! Beraninya kamu ambil ciuman pertamaku!"
"Aaaaa... rasakan ini!"
Rafa menghindar dengan cepat dan memberikan satu jentikan pada kening Manda.
Tuk!
"Aduh, sakit!" desis Manda kesal menyentuh keningnya.
"Sakit? Benarkah? Lalu bagaimana rasa ciuman barusan? Apa itu sakit atau nikmat?" tanya Rafa mendekati wajah Manda. Membuatnya merona kembali.
"Cih menyingkirlah!" dorong Manda buru-buru keluar meninggalkan Rafa. Hidungnya mimisan belum lepas dari adegan tadi.
"Ekhm, menarik. Dia malah marah setelah aku cium? Apa dia tidak pernah berciuman sebelumnya? Oh itu artinya aku yang sudah merebut ciuman pertamanya?" Entah setan apa yang merasuki Rafa hingga tersenyum makin menyeremkan.
"Tapi-"
Rafa melihat telapak tangan yang tadi meraih leher Manda, lalu Rafa mendengus aroma tubuh Manda yang tertinggal.
"Tapi kenapa aromanya mirip dengan wanita itu?" pikir Rafa ingat pada Sheila. Karena merasa ada yang aneh, Rafa pun keluar dari ruangan itu dan menghubungi sekretaris Jho.
Jho : Halo Presdir, ada apa menghubungi saya?
Rafa : Tolong kamu selidiki wanita yang bernama Manda Aresta, dia salah satu karyawan di perusahaan GROUP SANG. Selidiki semua tentang dia.
Jho : Baik, Presdir.
Setelah panggilan berakhir, Rafa pun berjalan kembali ke ruangannya. Aroma tubuh Manda masih terngiang-ngiang di kepalanya. Merasa wanita yang dia temui bisa menyembuhkan na-fsu yang hilang itu bisa bergejolak kembali.
"Hm, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi." Rafa bergumam sembari menyentuh bibirnya, kemudian melihat kamera Manda di tangannya.
"Tuan, kemana kita akan pergi kali ini?" tanya Pak supir yang duduk dari tadi.
Rafa yang duduk santai di belakangnya cuma menjawab datar.
"Bawa saya ke mall, saya ingin membeli sebuah kamera baru," jawab Rafa menyimpan kamera Manda.
"Baik Tuan." Pak supir mulai nyalakan mobil. CEO ini pun pergi dengan mobilnya meninggalkan tempat kencan butanya untuk membeli kamera sekaligus ingin memperbaiki kamera Manda.
____
"Hais, menyebalkan. Jujur dia memang tampan, tapi kenapa aku malah kesal setelah dicium olehnya?" pikir Manda menyentuh bibirnya.
"Dan juga, memangnya aku ini wanita murahan yang mau dicium begitu saja, setidaknya halalin aku napa, kesal kesal!" gerutu Manda menyandarkan kepalanya di atas meja kerjanya. Rasanya lelah melakukan tugasnya dan sekarang pulang tanpa hasil pemotretan kencang buta CEO dengan Artis ternama.
"Ahahaha lihatlah, sungguh menyedihkan dirinya," tawa para karyawan lain.
Manda cuma menutup telinga tidak mau mendengar ocehan rekan kerjanya. Manda melihat jam tangannya sudah pukul 11.11 siang. Ini waktunya menjemput Rein. Manda segera membereskan tasnya lalu berjalan dengan angkuh ke para karyawan yang lagi tertawara.
"Cih, minggir!" Manda menyenggol mereka membuat mereka berdecak geram.
"Cuih, wanita ini berani juga!" decak mereka risih menatap Manda pergi.
Tak menunggu waktu lama, Rein sudah berdiri di gerbang menunggu Ibunya. Manda yang melihatnya segera mendekati putranya.
"Rein," panggil Manda tersenyum.
"Mommy, kenapa baru datang? Ini sudah jam sebelas, Rein dari tadi nunggu Mommy," keluh Rein bermuka datar menatap Ibunya.
Manda menghela nafas, mana mungkin dia akan kasih tahu keterlanbatannya gara-gara menangkap basah ayahnya yang lagi kencan buta dengan wanita lain.
"Maaf ya Rein, Mommy tadi kerja. Rein tidak marah kan?" Manda jongkok di depan Putranya sembari mengelus rambutnya.
"Rein tidak marah, Mommy," senyum Rein membuat Manda tertegun dan langsung menunduk, lagi-lagi hidungnya mimisan.
