Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 113 : Hadiah Untuk Mommy


Setelah menjemput si kembar, Tuan Raka pun mengajak ketiga cucunya itu untuk belanja sepuasnya. Tuan Raka memberikan kepada mereka waktu untuk bersenang-senang di luar, mumpung istrinya belum kembali jadi Tuan Raka bebas hari ini. Walau demikian, dia sering bingung menjawab pertanyaan ketiga cucunya soal Rafa dan Manda yang belum ada kabar, sehingga Tuan Raka yang lagi menemani tiga cucunya jalan-jalan di Mall pun terpaksa berhenti dan menghubungi istrinya, sambil memperhatikan si kembar yang diawasi oleh BODYGUARD yang telah dia suruh.


Panggilan Tuan Raka pun terhubung, dia pun menanyakan soal Rafa dan Manda, serta menyuruh istrinya itu menghubungi Rafa karena dia sendiri susah menghubungi putranya itu. Namun rupanya, jawaban yang diterima dari panggilan itu membuat Tuan Raka shock. Seolah-olah mendapat kabar besar yang mengagetkan dunia.


"Jadi apa yang harus aku katakan pada cucu kita, sayang?" bisik Tuan Raka tidak tau memberi alasan bila si kembar menanyakan terus orang tuanya.


"Bilang saja, Rafa dan Shei lagi liburan, Pa," jawab Nyonya Mira sedang duduk di samping Rafa yang terus menunduk ketakutan.


"Apa kita harus berbohong?" tanya Tuan Raka sedikit ragu.


"Ya Pa, ini demi cucu kita agar tidak khawatir, sekarang jagain ya mereka, aku masih ingin menemani Rafa di sini, sayang,"


"Baiklah."


Setelah dapat informasi dari istrinya, Tuan Raka pun paham mengapa Rafa dan menantunya tidak ada kabar. Tuan Raka pun menghampiri ketiga cucunya yang sedang berdiri di depan toko aksesoris, di mana terdapat begitu banyak liontin emas murni dan yang lainnya. Ketiga anak ini sepakat untuk memberi hadiah untuk Mommy mereka.


"Opa," panggil Rara menunjuk sebuah jam tangan mewah.


"Kenapa?" Tuan Raka mendekatinya, sedangkan dua bocah laki-laki Manda sedang memperhatikan gelang emas di dalam kotak kaca.


"Opa, jam tangan ini sangat keren, Rara mau yang ini,"


"Untuk Opa, ya?" tanya Tuan Raka tersenyum sumringah, mengira cucu perempuannya ingin memilihkan jam tangan itu untuknya.


"Bukan," seketika Tuan Raka cemberut.


"Terus buat siapa?" tanya Tuan Raka sambil meminta karyawan memperlihatkan jam tangan berlapis emas itu.


"Buat Mommy," Opa,"


"Wih, Rara baik sekali ya sama Ibunya," ucap Tuan Raka membelai kepala Rara. Rara cengengesan lalu dengan manjanya merengek.


"Opa, beli yang itu, Mommy Rara pasti suka, Rara mau kasih hadiah buat Mommy,"


"Buat Daddy juga," sahut Rein dan Rain mendekat.


"Baiklah, kalian tunggu dulu, Opa mau suruh karyawan bungkus dua jam tangan ini, kalian jangan kemana-mana, oke?" ucap Tuan Raka ingin bicara pada pemilik toko untuk mengulurkan waktu agar tiga anak ini tidak bertanya soal Rafa dan Manda.


"Baik, Opa."


Tuan Raka pun masuk menghampiri sang pemilik toko, dan meninggalkan ketiga cucunya. Awalnya Rein ingin ikut masuk, tapi dia seolah tahu jika kakeknya sedang menghindar.


"Kak Rein, apa Daddy sudah balas pesan kita?" tanya Rain berdiri di sampingnya. Rein menggelengkan kepala sambil memperlihatkan ponselnya.


"Daddy susah sekali dihubungi," jawab Rein mendengus.


"Coba kak Rein lacak," sahut Rara mengusulkan ide.


"Tidak bisa," ucap Rein gelengkan kepala lagi.


"Kenapa?" tanya Rara dan Rain serempak.


"Daddy susah untuk dilacak, lokasinya tidak terbaca olehku."


Rein memperlihatkan ke dua adiknya jika ponsel Rafa diluar jangkauannya.