"Astaga, kenapa aku akhir-akhir ini mimisan? Apa karena ketampanan Rein?" pikir Manda segera mengusap hidungnya.
"Mommy baik-baik saja?" tanya Rein mengernyit heran melihat Ibunya menunduk.
"Mandaaaa!"
Manda menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah Senja yang datang sendirian saja.
"Loh Sen, kenapa kamu ke sini?" tanya Manda.
"Yaelah, aku ke sini kuatir sama Rein. Jadi pergi jemput dia, sekarang gimana? Kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Senja berdiri di antara mereka.
"Em, aku sudah diterima. Tapi tugas pertamaku gagal, bahkan kameraku rusak. Aku harus pergi membeli kamera lagi," desis Manda masih kesal dengan Rafa.
"Wah kebetulan aku datang, mending kamu pergi kerja lagi deh. Biarkan Rein pulang bersamaku," ucap Senja melihat Rein.
"Ya sudah, tolong jaga Rein. Aku harus membeli kamera sebelum Direktur menghubungiku, jadi-" Manda berjongkok di depan Rein.
"Rein, Mommy minta maaf lagi ya. Sekarang Rein pulangnya sama Bibi Senja. Mommy harus beli kamera baru," lanjut Manda membujuk Rein.
"Baiklah, hati-hati Mommy,"
Cup!
Rein mencium pipi Manda kemudian melambai pergi bersama Rein. Manda berdiri kemudian mengusap kasar matanya.
"Hais, jadi pengen nangis nih."
Manda berbalik ingin pergi membeli kamera. Namun setelah berada di depan toko, seketika dua tangannya ditahan oleh dua berjas hitam. Keduanya datang untuk menculik Manda.
"Eh siapa kalian! Lepaskan aku!" Manda mencoba memberontak, tapi mulutnya segera dibungkam oleh kain. Manda membola lalu perlahan memejamkan mata akibat kain itu telah diberikan cairan bius.
Kedua pria berjas itu membawa Manda masuk ke sebuah mobil hitam meninggalkan tempat itu.
"Uuuuh, di mana aku?" desis Manda perlahan membuka mata, kepalanya terasa berat. Spontan dia terperanjat merasakan kedua tangannya diikat, bahkan dia berada di sebuah kamar tepatnya di atas ranjang. Apalagi dia memakai pakaian yang amat seksi. Kain tipis putih itu sangat terlihat trasnparan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang menggoda.
"Ooiii lepaskan aku! Lepaskan aku!" ronta Manda ingin lepas dari tali yang mengikat tangan dan kakinya. Hanya dia sendirian di kamar itu.
"Hiks, tolong jangan main-main dong," lanjutnya pura-pura menangis.
Cklek!
Manda terkejut segera menoleh ke arah pintu terbuka.
"Kamu!" Manda tertegun melihat lelaki itu adalah CEO yang dia temui tadi siang. Rafa yang pakai jubah saja menyeringai tipis, lelaki itu habis mandi malam ini. Dia nampak senang melihat Manda akhirnya sadar juga.
"Tu-tunggu, kamu mau apa, ha!" bentak Manda ketakutan melihat Rafa berjalan mendekatinya. Matanya terbelalak melihat Rafa membuang jubahnya dan menyisakan handuk yang hanya menutupi juniornya. Tubuh gagah dan otot yang perkasa serta sixpac Rafa membuat Manda merinding sembari meneguk ludah.
"Oh Nona, malam ini kamu sangat bersemangat, aku tidak sabar ingin tahu bagaimana kamu bercinta denganku malam itu." Rafa semakin mendekatinya.
"Bercinta apa, ha! Lepaskan aku! Aku-aku tidak mengenalmu, jangan macam-macam padaku!"
"Tolong... tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!"
Rafa menyeringai tipis mendengar Manda mengoceh terus.
"Ini bukan mimpi Nona Sheila,"
Deg!
Manda berhenti mengoceh mendengar nama Sheila disebut dari mulut Rafandra.
"Tolong Jangan!"
_________
Terima kasih buat teman teman yang telah memberi LIKE dan VOTE nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.
Terima kasih juga buat teman-teman yang telah menghargai karya Author dengan cara memberikan Tip. Author juga doakan semoga sehat selalu buat semua pembaca, baik itu yang suka maupun yang tidak suka dengan Novel ini.
Jika ada Typo dalam setiap chapter di Novel ini, mohon untuk diberitahukan kepada Author agar segera merevisinya. Terima kasih~