"Duh, Rara kok jadi cemas ya, Rara takut nih," desis Rara memeluk lengan Rain. "Takut kenapa?" tanya Rain heran.


"Jamnya sudah dibungkus, sekarang ayo kita pulang ke rumah," ajak Tuan Raka membelai kepala tiga anak putranya.


"Opa," tahan Rara meraih tangan kakeknya.


"Ya, kenapa?"


"Opa, Rara sama Rein dan Rain mau pulang ke rumah, pasti Mommy dan Daddy sudah ada du rumah. Opa antar kita pulang ya," mohon Rara bersama dua saudaranya dengan imut.


"Hufft, tidak bisa. Kalian bertiga akan tinggal di rumah Opa sementara," tolak Tuan Raka.


"Kenapa?" tanya ketiganya terkejut.


"Karena orang tua kalian sedang keluar kota, kalian telah dititipkan ke Opa dan Oma," jawab Tuan Raka sedikit tidak tega harus menyembunyikan fakta Ibu mereka. Ketiganya makin terkejut, ini pertama kalinya mereka ditinggal tanpa diberitahu langsung.


"Kenapa keluar kota?" tanya ketiganya lagi dengan perasaan kecewa.


"Ada urusan bisnis, kalian suatu saat nanti akan tahu apa itu urusan bisnis, sekarang kita pulang." Tuan Raka menyuruh Bodyguardnya membawa mereka masuk ke mobil. Tuan Raka pun meletakkan sepasang jam tangan itu ke samping kursinya. Dia pun melaju pergi dari Mall sambil diikuti mobil bodyguardnya dari belakang.


_____


Seminggu telah berlalu, si kembar tidak dapat kabar selama itu. Mereka tetap tinggal di rumah Tuan Raka dan seolah-olah mereka sedang dikurung hingga menonton TV saja dilarang. Tapi rupanya, berkat dari gosip pelayan, mereka tahu bahwa Delsi telah meninggal dan disusul oleh Nyonya Marina yang shock hingga kena serangan jantung di penjara setelah tahu putrinya itu meninggal dunia.


Kini tinggal Tuan Damian yang masih hidup dibalik jeruji besi, dia menyesal, dia berharap kesalahannya dapat dimaafkan oleh Manda. Namun Tuan Damian tidak tahu jika putri keduanya itu sedang dalam kondisi kritis. Dimana kematian bisa datang kapan saja.


Triple R pun menyuruh Opa dan Oma mereka untuk datang mengunjungi pemakaman Delsi dan Nyonya Marina. Tentu saja, mereka pasti akan ditemani oleh Tuan Raka dan Nyonya Mira.


"Semoga kalian tenang di sana, Nenek, Bibi," harapan Rara yang mendoakan dua makam di depannya. Diikuti Rein dan Rain di sampingnya yang ikut serta mendoakan Delsi dan Nyonya Marina.


Setelah menghadiri pemakaman itu, ketiganya duduk di dalam mobil kemudian bertanya kepada Nenek mereka.


"Oma, apa yang telah terjadi sampai Bibi dan Nenek kami meninggal?" tanya ketiganya ingin tahu. Nyonya Mira tersenyum kecil, dia agak ragu-ragu menjawabnya.


"Itu telah takdir mereka," jawab Nyonya Mira apa adanya.


"Rara jadi kasihan sama mereka, Oma," ucap Rara menunduk merasa iba.


"Sudah ya, kita doakan saja buat mereka agar tenang di sana."


"Baik, Oma."


Mobil pun melaju meninggalkan pemakaman. Namun di tengah jalan, si kembar bertanya lagi ke Nyonya Mira hingga Tuan Raka sedikit terkejut.


"Oma, Opa, ini sudah seminggu, kenapa Daddy dan Mommy belum pulang juga?"


"Benar, Rain sudah rindu sama Daddy dan Mommy,"


"Oma, Rein juga. Bisakah Oma telepon Daddy?"


Ketiga anak itu bergantian menyahut.


"Ka-kalian sabar ya, mungkin bisnis di luar kota lagi melunjak naik," jawab Nyonya Mira tersenyum. Ketiganya pun menunduk lesu, ini yang mereka sedihkan, tidak dapat bersama orang tua mereka. Tidak lagi diantar oleh Mommy mereka, tidak ada lagi yang menasehati mereka. Rasanya ada yang hilang dilubuk hati si kembar.


Mommy...


_______